
sedangkan mas devan merangkulku lembut dan berbisik
"Kamu sudah mulai nakal ya" bisiknya padaku
"Maksudnya apa mas? " tanyaku pura-pura
"Sayang mas tau kamu itu tadi akting, hmmm ya udah sekarang kamu mau kemana? "
"Mau pulang aja mas, capek" ucapku manja
***
"Bams, Ray mana? " tanyaku melihat bams yang sedang duduk santai
"Tuan muda lagi di ruang baca nyonya" jawabnya segera ku menghampiri Ray di ruang baca dan terlihat ia yang sangat serius sekali
"Sayang" panggilku dan Ray otomatis mengalihkan pandanganya padaku
"Maa, sudah pulang? " tanyanya
"Iya, koq kamu belum tidur? Ini sudah jam berapa? "
"Oh iya ma, Ray lupa" segera ray menutup bukunya dan menyimpannya di rak buku
"Ya sudah Ray tidur ya ma, selamat malam" pamitnya
"Selamat malam sayang"
__ADS_1
***
Ting tong ting tong
"Siapa yang bertamu sepagi ini? " tanyaku pada mas devan yang hanya di balas dengan gerakan bahu namun bi inah langsung berlari hendak membukakan pintu
"Nyonya maaf, ada tamu mencari nyonya" jelas bi inah
"Siapa bi..? " tanya mas devan sedangkan bibi hanya diam menatapku dan kembali menatap mas devan
"Ya udah mas ayo temui tamunya bareng aku" ajakku
Sesampainya di ruang tamu aku dan mas devan sedikit kaget melihat tamu yang tak di duga sudah duduk manis di sofa berwarna abu itu
"KAMU.. ? " tunjuk mas devan
"Hi saa, apakabar? " tanyanya
"Ayo laaah,,,, begini cara kamu menyambut teman lamamu ini? " tanyanya
Apa? Teman? Sejak kapan? Koq mas devan gak pernah ngomong apa-apa?
"Sayang, kamu masuk ke kamar" pintanya padaku
"Bams tolong ajak Ray ke ruang belajar"
Aku pun pergi meninggalkan mereka berdua di ruang tamu
__ADS_1
"Bi, tolong antar minuman ke ruang tamu ya" pintaku yang tak sengaja berpapasan dengan bi inah di tangga
"Baik nyonya"
Akupun melanjutkan langkahku menuju kamar, sebenarnya aku cukup penasaran dengan sikap yang mas devan tunjukkan tadi tapi mungkin belum waktunya untuk menanyakannya saat ini
Sudah hampir 20 menit, tapi mas devan belum juga kembali atau mas devan lansung berangkat ke kantor?
Tapi mobil ardi masih terparkir di halaman rumah, lalu kenapa lama sekali?
Dengan masih banyak pertanyaan yang melayang di otakku tiba-tiba terdengar suara pintu yang di buka membuatku otomatis mengarahkan pandanganku
"Mas? " panggilku karena mas devan terlihat sangat lesu dan segera mas devan memeluk tubuhku erat
"Ada apa? " tanyaku lembut sembari mengelus lembut punggungnya namun tidak ada respon apapun yang ada mas devan semakin mengeratkan pelukannya
"Maas"
"Jangan tinggalin mas" pintanya tiba tiba sedangkan aku hanya diam
"Mas gak bisa hidup tanpa kamu, tanpa Ray.. Kalau kalian pergi lebih baik mas mati" tuturnya yang membuatku melepas paksa pelukan mas devan dan memintanya duduk di sisi ranjang
Ku tangkup wajahnya agar bola mata kami saling menatap satu sama lain, terlihat sebuah kecemasan disana yang membuatku bingung sekaligus kasihan
"Mas,,, apa mas mencintaiku? " tanyaku
"Sangaat" tegasnya segera ku turunkan tangaku menuju dadanya
__ADS_1
"Selama disini masih ada namaku, aku gak akan pernah ninggalin mas" tunjukku pada dadanya
"Dan jangan pernah buat aku kecewa, jangan pernah buat aku sakit maka aku akan selalu disisimu" tegasku kembali yang membuat mas devan kembali memelukku