
" i,, iya ma,, tapi,, dya juga gak mau maksa mas devan untuk mencintai dya" jawabku menahan isak tangis
"Tapi sayang... "
"Ma, dya mohon maafin dya tapi mungkin ini jalan terbaik untuk kami"
Mama hanya diam dan terlihat raut kecewa di wajahnya
"Ma, dya minta tolong jangan hapus nama mas devan dari ahli waris keluarga dan juga tolong jangan ancam mas devan lagi,,, dya enggak mau mas devan memaksakan apa yang tidak mas devan inginkan"
Mohonku dengan air mata yang tak mau berhenti mengalir
Mama hanya mengangguk menyutujui
"Sayang, mama akan dukung apapun keputusan kamu tapi bisakan kamu tinggal disini selama menunggu masa kelahiran cucu mama ini" pintanya dengan mengelus perutku
Aku hanya mengangguk dan seketika memeluk mama dan rasanya masih sama, begitu hangat seperti pertama kali mama memelukku
***
__ADS_1
Hari sudah sore, aku hanya duduk di halaman belakang rumah mama di temani secangkir teh dan sebuah buku cerita
Tak berapa lama terdengar suara bising dari dalam rumah yang membuatku risih namun ku coba untuk mendengar lebih jelas suara siapa itu
Sepertiii suara mas devan, apa dia kemari mencariku?
Aku berjalan mendekat ke arah suara untuk mendengar lebih jelas apakah dugaanku benar atau tidak
“Maa, devan mohon ma kasih tau devan dimana istri devan ma.. Mama pasti nyembunyiin sandya kan? Mobil sandya ada di depan jadi sandya pasti ada disini”
“cukup devan, mama sudah katakan berulang kali kalau tadi sandya kesini untuk meminta restu mama agar mama setuju mengenai perceraian kalian dan dya juga menitipkan mobil itu agar mama mengembalikannya ke kamu” bentak mama pada mas devan
Tadi sebelum menginyakan permintaan mama untuk tinggal disini memang aku meminta agar mama tidak memberitau keberadaanku kepada mas devan
Kembali ku dengar suara mas devan yang sedikit bergetar mungkin ia sedang menangis
“tentu saja mama setuju, bahkan mungkin kata maaf dari mama tidak cukup untuk menyembuhkan sakit di hati dya karena perbuatan kamu. Andaikan dulu mama tidak memaksa dya untuk menikah denganmu mungkin dya tidak akan merasakan sakit ini” ucap mama dengan tangisan yang sudah pecah
“maaa devan mohon maa,,, devan gak mau cerai dari sandya maa,, tolong yakinkan sandya maa”
__ADS_1
“kenapa? Untuk apa? Agar kamu bisa menyakitinya lagi? Sebaiknya kamu pergi dari rumah mama, mama tidak akan menghapus namamu dari ahli waris atas permintaan dya, tapi mama gak mau liat kamu lagi di rumah ini... Keluar”
“apa? Jadi sandya minta mama agar tidak menghapus namaku dari ahli waris? “
“Keluuaaar”
Teriakan mama membuatku kaget, baru kali ini aku mendengar mama semarah ini, mungkin jika saat ini aku melihat ekspresi marah mama bisa jadi aku akan gemetar ketakutan
Setelah tidak ada suara mas devan ku coba untuk melangkah menghampiri mama dengan masih mengendap endap
Ku lihat mama terduduk di sofa ruang keluarga dengan menunduk penuh air mata, langsung ku hampiri mama dan ku peluk erat tubuhnya yang masih bergetar
“Maaf,,,,,,, maaf maa, maaf karena sandya mama dan mas devan harus bertengkar”
Ucapku pilu karena mataku sudah penuh dengan air mata
“Enggak sayang, harusnya mama yang minta maaf,, kalau bukan mama yang menyeret kamu masuk ke kehidupan devan mungkin saat ini kamu sudah bahagia”
“enggak ma,, itu enggak benar.. Dya yakin ini memang jalan yang sudah Allah tentukan untuk dya, gak ada yang salah disini ma”
__ADS_1
“Kenapa devan gak bisa liat hati kamu yang begitu baik nak,,, maafin devan ya” ucap mama dengan mengelus pipiku lembut menghapus air mata yang sudah jatuh sejak tadi
Kami pun kembali berpelukan dalam tangis dan kesunyian