Adakah Sedikit Cinta Untukku

Adakah Sedikit Cinta Untukku
Episode 75


__ADS_3

Bagaimana kalau mas devan tau tentang kehamilan ini?


Apa dia akan memaksaku untuk menggugurkannya?


Aku terus memikirkan kemungkinan kemungkinan buruk yang akan terjadi


Kamu tidak pantas mengandung apa lagi melahirkan anakku, hanya Angel yang pantas


Kalimat yang pernah mas devan katakan padaku malam itu terus terngiang ngiang di telingaku, kejadian pahit itu kembali teringat olehku


Enggak enggak boleh, mas devan atau keluarga yang lain enggak boleh tau kalau enggak anakku akan berada dalam bahaya


Aku tidak menyadari bahwa rian sudah keluar dari kamar inap ini sejak tadi, aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri


Karena terlalu lelah akhirnya aku tertidur dengan masih memendam kesedihan


***


Aku terbangun dari tidur indahku karena sinar matahari yang menerobos jendela kamar inapku


"Selamat pagi"


"Pagi, kamu koq pagi sekali datangnya? "


"Aku menginap disini"


"Haaa? Maaf sudah merepotkan" ucapku sedih


"Santai aja kaliii, oh iya semalem aku ke jembatan tempat kita ketemu rencana aku mau suruh orang buat geret mobilmu bawa kesini tapi ternyata sudah ada yang bawa pulang "


"Haaa? Siapa? "

__ADS_1


"Kata polisi orang itu mengaku suami pemilik mobil itu"


Aku kaget bagaimana bisa mas devan bisa tau mobilku disana, apa mungkin polisi menelfon nomer yang terdaftar atas mobil itu? Tapi kan yang terdaftar nomer telefonku


"Sa,, saa" panggilan rian mengagetkanku


"Eh.. Iya kenapa? "


"Apa aku perlu cari tau siapa yang bawa mobil kamu? " tanyanya ulang


" enggak perlu, biarin aja. Aku jadi pulang sekarang kan? "


"Iya, kamu siap-siap ya aku urus pembayarannya dulu"


"Rian makasih ya, nanti aku segera ganti uang kamu. Dompetku ada di mobil soalnya"


"Iyaa tenang aja"


tapi seketika aku terhenti begitu mengingat harus kemana aku pergi? Aku enggak punya tempat tinggal di jakarta, teman cuma monic tapi aku takut monic ngasih tau steve dan steve malah laporan ke mas devan


"Sa ayooo" ajak rian yang sudah berdiri di ambang pintu


"Eh iya tunggu"


Aku dan rian berjalan beriringan di koridor rumah sakit, sesekali rian melirikku yang sedang melamun


"Sa ayo masuk"


"Eh iya, maaf ya aku dari tadi gak konsen"


"Iya, sa kamu itu enggak boleh banyak pikiran inget kata dokter"

__ADS_1


Aku tersenyun dan mengangguk, benar aku enggak boleh banyak pikiran


sekarang yang harus aku pikirin adalah kandunganku


"Sa alamat rumah kamu dimana? " tanya rian padaku


"Hmm ak,, aku,,, "


"Saa, kenapa? Kamu jujur sama aku"


"Aku enggak tau harus kemana"


Terlihat raut wajah bingung dari rian aku mengerti apa yang di pikirkan rian saat ini


tapi jujur aku juga bingung harus kemana


"Hm ya udah gimana kalau kamu tinggal di apartemenku dulu, kebetulan apartemenku kosong"


"iya, makasih ya maaf udah ngerepotin kamu terus"


Rian hanya tersenyum kepadaku


Sekitar 25 menit kami sampai di apartemen milik rian


rian hanya memberikan kode apartemennya setelahnya rian pergi meninggalkan ku sendiri


Rasanya begitu tenang, yaah mungkin aku memang cocok hidup sendiri


tidak ada lagi yang akan terus menyakiti hatiku, tidak ada lagi yang akan membuatku menangis terus menerus


Sayang, kamu mau kan hidup berdua dengan mama? Hanya kita berdua

__ADS_1


Ucapku dengan terus mengelus perutku yang masih rata


__ADS_2