
"Permisi? Apa boleh kita ikut duduk disini?"
Yoyo dan Tito sontak mendongak dan matanya agak berbinar saat mata mereka melihat dua wanita cantk ada di hadapan mereka. "Oh silakan," jawab Yoyo ramah.
Sebenarnya Yoyo dan Tito merasa heran dengan datangnya dua wanita itu, dari banyaknya kursi, kenapa dua wanita itu memilih duduk bersama mereka? Padahal ada beberapa kursi yang kosong. Karena merasa tidak nyaman, Yoyo pun berinisatif mengajak Tito pindah ke tempat lain.
"Loh! Kalian pada mau kemana?" tanya salah satu wanita itu saat melihat Yoyo dan Tito bangkita dari duduknya.
"Kami mau duduk di sebelah sana, permisi," jawab Yoyo ramah sembari menunjuk ke arah bangku kosong.
"Tunggu!" seru wanita itu hingga membuat Yoyo dan Tito tak jadi melangkah. "Kenapa tidak di sini saja? Apa kami mengganggu?"
Yoyo sontak tersenyum canggung. "Iya," jawab Yoyo apa adanya lalu kembali melanjutkan langkah mereka.
Rasa kesal langsung terlihat pada wajah dua wanita itu. Mereka memandang sengit kepada dua pria yang terang terangan mengatakan kalau pria itu terganggu dengan kedatangan dua wanita itu.
Wajar jika kedua wanita itu kesal, mereka sengaja memilih tempat duduk yang sama dengan Yoyo dan Tito karena dua wanita itu memang sengaja hendak mendekati dua pemuda itu. Ya, mereka memang memiliki niat terselubung.
Dua wanita itu adalah Eva dan Samanta. Mereka memang punya satu rencana untuk membalas sakit hati mereka pada dua pria yang telah mencampakan mereka. Entah rencana apa yang akan mereka lakukan sampai mereka menargetkan Yoyo dan Tito sebagai alat untuk melancarkan aksi mereka.
__ADS_1
"Apa mereka bukan laki laki normal? Dideketin wanita cantik kok malah menghindar?" sungut Eva kesal.
"Hahaha ... kita yang salah waktu mungkin. Lihat, banyak kursi kosong tapi kita malah memilih duduk disini," balas Samanta mencoba mengerti keaadaan, dan kesimpulannya memang benar.
"Tapi kenapa mereka jujur banget kalau kita mengganggu? Sialan! Baru kali ini ada pria yang terang terangan nyebut aku pengganggu," umpat Eva tak terima. Wanita itu memang selalu merasa harus diperlakukan istimewa oleh semua pria.
"Mungkin mereka memang lagi ngobrolin hal serius. Lihat! Mereka tanpak serius, bukan?" tunjuk Samanta yang bisa bersikap tenang.
Meski kesal, Eva membenarkan ucapan Samanta. Matanya melihat ke arah Yoyo dan Tito yang sedang nampak serius berbicara. "Lalu bagaimana kita melancarkan aksi kita? Kita harus bisa mengelabui mereka?"
"Tenang saja, aku sudah punya rencana sendiri," ucap Samanta sembari berdiri. Dengan keyakinan yang sangat tinggi dia melangkah mendekat ke arah Yoyo dan Tito berada.
"Saya? atau dia?" tanya Yoyo yang kebetulan berada di dekat Samanta berdiri.
"Kalian," ucap Samanta. Tentu saja sebelum melakukan sandiwara ini, Samanta sudah mencari info dua orang itu dari seseorang yang dia bayar. "Bukankah kalian yang menjaga anak anak Tuan Darren?"
"Darimana anda tahu?" tanya Tito tanpa menyembunyikan rasa terkejutnya. Begitu juga dengan Yoyo. Dia juga merasa terkejut dengan pertanyaan wanita yang berdiri di hadapannya itu.
"Tentunya saya tahu dari Tuan Darren. Kan yang mencari data nama penjaga anaknya saya sendiri," dusta Samanta. Dia lantas duduk dihadapan dua pemuda itu. "Kebetulan, saya adalah sekretaris Tuan Darren."
__ADS_1
"Sekretaris Tuan Darren?" tanya Tito dengan wajah terlihat semakin heran. "Terus kenapa anda berada disini?"
"Kebetulan saya sedang ambil cuti dan rumah saya berada di dekat sini," Samanta berbohong lagi. "Apa anda tidak percaya?"
Yoyo dan Tito malah terkesiap dengan tebakan wanita itu. Kedua pemuda itu memang tidak percaya begitu saja. Samanta malah tersenyum manis dan sangat yakin dengan tebakannya.
"Terus, apa yang membuat kami harus percaya pada anda?" Yoyo yang bertanya. Setidakya mereka butuh bukti kalau perkataan wanita itu benar.
Samanta masih tetap tersenyum manis. Kini saatnya dia menggunakan info yang dia dengar saat dia mendengar pembicaraan Darren dan Alex saat kasus penculikan Zoe. "Apa Tuan Darren atau asisten pribadi Tuan Darren menemui kalian dan meminta gantungan kunci yang kalian temukan?"
Yoyo dan Tito sontak membelalakkan matanya. "Ah iya, aku belum mengembalikannya!" seru Tito.
"Gantungan kunci itu berisi rahasia perusahaan Tuan Darren."
"Berarti anda beneran sekretaris Tuan Darren? Apa anda diminta untuk mengambilnya?"
Samanta lagi lagi tersenyum. Dia bangkit dari duduknya sembari bercerita untuk mengalihkan perhatkan dua pemuda itu. Samanta melangkah mengitari bangku dan berdiri di belakang Yoyo dan Tito. Tanpa kedua pemuda itu curigai, Samanta mengambil sesautu di dalam tasnya dan Tangannya dengan cepat menyentuh leher belakang Yoyo dan Tito sembari menempelkan sesuatu di leher mereka.
...@@@@@@...
__ADS_1