DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA

DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA
Kejujuran Dua Ayah


__ADS_3

"Apa kami boleh minta tolong pada kalian?" tanya William beberapa saat setelah mereka terdiam karena rasa canggung.


"Minta tolong? Minta tolong apa, Tuan?" tanya Tito merasa heran.


"Tolong bantu kami, agar kami bisa dekat lagi dengan anak anak kita, bisa?"


Kening Tito dan Yoyo serentak berkerut dan mereka sejenak saling pandang satu sama lain dengan berbagai pertanyaan dalam benaknya. Lalu mereka kembali menatap dua pria di hadapan mereka yang sedang menatapnya sembari menunggu jawaban dari Tito dan Yoyo.


"Bagaimana caranya kami bisa membantu anda, Tuan?" tanya Yoyo.


"Ya terserah kalian mau pakai cara apa? Aku yakin kalian bisa menemukan cara. Kalian pasti sudah tahu, bukan? Kenapa anak anak sangat membenci kami? Padahal kami itu ayah mereka."


Yoyo mengangguk pelan. "Tahu, Tuan. Bahkan aku pernah menyaksikannya."


"Tapi kalin tidak tahu, bagaimana rasanya dibenci anak kandung sendiri itu bagaimana," balas William. "Jujur, aku sendiri iri, marah, kecewa melihat Binbin akrab dan nampak bahagia dengan pria lain selain ayahnya. Kami iri dengan segala waktu yang kalian lewati. Tapi kami tahu, sumber masalah yang menyebabkan Binbin jauh dari Aku karena ulah aku sendiri. Aku sadar itu. Maka itu mumpung kita ketemu disini, aku minta bantuan pada kalian."


Lagi lagi Tito dan Yoyo saling pandang. Dari raut wajahnya, mereka sebanarny bingung mau menjawab apa. Antara tidak enak untuk menolak, atau takut majikan mereka marah.

__ADS_1


"Apa kalian takut, A moy dan A win marah pada kalian?" tebak Darren yang sedari tadi diam tapi memperhatikan gerak gerik Tito dan Yoyo. Keduanya sontak saja mengangguk cepat. "Tidak perlu takut. Kalian bisa melakukannya diam diam, bukan?"


Untuk kesekian kalinya dua penjaga anak itu saling memandang sejenak. Entah kenapa ada perasaan berat untuk menyetujui permintaan Ayah kandung Zoe dan Binbin itu. Tapi untuk menolak pun, keduanya seperti tidak memiliki kemampuan.


"Jika kalian menginginkan bayaran, katakan saja? Kita siap membayar berapapun yang kalian minta," tawar Darren.


Sungguh tawaran yang menggiurkan. Tapi masalahnya bukan uang yang menjadi kendala Tito dan Yoyo tak kunjung memberikan jawaban. Tapi lebih kepada rasa tak enak kepada majikan mereka jika mereka setuju untuk membantu ayahnya anak anak.


"Kalian tidak perlu takut kepada nyonya kalian," ucap William. "Jika kalian di pecat, aku yang akan mempekerjakan kalian di tempatku. Kalian tidak perlu khawatir. Gaji kalian juga akan lebih besar daripada kerja di rumah itu."


"Maaf, bukan masalah uang yang menyebabkan kami belum menjawabnnya," ucap Yoyo. "Tapi di sini masalah kepercayaan dan tanggung jawab yang sedang kami emban, Tuan. Pekerjaan kami memang kelihatan sepele, tapi kami melakukannya karena Nyonya percaya pada kami. Kami paham betul rasanya menjadi orang yang tidak dipercaya itu seperti apa. Sekali lagi saya mohon maaf, bukan masalah uang bagi kami, tapi masalah kepercayaan."


"Apa kalian tidak bisa ingkar sedikit?" Darren masih mencoba mendesak.


Tito dan Yoyo kembali saling pandang. Pastinya mereka tidak tega melihat wajah putus asa dua ayah dihadapannya. Biar bagaiamanapun mereka mengerti apa yang dirasakan dua pria pengusaha tersebut. Bahkan wajah penyesalan dan memohon tergambar jelas dari wajah Darren dan William saat ini.


"Baiklah," ucap Tito pada akhirnya. "Saya akan berusaha membantu Tuan semampu saya. Tapi saya minta Tuan lebih bersabar dan jangan terlalu menuntut kepada saya. Biarkan saya menanganinya secara pelan dan bertahap."

__ADS_1


Seketika raut wajah Darren berubah dan terlihat berbinar. "Benarkah?" tanya Darren memastikan, dan Tito mengangguk pelan. "Syukurlah. Oke jika itu mau kamu. Aku setuju."


"Terus kamu sendiri bagaimana?" kini William yang bertanya pada Yoyo dengan perasaan harap harap cemas.


Yoyo memangguk. "Seperti teman saya. Saya juga akan melakukan hal yang sama. Saya harap anda mau bersabar untuk menunggu."


Wajah cemas William pun langsung berubah ceria. "Baik. Saya akan sangat sabar menunggu. Saya harap usaha kalian berhasil karena kami sudah sangat merindukan anak anak kami."


"Saya mengerti, Tuan."


Akhirnya William dan Darren merasa lega saat ini. Setidaknya mereka memiliki harapan untuk memperbaiki kesalahan mereka bukan untuk mengulanginya. Terutama pada anak anak.


"Oh ya, sekalian, saya juga ada permintaan sama kamu," ucap Darren saat mengingat sesuatu dan dia langsung menatap Tito.


"Sama saya? Permintaan apa, Tuan?"


"Kamu pernah menemukan gantungan kunci berbentuk bola bukan?"

__ADS_1


Gantungan kunci berbentuk bola?"


...@@@@@@...


__ADS_2