DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA

DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA
Saat Makan Malam Tiba


__ADS_3

"Hmm ... aku juga bingung. Sekalinya ada wanita yang mencintaiku, malah keadaannya kayak gini. Mereka sudah menyerahkan tubuhnya untuk aku nikmati, masa aku akan bikin kecewa dan sakit hati salah satu dari mereka. Aku nggak setega itu."


"Lalu kita harus bagaimana? Diam salah, bergerak juga salah."


Tito mengangkat kedua bahunya. "Dari pada pusing, mending kita cari angin" ajak Tito sembari bangkit kembali melanjutkan rencana awal yang tadi tertunda karena mendengar pembicaraan dua wanita di kamar sebelah.


Yoyo yang masih nampak frustasi dengan segala pemikirannya, ikut bangkit dengan perasaan malas tapi tidak ingin menolak ajakan sahabatnya. Dia lantas mengikuti langkah Tito keluar kamar dan keluar dari Villa untuk menikmati suara pantai di kegelapan malam.


Hening. Cuma itu yang dirasakan Yoyo dan Tito. Tidak ada pembicaraan serius diantara keduanya selain duduk di atas keramik sembari menatap ke arah laut lepas. Jarak Villa yang mereka tempati memang tidak terlalu jauh dari pantai. Maka itu, cukup duduk di teras belakang Villa, mereka sudah bisa menatap laut dan sekitarnya.


Keheningan mereka terganggu saat dua pemuda itu mendengar suara dari dalam Villa. Keduanya kompak menoleh dan kening mereka sempat berkerut. Terlihat dari balik kaca yang besar, dua majikan Tito dan Yoyo sedang menyiapkan makanan. Mereka juga melihat, salah satu dari majikan itu mendekat ke arah mereka. Tito dan Yoyo langsung menoleh ke arah laut, pura pura tidak melihat kedatangannya.


"Yo, To! Makan dulu," seru A zia pada dua pria yang duduk di teras belakang. Dua pria itu menoleh ke arah sumber suara.


"iya, Miss," jawab Yoyo dan Tito hampir bersamaan. Mereka berdua langsung bangkit dan beranjak masuk ke dalam Villa.

__ADS_1


Rasa canggung dan bingung perlahan merayap pada dua pemuda itu. Begitu mereka duduk di hadapan majikannya, dua wanita itu malah terlihat acuh dan cuek. A shang dan A zia asyik ngobrol sendiri membahas tentang pekerjaan mereka esok hari. Kedua wanita itu bahkan hampir tidak menatap Yoyo dan Tito yang duduk di hadapan mereka.


"Besok acaranya dimulai jam berapa, Miss?" Yoyo memberanikan melempar pertanyaan karena dia tidak tahan majikannya tidak melibatkannya dalam obrolan yang dilakukan A zia dan A shang.


"Jam sepuluh," jawab A zia singkat. Mereka bahkan langung menghentikan obrolannya dan langsung diam menikmati hidangan sejak Yoyo melempar pertanyaan.


"Terus kita berangkat jam berapa?" tanya Yoyo lagi. Sedangkan Tito terdiam karena pertanyaan Yoyo sudah cukup mewakili isi hati pemuda itu.


"Aku sama A shang berangkat pukul tujuh. Kalian istirahat aja di sini," mata Yoyo dan Tito langsung sedikit melebar begitu mendengar jawaban dari A zia.


"Kenapa bisa begitu?" tany Tito sedikit kesal dengan ucapan A zia.


Yoyo dan Tito terdiam dengan tatapan penuh pertanyaan kepad dua majikannya yang mendadak bersikap dingin dan datar.


"Atau kalian ingin pulang dulu juga apa apa," A shang ikut bersuara, dan hal itu menambah rasa terkejut dua pria yang berada di satu meja makan yang sama denngan A shang.

__ADS_1


"Miss nyuruh kami pulang?" tanya Tito.


"Tidak," bantah A shang dengan sikap santainya. "Aku hanya menyarankan. Kalau kalian ingin pulang ya silakan. Siapa tahu kalian merindukan orang rumah."


Tito dan Yoyo terkesiap mendengar jawaban ucapan A shang. "Rindu orang rumah? Siapa?" tanya Tito lagi. Tentu saja ucapan A shang membuat dia penasaan.


"Ya kali aja kalian rindu Binbin dan Zoe," kilah A shang. "Daripada kalian disini, mending kalian pulang juga nggak apa apa. Bukankah kalian juga awalnya keberatan menemani kami disini?"


Rasa terkejut Yoyo dan Tito semakin bertambah. Apa yang dikatakan A shang memang benar, mereka keberatan ikut ke sini karena mereka berpikir dua majikannya itu hanya menginginkan isi celana Yoyo dan Tito saja. Namun semua pemikiran buruk keduanya berubah setelah tahu kalau dua wanita di hadapannya mengajak mereka kesini karena ingin menyatakan cinta.


"Siapa yang keberatan, Miss?" kilah Yoyo.


"Nggak perlu bohong, Yo. Aku tahu kok," balas A shang. "Maaf, karena aku yang meminta kamu untuk ikut pada Kak A win. Kalau kamu ingin pulang, silakan. Biar nanti kami pulang naik kereta saja."


Yoyo dan Tito benar benar tak percaya dengan sikap majikannya kali ini. "Apa Miss A shang menyuruhku pulang karena Miss A shang berpikr aku ada hubungan khusus dengan majikan yang lain?"

__ADS_1


Deg!


...@@@@@...


__ADS_2