Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Jaga Image


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam lamanya, Wildan dan Lu akhirnya sampai di rumah. Namun karena di jalan tadi Lu meminum obat, Wildan memutuskan meminta bantuan para penjaga untuk membawa sang atasan masuk ke dalam rumah.


"Hati-hati!" ucap Wildan sambil membantu memegangi daun pintu agar tidak tertutup.


Karena terlalu panik, Wildan sampai lupa mengabari orang rumah kalau dia sudah sampai. Dan betapa terkejutnya dia melihat siapa yang tengah duduk di ruang tamu keluarga Anderson.


"Nona Briana?"


Briana sontak menoleh saat seseorang menyebut namanya. Dan dia langsung membelalakkan mata begitu melihat Lu yang sedang di papah oleh beberapa penjaga dengan kondisi mata terpejam. Entahlah, saat itu pikiran Briana luar biasa kalut. Di dalam pikirannya muncul bayangan-bayangan mengerikan di mana Lu sudah ... meninggal.


"Tidak mungkin!"


"Apanya yang tidak mungkin, Bri?" tanya Julia bingung. Dia yang sudah berdiri hendak menghampiri Wildan kembali duduk melihat Briana yang malah lemas dengan wajah pucat pasi. Khawatir masuk angin dadakan, Julia pun segera melakukan pemeriksaan dengan cara menabuh pelan perut Briana.


Bung bung bung


"Wahhh, bunyinya seperti buah nangka yang sudah masak. Kau kemasukan angin, Briana!" pekik Julia syok.


Rasanya ingin sekali Briana melubangi ubun-ubun Julia yang langsung menaikkan kaosnya ke atas tanpa melihat keadaan sekitar. Untung saja Erzan dan Tuan Dary sudah pergi ke sisi Lu. Kalau tidak, Briana bisa malu setengah mati gara-gara ulah sahabatnya ini.


"Bri, kau harus ....


"Minggir kau! Aku akan membuat perhitungan besar denganmu nanti setelah mengurus Lu. Huh!" sewot Briana kemudian bergegas berlari ke arah Lu yang kini sudah berganti dipapah oleh Erzan dan Wildan. Dia lalu menangkup wajahnya yang terlihat pucat tanpa menghiraukan keberadaan orang-orang yang ada di sana. "Lu, kau kenapa, Lu. Jangan mati sekarang!"


Erzan, dia membelalakkan mata mendengar perkataan Briana yang menganggap kalau kakaknya sudah mati. Sembarangan. Apa mata ninja warior ini tidak bisa membedakan mana manusia yang masih bernafas dan mana manusia yang sudah kehilangan nyawa? Heran.


"Nona Briana, Tuan Gavriel bukan mati. Tapi beliau hanya sedang tertidur karena pengaruh obat. Begitu," ucap Wildan dengan sabar memberitahu gadis ini tentang keadaan sang atasan. Dia cukup maklum akan kekhawatiran yang dirasakannya.


"Benarkah?" sahut Briana lega. Dia lalu menatap lekat wajah pria idiot yang hampir membuatnya gila selama beberapa minggu belakangan.


Syukurlah karena kau tidak jadi mati, Lu. Segeralah sadar agar aku bisa menuntut penjelasan tentang siapa wanita yang telah menjawab panggilanku. Kalau sampai wanita itu adalah wanita simpananmu, detik itu juga aku akan membuatmu kembali kehilangan ingatan kemudian menyekapmu di rumahku sampai kau tua. Mengerti kau?

__ADS_1


Andai saja ada yang mendengar isi pikiran Briana, semua orang pasti akan langsung menghela nafas pasrah. Tak lama setelahnya Wildan dibuat kaget saat Julia dengan tiba-tiba berdiri di sampingnya kemudian menyeka wajah dengan tisu.


"Kau pasti lelah sekali kan? Sini-sini, biar aku bantu menyeka keringat di wajahmu," ucap Julia dengan penuh perhatian.


"Julia, bisakah kau menjauh sedikit? Wildan bukan baru pulang dari berperang melawan penjajah, tapi dia baru saja keluar dari dalam mobil yang suhu dinginnya cukup membuat keringat mogok keluar. Jadi alasanmu untuk menyeka keringatnya sama sekali tidak masuk di akal. Mengerti?" tegur Erzan jengah melihat cara Julia memperhatikan Wildan. Entah mengapa dia merasa kesal sendiri.


"Ck, bilang saja kau iri!" celetuk Julia.


"Aku dengar ya, aku dengar,"


"Hehehee," ....


Karena teguran Erzan tidak mempan, terpaksa Brianalah yang harus turun tangan. Dia dengan cepat menjewer telinga Julia lalu meminta Wildan dan Erzan untuk segera membawa Lu istirahat di dalam kamar. Setelahnya Briana berkacak pinggang hendak memarahi sahabatnya yang menggatal tanpa tahu tempat.


