
"Bi siti" panggilku yang baru keluar dari ruang belajar bersama mas devan
"Iya nyonya"
"Dapet pesanan saya? "
"Sudah nyonya, ada di meja makan"
"Ok makasih" dan langsung aku berlari menuju meja makan
"Sayang jangan lari lari"
"Aku segera memakan jeruk bali yang sudah di kupas itu dengan petis rujak"
"Sayang ini apa? " tanya mas devan bingung
"Jeruk bali, mau? " tanyaku
"Enggak, kamu ngapain rujak jam segini? Belum makan lagi nanti kamu sakit perut" tegurnya
"Enggak sayang" jawabku meyakinkan
Setelah puas makan rujak jeruk bali aku pun makan malam bersama mas devan dan ray
"Ma, nenek ngajak aku nginep di rumahnya boleh gak? "
"Hmm kalau mama sih gak masalah, coba tanya papa"
"Paa"
"Hm boleh asal kamu dan nenek enggak keluar rumah, gimana setuju? " tanya mas devan
__ADS_1
" setuju pa"
Setelah acara makan selesai kami bertiga mengobrol santai, membahas sekolah untuk ray nantinya dan tentu menanyakan pendapat ray karena siapa tau dia ada pilihan sendiri
"Ma, pa ray tidur dulu ya,,, selamat malam" pamitnya tak lupa sebelum pergi ray mencium pipiku namun ia menolak mencium pipi papa nya malah berlari pergi begitu saja tak memperdulikan panggilan dari papanya
"Ya udah mas, aku tidur juga udah ngantuk,,, mas ikut enggak? " tanyaku
"Kamu duluan aja sayang, mas masih ada kerjaan yang belum selesai"
"Hm ya udah jangan malem malem tidurnya" pintaku
"Siap bu bos" dan mas devan mengecup bibirku kilas sebelum aku pergi
***
"Mas,, mass bangun" dengan menggoyang goyangkan tubuh mas devan agar segera bangun
"Iih banguun" marahku dan memukul lengan mas devan
"Kenapa sih ribut ribut? " tanya mas devan yang sudah duduk dan mengucek matanya menatap jam dinding
"Sayang ini baru jam dua dini hari, kenapa kamu bangunin aku? "
"Mas aku laper "
"Haa? Ya udah aku bangunin bi inah" jawabnya hendak bangun
"Aku mau sate di depan jalan kompleks itu" jelasku
"Kenapa harus sate? " tanyanya
__ADS_1
"Kan aku pengen makan sate mas,, gimana sih"
"Hm ya udah bentar aku suruh pengawal beli" dan mas devan berlalu keluar kamar tapi aku mengikutinya dari belakang
"Sayang ngapain kamu ikut turun? "
"Tadi lupa gak bilang kalau satenya mau pedees" jawabku
"Kamu gak boleh makan pedes pedes, nanti sakit perut lagi mau? " ucap mas devan memperingati dan aku hanya memberikan eksperesi wajah kecewa
Sekitar 15 menit aku menunggu sate pesanan datang
"Permisi nyonya ini satenya" dengan menyodorkan sebuah bungkusan
"Koq kamu lama belinya? " tanya mas devan yang memang dari tadi uring uringan
"Tadi di warung satenya ngantri tuan"
"Ya sudah ini buat kamu, makasih" ucapku memberikan beberapa lembar uang berwarna biru dari dompet mas devan yang berada di atas meja makan
"Makasih nyonya" ucapnya dan berlalu pergi
Aku pun memakan habis sate tersebut dan langsung kembali ke tempat tidur karena merasa kenyang sedangkan mas devan hanya mengikutiku seperti anak ayam takut ketinggalan induknya
***
"Sayang bangun, koq tumben kamu jam segini belum bangun? " tanya mas devan padaku
"Hmmm, gak tau mas aku kayaknya gak enak badan" ucapku dengan semakin mempererat pelukan pada guling
"Kamu sakit? " tanya mas devan sedangkan punggung tangannya sudah menempel di dahiku
__ADS_1
"Emm.....