
"Mungkin efek hamil kak" belaku kembali
"Hmm baru nikah dulu dia juga cemburunya sama"
"Mm masak sih kak? " tanyaku penasaran
"Iya, kamu tau dulu sebulan setelah nikah masak dia cemburu sama yang jualan bakso depan komplek rumah padahal ibu udah berumur, lagi juga dia pernah cemburu sama pengemis tua cuma karena aku kasih dia minum waktu lewat depan rumah" jelasnya yang membuatku menepuk keningku
Haduuuuh, bingung kalau cemburunya tingkat dewa gini
Pikirku
"Dulu waktu pacaran emang gak cemburuan? " tanyaku
"Cemburu tapi gak separah setelah menikah"
"Kakak udah pernah tanyain kenapa bisa cemburunya makin parah? " tanyaku
"Pernah, waktu dia cemburu sama pengemis kakak tanyain"
"Lalu? "
"Dia cuma bilang gak suka liat aku deket sama perempuan manapun" jelasnya lagi
"Haaaa,, wah bahaya" teriakku
"Kenapa? " tanya kak Refan kaget
"Kakak jauh jauh giih,,, entar dia liat kita bisa di kira macem macem" jelasku tertawa
"Saa jangan gitu dong" ucapnya dengan raut cemberut
"Ya habisnyaa,,, pokoknya aku gak tanggung jawab ya kalau istri kakak cemburu" ucapku
Kriing kriing
__ADS_1
Mas Devan Calling
"Halo sayang" sapaku
"Sayang lagi dimana? "
"Di taman baru di kompleks"
"Sama siapa? "
" sama monic, anak anak, sama kak Refan juga" jelasku
"Refan? "
"Iya, sekarang kak Refan tinggal di jakarta sama ISTRINYA" tekanku pada kalimat terakhir agar Mas Devan tidak cemburu
"Owwh,, ya udah tunggu mas disana"
"Iya mas" jawabku dan panggilan telefon pun berakhir
"Sayaang" panggilnya
"Mas sudah datang? " sapaku dan mas devan langsung mendaratkan ciuman di pipi yang menandakan ada sedikit gelagat cemburu
"Anak anak mana? " tanyanya
"Itu lagi main" tunjukku pada ketiga anak kecil yang tiba tiba akur itu
"Hi van apa kabar? " sapa kak refan dengan menjulurkan tangannya
"Baik, kamu? " tanya balik mas Devan yang pasti sudah membalas uluran tangan kak Refan
"Yaa seperti yang kamu lihat"
"Istrimu mana? " tampak mas Devan celingak celinguk mencari sosok yang mungkin istri kak Refan
__ADS_1
"Dia gak ikut, lagi hamil"
"Oh ya? Sudah berapa bulan? " tanya mas Devan yang kini di barengi senyuman
"Sudah jalan 5 bulan"
"Waah selamat yaa, kapan kapan main ke rumah sekalian ajak istrimu" ajak mas devan yang membuatku mengernyitkan dahi
"Tentu, ya udah kalau gitu aku pamit pulang duluan ya takut yang di rumah nyari" cengirnya pada kami
"Iya hati hati kak" ucapku yang membuat mas devan tiba tiba mengeratkan pelukan tangannya di pinggangku
***
"Sayang koq tiba tiba ketemu Refan di taman? " tanya mas Devan yang sedang mengetik di laptopnya
"Hm iya kebetulan, padahal katanya kak refan udah lama tinggal di jakarta" ucapku
"Hmm istrinya orang mana? "
"Gak tau mas aku gak nanya tadi, apa aku perlu tanyain? "
"Eh enggak usah,, ngapain juga kamu nanya istrinya asli mana? "
"Laah kan tadi mas yang tanya? " tuturku kembali namun mas devan hanya membuang nafas kasar
"Ya udah ayo tidur udah malem" ucapnya menyimpan laptop di atas nakas sebelah tempat tidur
***
"keluar kamuu perempuan si**an,, jangan sembunyi, apa kamu takut haahhh? "
Takut lah kalau tiba tiba di teriaki gitu?
Takut budeg
__ADS_1