
Tiba-tiba Ardi berdiri dan...
"Deek, sini" panggilnya tiba-tiba pada seorang anak kecil perempuan
"Iya tuan, anda mau beli bunga? " tanyanya lembut
"Iya, nama kamu siapa? "
"Nama saya Putri tuan"
"Putri umur berapa nak? " tanyanya lembut
"Umur 7 tahun"
"Hm putri bawa berapa bunganya"
"Ini sisa 9 tuan" dengan menunjukkan kresek berwarna hitam yang berisi bunga mawar
"Ya udah saya beli semua ya? " pintanya
"Bener tuan? Makasih banyak" anak itu terlihat sangat senang dengan mata yang berbinar
Setelah memberikan sejumlah uang yang ia lebihkan Ardi memberikan 9 tangkai bunga tersebut padaku, ternyata dia ingin membantu anak kecil yang berjualan tadi
Kami mengobrol santai sesekali tertawa bersama, ternyata Ardi orang yang mudah bergaul selain baik ia juga suka memperhatikan hal hal kecil sifatnya hampir hampir sama lah denganku
"Saa" panggilnya tiba tiba menghentikan gelak tawaku
"Kenapa? "
"Beruntung sekali ya laki-laki yang menjadi suami kamu" ujarnya tiba tiba
"Kenapa kamu ngomong gitu? "
"Ya karena bisa dapetin perempuan sebaik kamu, kamu juga kayaknya orangnya sabar"
"Ya emang sih aku juga mikir gitu, suamiku itu beruntung banget bisa dapetin aku" sombongku
"Iya,, yaaaa walaupun kamu.... " ardi mengantung kalimatnya begitu saja yang membuatku penasaran
"Aku kenapa? "Tanyaku penuh rasa penasaran
__ADS_1
"Kamuu,,,, " kembali ardi memberi jeda pada kalimatnya dan menatap mataku lekat
"Kenapa ardiiiii? " tanyaku kembali dengan nada yang sudah sedikit kesal
"Kamuu itu kurang cantik" jelasnya tegas dan menohok seketika aku refleks memukul mukul ardi karena kesal tak ku hiraukan teriakan ardi karena sudah terlanjur kesal
"Auww,, auww,, ampun saa,, ampun,, kamu cantik koq cantik"
"Apaa?? " kembali ku tanya
"Cantiiiik kamu cantik meskipun dikit" ucapnya pelan namun masih dapat ku dengar
"A R D iiiiiiiiiiiiii " teriakku kesal tapi yang di teriaki malah sudah kabur menuju ke tempat Ray duduk
Tanpa kami sadari ternyata ada sepasang mata yang memperhatikan interaksi kami dari jauh, dan sorot mata itu mengisyaratkan kemarahannya
***
"Sayang ayo turun" ajakku pada Ray begitu kami sampai di rumah
"Ma, ray lansung mandi ya love u maa" pamitnya
"Love u boy" balasku dengan senyuman yang terukir indah
Akupun bergegas masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri setelahnya ku putuskan untuk ke dapur menyiapkan makan malam, setelah makanan siap aku menemani Ray yang sedang membaca buku di kamarnya
"Maa ayo makan, Ray lapar" ajaknya dan seketika ku alihkan pandanganku pada jam di dinding
"Owh udah jam 7,ya udah ayo"
Sesampainya di meja makan
"Bi, tuan belum pulang? " tanyaku pada bi inah
"Belum nyonya"
"mama temani kamu makan ya sayang"
"Mama enggak mau makan emang? "Tanyanya
"Mama nunggu papa aja" jelasku
__ADS_1
***
Jam menunjukkan pukul delapan malam dan mas devan belum kembali, ku coba telefon Hpnya tapi tidak aktif.
Aku segera bergegas membuka pintu begitu mendengar suara mobil mas devan tiba
"Mas" panggilku dan mengambil alih tas kerja mas devan sedangkan mas devan hanya tersenyum sepertinya ia sangat lelah
Aku langsung menyiapkan air hangat untuk mas devan mandi
"Mas airnya udah siap, mandi gih abis itu kita makan malam ya" ajakku
"Kamu belum makan? " tanyanya tiba tiba
"Belum, kan nunggu kamu" jelasku dengan senyum manis
"Bentar ya mas mandi bentar koq" seketika mas devan berjalan cepat masuk ke kamar mandi dan tak butuh waktu lama mungkin hanya 5 menit ia sudah keluar dari kamar mandi
"Loh mas? Gak jadi mandi? " tanyaku bingung
"Udah koq" jawabnya dengan menggunakan baju secepat kilat
"Koq cepet banget? Jangan jangan gak bersih, gak pakek sabun"
"Udah sayang, udah harum koq.. Sini cium kalau gak percaya" pintanya dengan merentangkan tangan
"Ih apaan sih"
"Ya udah ayo makan" ajaknya dengan menarik tanganku lembut
sesampainya di meja makan
"Yaaaa udah dingin makananya, aku panasin dulu ya sayang" ucapku
"Gak usah gak apa,, ayo makan"
Kami pun makan bersama tapi dalam keheningan bukan karena marah tapi terlalu fokus dengan makanan masing-masing
.
.
__ADS_1
.
Jangan Lupa tinggalkan Likenya ya supaya makin semangat nulisnya