"Bisa tidak kau jangan seagresif ini, Julia? Kau itu perempuan, setidaknya jagalah image sedikit di hadapan pria yang kau suka. Bukan malah langsung menempel seperti tadi. Kalau Wildan sampai merasa tidak nyaman bagaimana?"


"Namanya juga reflek, Bri. Lagipula yang meminta untuk melakukan semua itu bukan aku, tapi hatiku. Hatiku bilang kalau Wildan membutuhkan perhatian. Jadi ya sudah aku bantu menyeka keringatnya saja meskipun tidak ada," sahut Julia dengan alasan yang sangat tidak masuk akal.


Julia memicingkan mata. Dia lalu bersedekap tangan sambil menatap licik pada sahabatnya yang tengah mengusap wajah.


"Kau sendiri? Apa yang tadi kau lakukan saat melihat Lu? Kau bahkan tak ragu untuk menangkup wajahnya di hadapan semua orang. Apa itu yang di sebut menjaga image di hadapan pria yang kau suka, hem?" tanya Julia melayangkan teguran balik. "Sok-sok menceramahiku tapi sendirinya tak lebih baik dari orang yang di tegur. Cihhh!"


Skak mat. Briana langsung mati kutu mendengar sindiran Julia yang memang sangat benar sekali. Sambil menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal, dia meringis saja tanpa ada niat untuk membalas sindiran tersebut. Briana kalah telak.


"Meringis kau!"


"Hehehe, maaflah, Julia. Aku tidak sadar," ucap Briana malu-malu.


"Tidak sadar tidak sadar. Sekarang kau mengerti bukan kalau orang yang sedang jatuh cinta itu terkadang suka melakukan sesuatu yang diluar nalar? Dan itu semua terjadi atas keinginan hati, bukan dengan tujuan lain. Jadi lain kali kalau kau menegurku budidayakan dulu untuk berkaca agar tidak


malu. Paham?" sahut Julia seraya menepuk-nepuk puncak kepala Briana. Dia merasa bangga sekali karena bisa mengalahkan wanita ini dalam sekali serangan. Sungguh suatu rekor yang musti dicatat dalam buku sejarah hidupnya.

__ADS_1


"Yakin hanya karena keinginan hati? Bukan n*fsu, hem?"


"Ya sedikit campuran n*fsulah. Hehehe,"


"Tapi ngomong-ngomong wanita yang tadi menjawab panggilanku itu siapa ya Julia?" tanya Briana yang kembali terkenang dengan suara wanita yang berasal dari dalam ponsel Lu. Seketika darahnya mendidih.


"Mana aku tahu. Yang jelas itu bukan aku ya," jawab Julia asal.


"Yeee, kalau itu aku juga tahu. Kau ini!"


"Yakan siapa tahu kau berpikir kalau aku sedang open bo dan kebetulan Lu yang memesanku. Bisa saja 'kan?"


"Julia, apa kau pernah melihat orang mati karena menenggak racun tikus?" gertak Briana seraya menyeringai evil. "Kalau belum, mau tidak kau mencobanya?"


"Ah, hehehee. Em, Wildan pergi ke arah mana ya tadi?"


Beralasan, secepat kilat Julia tak lagi terlihat di hadapan Briana. Guru dari ilmu 21++ itu tahu benar kalau nyawanya sedang terancam, jadi menggunakan jurus seribu bayangan pergi melarikan diri


ke tempat yang jauh lebih aman. Yaitu Wildan, hehehe.


"Walaupun kau adalah sahabatku, aku tidak akan segan untuk menghajarmu kalau berani mendekati Lu. Sampai sekarang saja aku dan Lu masih belum saling cicip, seenaknya saja ingin open bo. Dasar sahabat laknat. Tega sekali mengincar pria yang di sukai oleh sahabatnya sendiri. Membuat orang jengkel saja!" gerutu Briana sambil berjalan menaiki anak tangga. Dia sama sekali tak menyadari kalau sejak tadi percakapan dan juga gerutuannya di dengan live oleh sepasang suami istri yang kini tengah menatapnya dengan pandangan yang ... errrggg, aneh.


"Dary, sebelum Briana menginterogasi Gavriel, sebaiknya kau tanyakan dulu pada Wildan tentang siapa wanita yang menjawab panggilan Briana. Aku takut sekali dia akan berbuat nekad pada putra kita nantinya!" ucap Helena gelisah.


"Jangan khawatir. Aku yakin wanita yang


menjawab panggilan Briana adalah orang yang telah menolong Gavriel. Jadi jangan berpikir yang macam-macam dulu ya. Putra kita adalah pria baik-baik, mustahil dia melakukan seperti apa yang di ucapkan oleh Julia. Oke?" sahut Dary dengan lembut menenangkan istrinya.


"Semoga saja Gavriel memang tidak melakukan hal yang seperti itu. Kalau benar terjadi, aku akan memilih pasrah membiarkan Briana ingin melakukan apa padanya. Hmm," ....


Open bo? Astaga. Memangnya Gavriel mau dengan wanita seperti Julia? Aku rasa sih tidak.

__ADS_1


***


__ADS_2