
"Oh iya, uang transeran kami sudah masuk, kan?"
"Uang transfer? Maksud Tuan?"
"Ya ... aku dan Darren mentransfer uang sebagai tanda terima kasih karena kalian berkali kali menyelamatkan Zoe dan Binbin."
Yoyo dan Tito sontak saling pandang. Mereka sudah pasti sangat terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar. Ternyata mereka telah salah sangka kepada para majikannya. Bahkan keduanya sempat berpikiran buruk. Tapi ternyata sekarang mereka tahu dari mana uang tabungan yang banyak itu berasal.
"Maaf, bukannya kami berniat merendahkan kalian atau bagaimana. Tapi kami tidak tahu bagaimana cara kami berterima kasih sama kalian dengan cara yang layak. Sedangkan hanya untuk ngucapin terima kasih saja, kami kira itu masih kurang," ucap William.
"Bagi kami, keselamatan anak kami itu sangat berharga. Mungkin semua orang tua juga akan seperti itu. Apa lagi kalian tahu kan kondisi Zoe dan Binbin kayak gimana pas ketemu kami? Beruntung A moy benar benar memilih orang yang sangat bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Maka itu kami tidak tahu bagaimana caranya kami berterima kasih pada kalian," lanjutnya.
"Tapi itu terlalu banyak, Tuan," ucap Yoyo pelan. Wajah terkejutnya masih terlihat pada dirinya meski samar.
Darren dan William sontak tersenyum. "Nggak apa apa, bukankah kalian bisa menggunakan uang itu untuk meraih mimpi kalian saat sudah tidak bekerja lagi di negara ini?" ucap Darren. "Atau kalian mau kerja di kantor kami?"
"Kerja di kantor?" tanya Tito dan Yoyo hampir bersamaan.
Darren sontak mengangguk. "Iya kerja di kantor. Kalian bisa pilih kerja di kantor William atau saya. Atau satu kerja di kantor William dan satu kerja di kantor aku juga nggak apa apa."
__ADS_1
Yoyo dan Tito pun tersenyum canggung. "Kami hanya berpendidikan rendah, Tuan. Mana mungkin kami bisa kerja di kantor? Yang ada kami malah nggak akan bisa bekerja dengan baik," ucap Tito.
"Ya kan kalian bisa belajar. Nanti keahlian kalian bisa terlihat saat kalian belajar. Jangann khawatir," balas Darren.
"Bukan masalah itu saja, Tuan," ucap Yoyo. "Kami juga terikat kontrak kerja selama dua tahun. Lagian kami nggak enak juga jika tiba tiba kami menerima tawaran Tuan."
"Kalian jangan khawatir, kami sudah pikirkan hal itu semuanya," balas William. "Kami juga sudah ngomong sama majikan kalian."
"Apa? Tuan sudah ngomong?"
William mengangguk. "Ya, kami sudah membicarakannya pada A moy dan A win. Mereka sih agak keberatan, tapi mereka juga nggak mau menghalangi kalian untuk maju. Apa kalian tidak ingin maju?"
"Iya, Tuan. Tapi kalau kita menerima tawaran dari Tuan, bagaimana dengan anak anak?" sambung Yoyo.
"Kalau anak anak sih mungkin masih bisa dibujuk Apa lagi tadi aku juga bilang pada A moy kalau kalian masih bisa tinggal di rumahnya," ucap Darren.
Tito dan Yoyo saling memandang kembali. Tentu saja mereka cukup bingung dengan penawaran yang bagus seperti ini. Tapi entah kenapa mereka seperti berat untuk menerimanya.
"Kalau kalian tidak mau menerimanya juga nggak apa apa, jangan merasa tidak enak hanya karena kami bos atau apa," ucap Darren yang seakan mengerti kegelisahan yang terlihat diraut wajah Yoyo dan Tito.
__ADS_1
Dua pemuda itu sontak sedikit terkejut mendengar ucapan Darren. Tebakannya benar, keduanya memang ada pemikiran ingin menolak, tapi itu peluang yang bagus. Mau menerima, tapi mereka sudah nyaman kerja di rumah A moy. Tentunya Binbin dan Zoe juga menjadi penentu utama atas keputusan mereka.
"Benar, jangan terlalu dibikin berat," William menimpali. "Tapi sepertinya kalian sudah nyaman yah? Kerja disana?"
Tito dan Yoyo hampir serentak mengangguk bersamaan. "Benar, Tuan. Kami sudah nyaman kerja di rumah itu," balas Yoyo.
"Apa yang membuat kalian nyaman? Apa karena semua orangnya baik? Atau karena majikan kalian cantik cantik?" terka Darren dengan senyum meledek.
Yoyo dan Tito juga ikut tersenyum lebar. "Ya begitulah, semua yang ada di sana pada baik, Tuan," jawab Tito.
Darren nampak manggut manggut. "Begitu? Ya bagus lah. Tapi kalian menolak tawaran kami bukan karena kalian ada hubungan spesial dengan majikan kalian, kan?"
"Hubungan spesial, maksud, Tuan?" tanya Tito.
"Maksudnya pacaran. Kalian lagi nggak pacaran sama salah satu dari majikan kalian, kan?"
"Ya nggak mungkinlah, Ren," celetuk William disaat Tito dan Yoyo bingung mau jawab pertanyaan Darren. "Kan tadi kamu dengar sendiri kalau A moy dan A win tidak menyukai mereka. Apa lagi yang lain."
Deg!
__ADS_1
...@@@@@...