
Bagaimana kalau mas devan tau tentang kehamilan ini?
Apa dia akan memaksaku untuk menggugurkannya?
Aku terus memikirkan kemungkinan kemungkinan buruk yang akan terjadi
Kamu tidak pantas mengandung apa lagi melahirkan anakku, hanya Angel yang pantas
Kalimat yang pernah mas devan katakan padaku malam itu terus terngiang ngiang di telingaku, kejadian pahit itu kembali teringat olehku
Enggak enggak boleh, mas devan atau keluarga yang lain enggak boleh tau kalau enggak anakku akan berada dalam bahaya
Aku tidak menyadari bahwa rian sudah keluar dari kamar inap ini sejak tadi, aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri
Karena terlalu lelah akhirnya aku tertidur dengan masih memendam kesedihan
***
Aku terbangun dari tidur indahku karena sinar matahari yang menerobos jendela kamar inapku
"Selamat pagi"
"Pagi, kamu koq pagi sekali datangnya? "
"Aku menginap disini"
"Haaa? Maaf sudah merepotkan" ucapku sedih
"Santai aja kaliii, oh iya semalem aku ke jembatan tempat kita ketemu rencana aku mau suruh orang buat geret mobilmu bawa kesini tapi ternyata sudah ada yang bawa pulang "
"Haaa? Siapa? "
__ADS_1
"Kata polisi orang itu mengaku suami pemilik mobil itu"
Aku kaget bagaimana bisa mas devan bisa tau mobilku disana, apa mungkin polisi menelfon nomer yang terdaftar atas mobil itu? Tapi kan yang terdaftar nomer telefonku
"Sa,, saa" panggilan rian mengagetkanku
"Eh.. Iya kenapa? "
"Apa aku perlu cari tau siapa yang bawa mobil kamu? " tanyanya ulang
" enggak perlu, biarin aja. Aku jadi pulang sekarang kan? "
"Iya, kamu siap-siap ya aku urus pembayarannya dulu"
"Rian makasih ya, nanti aku segera ganti uang kamu. Dompetku ada di mobil soalnya"
"Iyaa tenang aja"
tapi seketika aku terhenti begitu mengingat harus kemana aku pergi? Aku enggak punya tempat tinggal di jakarta, teman cuma monic tapi aku takut monic ngasih tau steve dan steve malah laporan ke mas devan
"Sa ayooo" ajak rian yang sudah berdiri di ambang pintu
"Eh iya tunggu"
Aku dan rian berjalan beriringan di koridor rumah sakit, sesekali rian melirikku yang sedang melamun
"Sa ayo masuk"
"Eh iya, maaf ya aku dari tadi gak konsen"
"Iya, sa kamu itu enggak boleh banyak pikiran inget kata dokter"
__ADS_1
Aku tersenyun dan mengangguk, benar aku enggak boleh banyak pikiran
sekarang yang harus aku pikirin adalah kandunganku
"Sa alamat rumah kamu dimana? " tanya rian padaku
"Hmm ak,, aku,,, "
"Saa, kenapa? Kamu jujur sama aku"
"Aku enggak tau harus kemana"
Terlihat raut wajah bingung dari rian aku mengerti apa yang di pikirkan rian saat ini
tapi jujur aku juga bingung harus kemana
"Hm ya udah gimana kalau kamu tinggal di apartemenku dulu, kebetulan apartemenku kosong"
"iya, makasih ya maaf udah ngerepotin kamu terus"
Rian hanya tersenyum kepadaku
Sekitar 25 menit kami sampai di apartemen milik rian
rian hanya memberikan kode apartemennya setelahnya rian pergi meninggalkan ku sendiri
Rasanya begitu tenang, yaah mungkin aku memang cocok hidup sendiri
tidak ada lagi yang akan terus menyakiti hatiku, tidak ada lagi yang akan membuatku menangis terus menerus
Sayang, kamu mau kan hidup berdua dengan mama? Hanya kita berdua
__ADS_1
Ucapku dengan terus mengelus perutku yang masih rata