
Saya juga ada permintaan sama kamu," ucap Darren saat mengingat sesuatu dan dia langsung menatap Tito.
"Sama saya? Permintaan apa, Tuan?"
"Kamu pernah menemukan gantungan kunci berbentuk bola bukan?"
"Gantungan kunci berbentuk bola?" tanya Tito dengan kening yang berkerut. Lantas Darren menjelaskan tentang gantungan kuncinya yang telah hilang di toilet bandara. Dia juga menjelaskan tentang Tito yang tertangkapn kamera cctv saat menemukan benda tersebut. "Oh iya, sepertinya saya masih menyimpannya. Itu milik anda?" sambung Tito setelah mengingatnya.
"Iya, itu milik saya. Kalau masih ada pada kamu, boleh saya memintanya kembali, karena sangat penting bagi saya."
"Baik, Tuan. Nanti coba saya cari. Saya rasa saya menyimpan benda itu di dalam tas saya."
"Oke, Saya tunggu."
Setelah merasa cukup puas mengutarakan isi hatinya, Darren dan William lantas undur diri karena akan kembali ke pesta pernikahan yang sesang mereka hadiri. Tito dan Yoyo sontak mempersilakan dan mereka tetap berada di tempanya. Tak jauh dari tempatnya berada, banyak makanan tersaji di atas meja. Hal itu membuat Tito dan Yoyo merasa betah berada disana.
"Gimana, To? Apa yang akan kamu lakukan kepada Zoe?" tanya Yoyo sambil menikmati es krim yang tadi sempat dia ambil tak lama setelah kepergian Darren dan William.
"Paling ya mencoba memberi pengertian sama Zoe secara perlahan. Kita tidak mungkin, memaksa Zoe secara langsung. Paling kita menghilangkan traumanya harus secara bertahap," balas Tito yang sedang menikmati es krim juga.
__ADS_1
"Terus jika Miss A moy tahu bagaimana? Pasti dia akan murka."
"Ya kita bilang aja apa adanya. Bukankah lebih baik jujur. Lagian juga dia pasti tahu anak anak membutuhkan ayahnya. Kalau kita bisa membuat alasan yang tepat ya, aku yakin, Miss A moy dan Miss A win akan ngertiin. Mereka juga pasti seneng jika Zoe dan Binbin sembuh dari traumanya."
"Iya juga ya? Baiklah, aku juga akan mencobanya. Semoga saja ada hasil yang baik. Meski pendidikan kita rendah, bukan berarti kita tidak bisa menyembuhkan trauma anak anak. Iya nggak?" ucap Yoyo antusias.
"Betul!"
Kedua pemuda pun kembali larut dalam macam macam obrolan sambil menunggu acara selesai. Hingga beberapa jam kemudian acara pernikahan mewah khas negara itu berakhir. Tito dan Yoyo ikut turun tangan membereskan serta merapikan tempat yang baru saja digunakan untuk acara pernikahan.
Benar seperti yang sudah diduga, semua selesai ketika hari sudah menjelang malam. Kini Tito dan Yoyo menunggu majikan mereka di kamarnya masing masing. Mereka menunggu A shang dan A zia yang sedang menyelesaikan segala urusan dengan pihak hotel dan pihak tuan rumah yang menggunakan jasa mereka. Sedangkan anak buah A shang dan A zia, sudah pulang dengan kendaraan masing masing begitu semuanya beres.
"Nggak juga kok, Miss. Udah selesai semuanya?" tanya Tito yang langsung menghentikan main game dari ponselnya.
"Sudah. Malahan kita dapat bonus dapat menginap disini lagi, untuk satu malam," balas A zia dengan entengnya, tapi cukup membuat Tito terpaku mendengarnya.
Bukan hanya ucapan A zia yang membuat Tito terpaku dan pikirannya kemana mana, tapi apa yang dilakukan A zia membuat mata Tito enggan untuk berkedip dan dadanya mendadak merasa resah. Dengan santainya A zia melepas semua kain yang menutupi tubuh mulus dan seksinya.
"Kamu mau nginep lagi?" pertanyaan A zia sontak menyadarkan Tito yang tiba tiba diam dengan tatapan terkunci pada tubuh majikannya.
__ADS_1
"Nanti Zoe gimana?" ucap Tito sedikit terbata.
"Sudah ku duga, pasti kamu akan jawab seperti itu," jawab Zia sambil duduk di sebelah Tito. Wajahnya terlihat kecewa.
"Maaf, Miss. Bukannya aku sengaja nolak. Tapi Miss A zia kan tahu kalai aku ..."
"Iya, iya aku ngerti," ucap A zia memotong perkataan pemuda disebelahnya. "Kamu udah mandi belum?"
"Belum. Nggak ada pakaian ganti," jawab Tito jujur.
"Ya udah kita mandi bareng, ganti bajunya nanti kalau sudah di rumah," balas A zia sembari meraih tangan Tito. Pemuda itu ingin menolak tapi melihat tatapan A zia yang mengintimidasi, membuat Tito pasrah saja ditarik tangannya menuju kamar mandi. Tentu saja mereka berdua tidak mungkin hanya sekedar mandi.
Sedangkan di kamar lainnya, tepatnya di kamar A shang dan Yoyo.
"Batang kamu enak, Yo, meski belum mandi. Dan yang pasti punyamu gede, nggak kayak punya mantanku, " puji A shang. Sedangkan Yoyo hanya tersenyum sebagai balasan atas ucapan wanita yang sekarang sedang duduk dilantai sembari menikmati batang Yoyo dengan lidah dan mulutnya.
"Akhhh ..."
...@@@@@@@...
__ADS_1