
"Jadi ini alasan kamu meninggalkanku? Hah!" bentak seorang pria sambil menyekap sang wanita dengan mengacungkan pisau di lehernya.
"A ling!" pekik Li wong, mantan suaminya dengan wajah terkejut, lalu mata Li wong menatap orang yang menyandra mantan istri sembari berdiri dengan wajau panik luar biasa. Apa yang kamu lakukan, Cong? Ling ling tidak ada hubungannya dengan apa yang terjadi diantara kita."
"Cih!" pria bernama Se cong yang menyandra A ling berdecih. "Kamu nggak perlu bohong, Li. Bukti udah ada di depan mata, kamu masih mau berdusta? Pantes saja gerak gerik kamu sedari pagi sangat mencurigakan. Rupanya kamu sudah janjian dengan mantan istri kamu ini! Iyakan?"
Tak terbayangkan betapa takutnya A ling saat ini. Dia sampai tidak bisa berkata kata karena rasa takut yang sangat luar biasa. A ling berharap Tito melihat kejadian ini dan segera menolongnya. Sungguh A ling benar benar sangat panik namun untuk berteriak saja susah.
"Ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan, Cong! ini ..."
"Bohong!" bentak Se Cong sampai Li wong tidak bisa meneruskan kata katanya. "Kamu sudah ketahuan dan kamu nggak mau ngaku? Apa hebatnya wanita ini sama aku? Hah!"
"Cong, sadar! Kita sama sama pria, nggak seharusnya kita menjalin hubungan lebih. Itu yang menjadi alasan aku ingin kita pisah. Bukan karena dia. Dia tidak tahu apa apa. Aku tadi nggak sengaja lihat dia disini."
"Bohong!" bentak Cong lagi. "Tidak mungkin semua terjadi hanya karena kebetulan saja! Kalau kamu nggak mau berhubungan sama aku, maka lebih baik wanita ini mati saja!"
Tak!
"Akhh!" bukan A ling atau Li wong yang berteriak, tapi Se cong sembari memegang kepalanya yang kesakitan.
Tak!
"Aduh! Sialan!" teriak Se cong sembari memutar kepala. "Siapa yang melempar ..."
__ADS_1
Tak!
"Akh!" Se cong langsung memegang keningnya yang kena lemparan batu sampai dia lengah. Kesempatan itu Li wong gunakan untuk menyelamatkan A ling. A ling disuruh minggir secepat mungkin, lalu lari bersama Li wong ke sisi yang aman.
Woy! Sini kau! laki laki sialan!" teriak Se cong saat menyadari A ling kabur bersama kekasihnya. Namun disaat Se Cong hendak melangkah maju, lagi lagi kepalanya merasa sakit karena ada yang menimpuknya dengan keras.
Tak!
"Akh! Sialan!" teriak Se cong sambil memutar badan dan melihat seorang pria yang sedang berdiri santai dengan tangan memegang beberapa batu dan menatap Se cong dengan sinis. "Siapa kamu? Hah!"
Dia lah Tito, pria yang menimpuk kepala Se cong dengan batu. Melihat majikannnya berada dalam bahaya, tentu saja Tito tidak tinggal diam. Otaknya bekerja mencari cara untuk mennyelamatkan A ling dari bahaya. Beruntung Se cong tidak menyadari kalau adanyaTito disana adalah sedang bersama A ling.
Di saat Tito sedang berpikir keras mencari cara menolong A ling, dia melihat batu berserakan tak jauh dari tempat keberadaannya. Ide cemerlang langsung saja datang dan terjadilah pelemparan batu dengan tepat sasaran di kepala Se cong.
"Tito, hati hati!" teriak A ling.
"Oh jadi kamu lelaki milik wanita itu juga? Hahaha ... Kamu mau main main sama saya? Hah!"
"Main sama kamu? Apa enaknya? pria kok main sama pria. Yang ada batangnya bau, huweek!" ejek Tito.
"Banyak omong kamu! Maju sini kalau berani?"
"Loh? Bukankah yang pengecut itu kamu ya? Coba kamu bilang pada dunia, kalau kamu itu pria penyuka batang pria, Berani?"
__ADS_1
Tentu saja Se cong tidak akan pernah mengakui kenyataan tentang dirinya. Jika itu terjadi, entah apa yang akan dilakukan orang tuanya jika tahu pria itu memiliki kelainan. Yang ada Se cong bisa kehilangan kemewahan yang selama ini dia nikmati dari harta orang tuanya.
"Nggak usah banyak omong kamu! Hiyaaaat! Se cong menyerang Tito dengan pisau mengacung ke arah pemuda itu.
Tito menerima serangan itu dengan tenang. Hanya dengan beberapa gerakan saja, pisau dalam genggnggaman Se cong terpental. Sedangkan Se cong sendiri langsung terjerembab setelah menerima beberapa pukulan dan tendangan dari lawannya.
Dak!
Duk!
Dak!
"Akh!" teriak Se cong. Dia hendak bangkit tapi gerakannya terhenti saat telapak sepatu Tito berada diatas lehernya.
"Berani bergerak, aku injak leher kamu!" ancam Tito. Se cong terbungkam dengan tatapan penuh kebencian.
A ling sontak berlari dan lansung memeluk tubuh Tito. "Aku takut, To. Aku takut," rintihnya.
"Nggak perlu takut, sudah aman," balas Tito lembut, lalu dia menatap ke arah mantan suami A ling. "Panggil keamaan dan laporkan dia, cepat!"
"Tidak, Jangan, tidak!" teriak Se cong ketakutan.
...@@@@...
__ADS_1