
Dan benar saja begitu aku dan monic beranjak pergi dapat ku lihat wajah steve yang se akan takut, khawatir, sedih,,,
"Monic terus berjalan jangan melihat ke belakang" bisikku pada monic seraya menuntunnya masuk ke dalam mobil
Ku lihat monic yang masih menangis sejadi jadinya dan steve, dia terlihat sedikit mengejar mobilku saat mobil ini keluar dari area rumahnya
"Jangan terlalu banyak menangis, kasian anakmu" ucapku lembut
"Koo, antar kita ke taman favoritnya Ray ya" pintaku
"Baik nyonya"
***
"Kita duduk santai dulu disini ya? Supaya kamu bisa tenang juga" ucapku pada monic
Kami hanya diam bahkan sudah hampir satu jam namun kami masih saja diam tanpa niat untuk memulai percakapan apapun
"Monic,, kamu mau tinggal dimana? " tanyaku
"Enggak tau sa"
"Kamu tinggal di apartemenku aja ya, disana juga ada asisten rumah tangga jadi kamu gak akan susah" tawarku
"Makasih sa, tapi aku gak mau ngerepotin" ucapnya
"Kamu enggak pernah ngerepotin koq,, kamu juga pernah nolongin aku kan dulu" senyumku dan monic pun ikut tersenyum
"Makasih sa"
***
"Monic,, kamu bisa tinggal disini dan jangan keluar rumah kalau butuh apa apa biar mbok yang cari" jelasku
__ADS_1
"Kenapa gak boleh keluar rumah? "
"Aku pengen kasi pelajaran buat steve, kalau dia beneran cinta sama kamu maka dia akan mencari kamu kemanapun" ucapku
"Kalau dia gak nyariin aku? " tanyanya sendu
"Udah udah,, kamu harus yakin sama perasaan cinta kalian, aku yakin steve bakal nyari kamu... Sekarang aku pulang dulu ya, butuh apa apa minta mbok" perintahku
***
"Bi siti,, tolong buatin saya bubur ya, bubur ayam" pintaku
"Iya nyonya"
Aku ngapain ya? Bosen disini sepiiii
Nelfon monic aja kali ya
Tuutttt ttuutt
" halo nic,, gimana keadaan kamu? " tanyaku
"Aku baik, puji tuhan"
"Bagus lah kalau gitu, oh iya maaf ya beberapa hari ini aku gak kesana,,, soalnya aku takut steve itu ngikutin aku" jelasku
"Iya, enggak apa apa sa,,, tapi aku bosen banget tau disini" adunya mungkin saja bibirnya sudah maju untung aku tidak melihatnya
"Hmm aku juga bosen sebenernya"
Ting tong ting tong
"Eh nic udah dulu ya, kayaknya ada tamu"
__ADS_1
"Iya iya,, bye"
Segera ku akhiri panggilan telefon tersebut
Kenapa gak sabaran banget sih, sampek neken belnya banyak gitu
"Biar bibi yang buka nuonya" tawar bi siti yang baru saja berlari dari dapur
"Hm baiklah "
Beberapa saat kemudian
"Dya" panggilnya yang membuatku menoleh
"Owh, kamu.... Kenapa? " tanyaku acuh sedangkan yang di tanya langsung duduk di sofa depanku duduk
"Dimana monic? " tanyanya
"Mana ku tau,, kemaren dia minta anter ke bandara" ucapku berbohong dengan masih membolak balikkan majalah
"Kebandara!? Tujuan kemana? "
"Aku gak tau,,, dia cuma minjem uang ke aku 5 juta udah"
Steve menundukkan kepala, ia terlihat frustasi mungkin karena monic sudah beberapa hari tidak pulang
"Kenapa kamu mencarinya, bukannya waktu itu kamu setuju dia pergi? " tanyaku memancing
"Dia pernah bilang sih ke aku kalau dia mau hidup berdua dengan anaknya,, ya syukur kalau suatu hari nanti ada laki-laki yang mau menerimanya dan anaknya" bohongku agar steve semakin gelisah
"Enggak,,, aku harus mencarinya,, iyaaa"
Ucap steve lalu pergi begitu saja, ada sedikit senyum terlihat di bibirku mendengar penuturan steve barusan, itu artinya dia takut kehilangan monic
__ADS_1
Semoga mereka bisa hidup bahagia
Benakku