
Di bantu likenya ya
Biar makin semangat nulisnya
Mas devan sedikit meringis karena cengkraman tanganku yang samgat kuat pada tangannya
"Sayang sabar ya"
"Kenapa mas nangis? " tanyaku menahan sakit
"Mas gak tega liat kamu gini, apa kamu sesar aja? "
Aku hanya menggeleng karena masih sangat sakit
"Sayang mas harus bantu gimana? " tanyanya polos dengan air mata yang masih setia untuk mengalir
"Aku mau lahiran normal mas" pintaku
Mas devan kembali menangis dan mencium punggung tanganku
"Maaf sayang"
***
Sudah hampir 13 jam aku di rumah sakit namun dokter mengatakan belum saatnya akupun hanya menangis merasakan sakit, nyeri entahlah rasanya semuanya remuk
"Dokter harus berapa lama lagi istri saya bisa melahirkan? " marah mas devan
"Maaf tuan tapi nyonya sandya baru pembukaan tiga, belum bisa di lakukan proses persalinan"
"Memangnya harus sampai pembukaan berapa baru bisa di lakukan persalinan? "
__ADS_1
"Sampai pembukaan 10 tuan"
"Apaaaaa? Yang bener aja, kamu gak liat istri saya sampek kesakitan gitu haah? Sudah hampir sehari semalam baru pembukaan tiga lalu istri saya harus nunggu sampai kapan baru sampai pembukaan 10..? Kamu sudah bosan jadi dokter? " emosinya memarahi dokter
Wajah Dokter perempuan muda itu terlihat pias seketika mendengar ancaman mas devan, bagaimanapun ini adalah rumah sakit milik keluarga besar mas devan
"Maaas,,, udah kamu gak usah bikin aku makin pusing, ikuti aja apa kata dokter" marahku karena tidak tahan melihat sikap mas devan
"Dok, silahkan kembali urus pasien yang lain kami akan panggil dokter jika terjadi sesuatu"
terang mama yang langsung di angguki oleh dokter tersebut
***
Sudah sekitar 36 jam akhirnya proses persalinan pun berlangsung
"Devan, bisa duduk gak? Mama pusing ini liat kamu mondar mandir"
"Kalau kamu nemenin dya lahiran yang ada kamu bakal ngancem dokter yang kerja, yang ada makin lama dan ribet"
Dokterpun keluar dari ruangan tersebut dengan membawa seorang bayi kecil
"Tuan, nyonya kami bawa dulu bayinya untuk di bersihkan. Nyonya sandya sudah bisa di jenguk"
"Makasih dok"ucap mama tulus
Mas devan lansung berlari menghampiriku
"Sayang,, sayang apa yang kamu rasain? "
"Lemes" jawabku lemah
__ADS_1
"Gak apa sayang, kamu istirahat aja dulu ya" usap mama lembut di keningku
"Mas, aku laper" karena memang sedari merasakan kontraksi aku belum makan apapun dan sekarang benar-benar lapar yang ku rasakan
"Mas suapi bubur ya, mau? "
Aku hanya mengangguk lemah dan tak berapa lama setelah selesai makan masuk seorang suster dengan membawa box baby
"Tuan nyonya ini bayinya silahkan"
Dengan menyerahkan bayi kepada mas devan
Aku tersenyum melihat mas devan yang menangis sesaat setelah mengendong bayi kami dan langsung mas devan mengadzhani nya
"Mas, bayi kita laki-laki apa perempuan? " tanyaku
"Haa? Iya mas gak tau anak kita laki-laki atau perempuan" jawabnya polos
Mama dan suster seketika tertawa melihat sikap mas devan
"Bayi tuan dan nyonya laki-laki" sambung suster yang tadi membawa bayi kami
"Saya tinggal dulu nyonya, kalau butuh apa apa bisa panggil saya"
Susterpun berlalu meninggalkan ruangan
"Mas kamu kasih nama apa jagoan kita? "
Mas devan terlihat berpikir sejenak lalu
"Hm nama jagoan kita.........
__ADS_1