
"Sayaang bangun dong"
"Hmm bentar ya 5 menit"
"Mas cepet dong bangun, katanya mau main sama Ray"
Mas devan membuka matanya dan langsung tersenyum yang menurutku ada maksud di balik senyuman itu dan seketika membuatku bergidik ngeri
"Tapi mas maunya main sama istri mas dulu" ucapnya dengan masih nyengir tak jelas
"Ya ampun mas, kamu itu ya" pukulku di lengannya
"Ya udah kalau istri mas gak mau main mas tidur aja deh lagi"
"Huuh ya udah kalau masih mau tidur" ucapku cuek dan berniat meninggalkan mas devan sendiri
Tapi baru hendak berdiri mas devan menarikku sehingga aku terpental ke tempat tidur
"Eh eh,, mas ngapain angkat aku? " tanyaku saat mas devan mengangkat tubuhku
"Kita mandi bareng sayang" ucapnya menyeringai
"Apaaa, aku udah mandi mas" pukulku kecil di dada mas devan
Mas devan tak menghiraukan ucapanku sama sekali dan terus membawa ku masuk ke dalam kamar mandi dan acara mandi yang bukan hanya mandi biasa pun berlangsung selama satu jam setengah
Aku keluar kamar mandi dan langsung duduk di depan meja rias mengeringkan rambut sedangkan mas devan mengikutiku dari belakang dan terus menerus memperlihatkan senyumannya itu
__ADS_1
Mas devan mengambil alih hair dryer dari tanganku dan mulai mengeringkan rambutku dengan senyum yang masih mengambang di wajahnya
tok tok tok
"Biar mas yang buka sayang" ucapnya dengan berjalan menuju ke arah pintu
"Tuan maaf tuan muda Ray nangis sepertinya lapar" suara mbak rani yang masih dapat ku dengar jelas
"Sini"
Ku lihat mas devan sudah kembali menutup pintu kamar dan menggendong Ray
"Sini sayang sama mama, kamu laper yaa? "
Mas devan pun menyerahkan Ray padaku dan mulai ku berikan asi padanya
"Iya"
"Sini duduk" pintaku menepuk ranjang di sebelahku duduk
"hmm kenapa? " tanyanya dengan wajah sudah berada di pundakku
"Sayang, sebenernya seminggu yang lalu aku manggil dokter ke rumah"
"Apa? Kenapa? Kamu sakit? Apa Ray? " sikap mas devan yang langsung berubah panik membuatku geleng geleng kepala
"Bukaan"
__ADS_1
Mas devan mengernyitkan dahinya pertanda bertanya tentang maksud ucapanku
"aku suntik kotrasepsi mas"
"owh gitu, iya gak apa apa sayang lagian aku belum pengen kamu hamil lagi apalagi Ray masih kecil, kalau ingat saat kamu lahiran dulu rasanya mas gak mau kamu hamil lagi tapi kasian juga Ray kalau sendirian gak punya sodara buat main"
"Hmm iya mas, makasih udah ngertiin aku"
"Iya sayang, oh iya kamu tau enggak" tanyanya menggantung
"Apa? "
"Tadi yang di kamar mandi tuh enak banget, kamu masih aja sempit"
Seketika wajahku memerah dan langsung ku pukul paha mas devan dan membuatnya sedikit meringis
"Beneran sayang, ya meskipun gak se sempit saat pertama tapi masih tetep enak koq"
"Mas mending keluar deh, ngeselin banget" ucapku dengan memukulnya kembali
"Iya iya deh maaf,, jagoan papa koq gak mau berenti sih minumnya, enak ya? Papa boleh minta gak? " senyumnya dengan menyentuh pay****a ku yang langsung mendapat tatapan maut dariku
Seketika mas devan tertawa dan melenggang pergi meninggalkan kami di dalam kamar
benar benar sikapnya, sudah menjadi seorang ayah tapi sikapnya malah semakin mirip anak kecil
Jangan Lupa like nya ya readerss ku yang baik
__ADS_1
Makasih