
Mas devan pergi begitu saja tanpa milihat ke belakang, aku tetap memberikan senyumku padanya meski sejujurnya hatiku seperti tercabik-cabik.
Aku segera masuk dan menuju ke belakang, tepatnya tempat mesin cuci yang ternyata belum selesai.
"Nyonya biar bibik saja yang jemur nanti, nyonya tidak usah nungguin disini "
"Hmm iya makasih ya bik"
Aku pun segera pergi, aku bingung harus ngapain di rumah ini. Aku memutuskan untuk melihat lihat bagian-bagian rumah dan halamannya hingga sampai ke sebuah lahan kosong belakang rumah
"Hmm kenapa ini di biarin kosong sih? Kan sayang"
Sebelum beranjak pergi tiba-tiba aku memikirkan sesuatu yang membuatku tersenyum
"Biik,, bibiik"
Panggilku di mencari di dapur
" iya nyonya"
"Bik, mas devan punya tukang kebun enggak "
"Ada nyonya tapi datangnya seminggu sekali"
"Kalau saya suruh kesini sekarang mau enggak ya? " tanyaku dengan mata penuh harap
"Kayaknya sih mau nyonya, coba saya hubungi dulu ya"
"Iya, makasih ya bik"
Setelah 1 jam menunggu akhirnya tukang kebun yang di telefon bik inah pun datang
__ADS_1
"Maaf nyonya ini tukang kebunnya"
"Oh iya makasih bik, silahkan duduk pak" ternyata masih muda, ya sekitar 38 tahunan umur tukang kebunnya
" eh iya makasih nyonya" ucapnya sambik duduk di lantai
"Looh koq duduk di bawah, duduk di kursi aja pak"
" eh.. Em iya nyonya"
"Bapak namanya siapa? "
"Nama saya asep nyonya"
"Hm gini, pak asep punya pengalaman buat taman enggak? kira-kira yang kayak gini pak " dengan menunjukkan sebuah foto dari internet
"Ok kalau begitu tong di urus semuanya ya pak, saya mau halaman belakang jadi kayak gini, nanti soal biayanya bapak info saya saja"
" baik nyonya, kalau begitu saya pamit dulu mau cari bunga sekalian panggil teman kerja yang lain supaya cepat selesai"
"Oh iya baik pak"
***
2 hari kemudian taman yang aku inginkan akhirnya selesai
Aku memberikan sejumlah uang untuk pak asep dan teman-temannya yang lain
Pukul 3 sore aku memutuskan untuk duduk santai membaca buku di taman baru di belakang rumah di temani secangkir teh
__ADS_1
Aaah nikmatnya, sejuuuuk
Ucapku dengan memandangi bunga-bunga yang sangat indah
Sudah cukup lama aku duduk disini tapi rasanya enggan untuk pergi karena disini begitu indah
" SANDYAAAA "
Teriakan itu membuatku kaget sampai buku yang aku pegang terjatuh, aku melihat mas devan berdiri di ambang pintu dengan wajah yang sudah memerah karena marah
Apa mas devan marah karena aku tidak menyambutnya pulang kerja?
Mas devan berjalan setengah berlari ke arahku, dia membanting meja dan kursi yang tadi aku duduki
bukan hanya itu bahkan mas devan menghancurkan semua bunga yang baru tadi pagi di tanam
Aku mencoba menghentikannya tapi tidak bisa, mas devan seperti orang yang kesurupan
" mass stop,, maaas stoop"
" KAMUUU, apa hak mu mengubah halaman ini menjadi taman? " mas devan marah bahkan tangannya kini sudah mencengkram rahangku
"Le,, pas sa,, sakit mas"
"Kamuuu berani sekali mengobrak abrik rumahku, kamu hanya wanita m*****n kamu tidak punya hak apapun di rumah ini, nyonya rumah ini hanya Angel dan hanya Angel yang boleh merubah apapun di rumah ini"
Mas devan mendorongku sampai tubuhku terduduk di rerumputan
Sakit sekaliiii
Jangan lupa like nya
__ADS_1