
"Steve, jadi teman yang kamu ceritain tadi ke aku itu mas devan? "
Steve hanya diam dan mas devan terlihat bingung dengan pertanyaanku.
aku tersenyum getir mengingat kalimat setiap kalimat yang steve katakan padaku di cafe
Hahaha ternyata selama ini mas devan hanya menjadikanku alat pemuas nafsunya yang tidak lain dia menganggapku seperti p*****r
Bodoh,,, benar benar bodoh
selama ini aku berharap mas devan akan berubah, aku terlalu menutup mata dan hati untuk sikap mas devan sehingga aku tidak bisa mengartikan sikapnya selama ini padaku
Aku melewati steve yang masih mematung dan mengabaikan panggilan mas devan, hatiku benar-benar sakit
Aku kemudikan mobilku dengan kecepatan tinggi bahkan aku sudah tidak memperdulikan jika aku harus mati dalam kecelakaan, aku benar benar putus asa
Mobilku terhenti di sebuah jembatan yang sepi, aku berdiri menempelkan tubuhku pada pembatas jembatan
ku tatap lekat pantulan bulan di air, pikiranku benar benar kosong
"JANGAAAANNN"
"Mbak jangan lompat mbak, semua bisa di selesaikan mbak harus yakin dan percaya Allah selalu akan membantu hambanya. Mbak enggak boleh bunuh diri, mundur mbak"
Aku hanya diam memperhatikan orang itu, apa maksdunya?
"Mbak please jangan bunuh diri, itu sangat tidak baik"
__ADS_1
"Siapa yang mau bunuh diri? " tanyaku bingung
"Loh mbaknya bukannya mau bunuh diri ya? "
"Aneeh"
Segera ku berjalan menuju mobilku dengan rencana akan pergi ke rumah monic tapi tiba-tiba kepalaku terasa begitu sakit dan seketika semuanya menjadi gelap
***
Kepalaku sakit sekali
ini dimana? Rumah sakit? Kenapa aku disini?
Berbagai pertanyaan muncul di otakku tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan seorang pria masuk
"Sudah sadar? " tanya pria itu padaku
"Kamu tadi pingsan di jembatan" dengan menarik kursi dan duduk di sebelah tempat tidurku
"Terimakasih sudah bawa saya kesini" mungkin aku terlalu capek nangis sampek pingsan pikirku
"Tidak usah terlalu formal gitu, namaku Rian kamu? "
"Sandya"
"Oh iya ini Hp kamu, tadi aku ambil di dalem mobil kamu siapa tau kamu mau hubungi keluarga mu" dengan menyerahkan Hp ku
__ADS_1
Haaah keluarga?
Aku membuang nafas kasar pertanda aku lelah, mendengar kata keluarga entah kenapa rasanya sangat sakit di hati bahkan rasanya tenggorokanku seperti tercekat
"Enggak perlu, keluargaku ada di kampung" senyumku masam
"haah? Keluarga yang disini? " dengan wajah yang bingung
"Kenapa? Oh iya aku mau pulang sekarang makasih atas bantuannya"
"Kamu belum boleh pulang" larangnya padaku
"Aku udah enggak apa-apa koq, aku udah sehat aku pulang sekarang aja" pintaku sambil menurunkan kakiku
"Enggak bisa dokter bilang kamu harus istirahat besok baru bisa pulang"
"Tapi aku udah enggak kenapa napa, kamu liat kan aku udah sehat" bantahku lagi karena merasa kesal
"Tapi kandungan kamu lemaah kamu harus istirahat" bentaknya padaku yang sudah turun dari tempat tidur
Seketika tubuhku rasanya membeku, tenggorokanku seperti ada yang mengganjal, dadaku terasa sakit, kakiku seperti jelly yang membuatku terjatuh untung rian segera menangkap tubuhku
Rian mengangkat tubuhku dan meletakkan kembali di atas tempat tidur aku merasa sangat senang akan kehadiran janin ini tapi di sisi lain aku merasa sedih
Bagaimana kalau mas devan tau tentang kehamilan ini?
Apa dia..?????
__ADS_1
Di bantu dukungannya
Like jangan lupa ya