DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA

DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA
Harus Bisa Bertahan


__ADS_3

"Ah ... lega ..." Yoyo keluar kamar mandi setelah bermain dengan sabun untuk menuntaskan sesuatu yang dia tahan sejak pesta baju pantai sedari tadi. Dia segera beranjak menyusul Tito yang sedang berbaring di atas ranjang.


Tito pun sama, dia telah mengeluarkan bebannya sebelum Yoyo. Tito malah tidak menggunakan sabun sebagai alat bantu agar licin. Dia hanya menggunakan tangan karena memang benar benar sudah tak tahan karena ulah para majikannya.


Hampir semua lelaki dewasa pasti tidak tahan jika disuguhi wanita cantik dengan pakaian seksi dan memperlihatkan kemulusannya. Begitu juga yang di alami Tito dan Yoyo. Apa lagi dua anak muda yang usianya baru menginjak dua puluh empat tahun itu, sama sekali tidak pernah menyentuh yang namanya wanita. Pasti bersama para wanita cantik menjadi keajaiban yang luar biasa bagi mereka herdua.


Bahkan mereka bukan hanya melihatnya, tapi mereka mendapatkan kesempatan lebih dengan memeluk tubuh majikanya dan diam diam bisa menyentuh sesuatu yang berharga milik ke empat majikannya sekaligus. Bukankah itu sesuatu yang sangat langka? Bahkan belum tentu semua mendapatkan kesempatan itu.


"To."


Humm?"


"Apa mungkin aku bisa bertahan kerja disini sampai dua tahun? Belum satu minggu saja, godaannya begini banget. Lama lama, aku takut hilaf, To," keluh Yoyo sambil menatap langit langit kamar.


Tito tertawa lirih. "Hehehe ... aku sendiri juga nggak tahu, Yo. Yah, nggak munafik sih, aku suka dengan keadaan seperti ini. Kerjanya nggak berat berat amat. Majikan kita baik dan yah tentu saja kita mendapat bonus dengan melihat isiannya. Tapi kalau cuma melihat terus tanpa mencicipi ya mana tahan aku."


"Nah itu dia masalahnya, kita nggak bakalan bisa mencicipinya. Lagian kayak aku mana berani."

__ADS_1


"Sama, aku juga mana berani. Lagian niat kita kerja jauh jauh, kan, untuk menyenangkan orang tua. Kalau terjadi hal yang tidak kita inginkan, yang susah orang tua kita juga."


"Benar. Kita harus kuat dengan nahan godaan," balas Yoyo lalu dia bangkit dan duduk di tepi ranjang menghadap Tito. "Tapi aku heran deh, To. Mereka kok kayaknya nggak risih gitu tubuhnya di lihat lelaki lain. Bahkan dengan santai dan secara sadar, mereka malah membiarkan kita memeluknya. Heran aku tuh."


Sebelum membalas perkataan Yoyo, Tito pun bangkit dari berbaringnya dan duduk bersila kaki serta memangku bantal menghadap ke arah Yoyo. "Nggak perlu heran. Disini kan negara bebas. Dan kebanyakan penduduknya juga nggak punya agama. Yang punya agama aja bisa berbuat kayak gitu, apa lagi majikan kita. Bahkan di sini tuh, baru pacaran aja sudah tinggal bareng. Gila nggak tuh? Kalau di negara kita ya mungkin sudah jadi omongan warga sekampung."


"Hahaha ... benar juga yah? Majikan kita nggak punya agama. Dahlah, mending tidur. Apapun yang terjadi ke depannya aku harus bisa menahan godaann. Niatku disini cuma kerja, kerja dan kerja," tekad Yoyo dan dia pun kembali berbaring memunggungi Tito.


Sedangkan Tito hanya tersenyum mendengar ucapan Yoyo. Dia juga sama seperti Yoyo, niat datang ke sini hanya kerja. Tidak ingin ada masalah lain hingga dua tahun kedepan. Tito pun ikut merebahkan tubuhnya dan tak perlu menunggu waktu lama, kedua pemuda itu akhirnya terlelap.


Waktu terus berlalu dan kini pagi sudah menjelang. Dengan rasa kantuk yang masih melekat, Tito dan Yoyo bangun karena mendapat panggilan mendadak kalau anak anak nangis mencari mereka. Dan disinilah kedua pemuda itu berada. Di dalam kamar anak anak dan menggendong mereka.


"Ya maaf, sayang. Semalam Om ketiduran waktu nungguin Binbin pulang," balas Yoyo beralasan. Padahal yang sebenarnya, anak anak sudah pads tidur saat mereka pulang. Bahkan Yoyo yang menggendonng mereka dari mobil menuju kamarnya.


"Nanti malam Om tidur sama Binbin ya?"


"Oke!"

__ADS_1


A win yang kebetulan ada disana, hanya mengulas senyum melihat kedekatan Yoyo dan anaknya. "Yo, nanti abis sarapan kita keluar ya? Temani aku belanja."


"Terus Binbin gimana, Miss?"


"Ya ikutlah, kita pergi bertiga."


"Oh ...baik, Miss."


Sementara itu, Tito juga sedang menenangkan Zoe di kamar ibunya. Tadi begitu bangun, Zoe langsung meluncur ke kamar A moy dan menangis di sana mencari Tito.


"Harusnya semalam kamu tidur di kamar anak anak, To. Biar mereka nggak nyariin."


"Hehehe ... ya nggak tahu bakalan begini, Miss."


"hmm ... kalau kamu tidur di kamar anak anak. Saat bangun mereka nggak bakalan rewel dan kamu juga bisa ngintip ke kamarku lagi, To."


"Waduuh!"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2