
Melihatku hanya diam dalam tangis rio pun melanjutkan ucapannya
"Nyonya, sebenarnya tuan sangat mencintai nyonya hanya saja mungkin tuan belum menyadarinya, setelah tuan membawa nyonya kembali dari bali ada yang berbeda dari kesehariannya. Tuan selalu tersenyum wajahnya terlihat lebih bersinar dari biasanya dan tuan selalu bercerita kepada saya tentang sikap lucu nyonya yang selalu membuat tuan gemas sendiri, tapi setelah nyonya kembali pergi dari rumah dan meminta tuan untuk bercerai, kembali ku lihat tuan yang sangat murung bahkan tuan tidak segan untuk menangis di hadapan saya"
Ya memang yang ku tau mas devan dan rio dulu adalah teman sekolah, tapi rio adalah adik kelas mas devan
Kembali ku sibuk dengan pemikiranku sendiri mencerna kalimat setiap kalimat yang rio katakan padaku entah apa yang kurasakan saat ini
Aku seketika berdiri begitu melihat dokter yang keluar dari ruangan UGD
"Keluarga tuan devan" tanyanya
"Iya saya dok"
"Tuan devan keadaannya sudah membaik dan bisa di pindahkan ke ruangan perawatan biasa, saya permisi"
Seketika aku bernafas lega mendengar penuturan dokter tersebut
"Nyonya biar saya yang urus segalanya, nyoya temani tuan saja"
Aku hanya mengangguk
***
"Sayaang" panggila mama yang baru saja memasuki ruang inap VVIP ini
Mataku seolah kembali memanas ingin mengeluarkan bulir air mata yang tadi sudah sempat berhenti
"Mama" panggilku dalam tangis
__ADS_1
"Sayang gimana keadaan suami kamu? "
"Sudah baikan ma"
"Kamu kenapa masih nangis sayang? Devan kan udah enggak kenapa napa"
"Ini salah dya maa,,, kalau bukan karena dya mas devan gak akan kecelakaan"
"Saayaaang,,, dengerin mama baik-baik, ini semua bukan salah kamu ini takdir dari Allah untuk devan dan kita semua kamu harus sabar yang kuat inget kamu sedang mengandung" nasehat mama dengan masih menangkup kedua pipi ku
"Sekarang kamu pulang istirahat di rumah"
"Enggak ma, dya di sini aja nemenin mas devan"
"Sayang, ini sudah malam kamu pulang istirahat kasian bayi kamu. Besok pagi kamu kesini lagi"
Aku masih enggan untuk pergi tapi mama dan rio terus menerus membujukku hingga akhirnya aku setuju untuk pulang
***
"Nyonyaaa"
Ku lihat bi inah berlari ke arahku dengan tergopoh gopoh
"Alhamdulillah nyonya kembali, tuan pasti bahagia sekali. Mari nyonya masuk istirahat dulu"
Aku hanya tersenyum manis kepada bi inah
Sesampainya di kamar aku langsung merebahkan tubuhku, lelah tapi mata ini seakan tidak mau untuk tertutup
__ADS_1
Detik, menit, dan jam pun berlalu tapi mata ini masih belum mau untuk di ajak tidur, huffttt
Aku bangun dan berjalan menuju ruang keluarga.
Sangat sepi dan sedikit membuatku bergidik ngeri akhirnya aku memutuskan kembali ke kamar untuk kembali mencoba memejamkan mata
***
Aku sudah berjalan menyusuri terowongan rumah sakit dengan agak ngos ngosan karena keadaan kanduanganku yang semakin membesar
Begitu masuk ke kamar inap mas devan aku langsung di sambut oleh tatapan sendu mas devan yang tak mau lepas dariku
"Saa"
Hening
"Saaaa,, sini mas kangen"
Pintanya kembali karena aku yang masih diam mematung menatapnya
Ku langkahkan kakiku menghampiri mas devan yang tengah duduk di ranjangnya dengan memberikannya senyuman hangat
"Kapan sadar? " tanyaku kaku
Melihat mas devan yang hanya diam menggeng tanganku akhirnya......
Akhirnya apa yaaaa
Apa sandya akan menghempaskan tangan devan? Atauuuu.....
__ADS_1
Jangan lupa like