
Hari ini adalah hari terakhir kami berada di pulau dewata ini, mas devan mengajakku jalan jalan awalnya mama melarangku dan mas devan untuk membawa Ray tapi aku tetap saja khawatir kalau nanti Ray akan menangis
Kami menuju ke sebuah pusat perbelanjaan di area kuta karena nantinya aku ingin mengajak Ray bermain pasir di pantai kuta
"Mas, aku ke toilet dulu ya" ucapku dengan menyerahkan Ray pada mas devan
Langsung ku langkahkan kaki menuju toilet, begitu keluar dari toilet tanpa sengaja mataku menangkap dua sosok perempuan yang tak asing
"Kamuuu" dengan sedikit nada bicara yang kaget
"Kamu ngapain disini? " tanyanya mbak laras yang membuatku tergelak
"Hi mbak dewi, mbak laras" senyumku mengejek
"Jangan sok akrab gitu" sindir mbak dewi
"Haha siapa yang sok akrab? Kan kalian yang sapa saya duluan? " ejekku
"Kamu kenapa bisa disini hah? " kini mbak dewi yang membentak
__ADS_1
"Maaf ya mbak mbak sekalian, ini itu tempat umum, saya ulangi lagi tempat U M U M jadi siapa saja bebas kesini dan lagi urusan saya disini itu tidak ada hubungannya dengan kalian"
"Berani sekali kamu"
"Haa? Lalu apa yang harus saya takutkan? Kaliaan? Saya tidak pernah takut kepada kalian dulu itu saya hanya menghormati kalian yang lebih tua" jelasku dengan melipat tangan di dada
"Mentang mentang sudah nikah dengan orang kaya kamu jadi sombong yaa" sindir mbak laras
"Memang kenapa? Oh iya saya denger mbak laras sudah di pecat ya di bandara? Kasian banget, kenapa di pecat? Ketauan korupsi apa ketauan fitnah orang" ejekku dengan senyum menyindir
"Lancang sekali kamu" bentaknya padaku
"Oh mbak dewi nikah koq aku gak di undang, ku kan jadi sedih" dengan raut wajah yang dibuat buat akan menangis
"BERHENTIII"
Seketika sunyi tidak ada yang berani angkat bicara bahkan tangan mbak dewi masih mematung di udara, ternyata mas devan datang bersama pak bagas
"Berani kamu menyentuh istri saya, saya jamin hidup kamu tidak akan bisa tenang" ancamnya yang membuat mbak dewi sedikit terhenyak dari lamunannya
__ADS_1
"Pak bagas, saya menghormati anda karena dulu anda adalah atasan istri saya tapi jangan mengira saya tidak tau hubungan anda dengan istri saya dulu, tolong anda nasehati istri anda ini sebelum saya yang turun tangan" jelasnya dengan intonasi yang menekan membuat orang yang mendengarnya bergidik ngeri
Mas devan sudah tau?
"Dan kamu, apa kamu juga mau di keluarkan dari pekerjaanmu yang sekarang? Jangan coba coba menyakiti istriku" tunjuknya ada mbak laras yang membuat mbak laras terpundur dari tempatnya berdiri
Tanpa mendengarkan pembelaan mereka lagi mas devan buru buru membawaku pergi dari sana dan akupun mencoba menenangkan Ray yang sudah menangis sejak mendengar bentakan mas devan tadi
Mas devan hendak membawa kami pulang tapi aku memintanya untuk membawa kami ke pantai kuta, untuk menenangkan emosinya tadi
sejak kejadian tadi kami hanya diam tanpa tanpa sepatah katapun hanya tangisan Ray yang terdengar
Kami duduk di hamparan pasir dengan tiupan angin yang kencang sedangkan Ray sudah asik bermain pasir
"Mas"
"Hmm"
"Sabaaar"
__ADS_1
"....... "
"Kamu masih marah? " tanyaku dengan menglihkan pandangan mas devan untuk menatap mataku