
A zia nampak manggut manggut. "Aku tahu. Tapi yang sekarang aku mau tahu adalah perasan kalian. Jika semua janda mencintai kalian dan nggak ada yang ingin mundur atau mengalah satupun, apa yang akan kalian lakukan? Apa kalian akan tetap memilih salah satu? Atau memilih semuanya?"
Lagi lagi Tito dan Yoyo saling pandang dengan raut wajah yang jelas terlihat sangat terkejut. Yang pasti merekaa bingung jika dihadapkan pada situasi seperti itu.
"Kalau itu ya aku nggak tahu, Miss. Yang ada malah bingung," jawab Yoyo.
"Bener, Miss. Yang ada aku malah bingung. Jika milih salah satu, nanti ada yang kecewa dan sakit hati. Jika memilih semuanya nanti sama, ada yang kecewa dan sakit hati juga," Tito ikut memberi jawaban.
"Nah, iya! Aku takutnya gitu, Miss. Kecuali kalau mereka nggak mau mundur dan siap menerima diduakan atau ditiga cintakan ya nggak apa apa, aku bisa menerima cinta mereka semua."
"Setuju!" seru Yoyo.
"Dih! Kalian yang keenakan dong?" dumel A zia.
"Hahaha ..." Kedua pria yang ada disana terbahak bersama. "Ya gimana lagi, Miss. Ya resiko kan? Aku memilih juga nggak mungkin. Apa lagi kalau janda jandanya cantik dan baik, aku nggak bakalan tega menyakiti mereka, bukankah ditolak itu menyakitkan?" ucap Tito.
"Aku juga sependapat dengan Tito. Memilih itu sulit Miss. Apa lagi jika orangnya nggak tegaan kayak aku. Mana mau aku menyakiti wanita. Sama saja kan aku nenyakiti ibuku," sahut Yoyo.
__ADS_1
Untuk kesekian kalinya, A zia manggut manggut tanda mengerti dengan apa yang dikatakan kedua pemuda itu. Di saat A zia akan melanjutkan kata katanya, tiba tiba pintu kamar terbbuka dan ada Bibi Nur di sana.
"Yoyo! Di panggil, Miss A win. Binbin bangun," seru Bibi Nur.
"Oh iya, Bi. Aku kan segera kesana," balas Yoyo. Dia pun bergegas turun dari ranjang dan pamit pada A zia dan Tito untuk keluar kamar menuju kamar A win.
Sekarang di dalam kamar tinggal A zia dan Tito. Si janda menatap lekat lekat pemuda di hadapannya hingga pemuda itu menjadi salah tingkah. Sikap salah tingkah Tito semakin meningkat saat tangan A zia bergerak dan menempel pada pipi Tito dan mengusapnya.
"Aku tuh khawatir banget tahu, To, waktu dengar kamu dalam bahaya. Aku takut kamu kenapa kenapa," ucap A zia dengan tatapan penuh makna yang tersirat di dalamnya.
"Baik baik saja apanya. Orang penuh lebam kaya gini," oceh A zia sambil mengusap ujung bibir Tito yang terluka. "Ini pasti kena tonjok ya?"
"i-iya, Miss," jawab Tito gugup karena sekarang bibirnya sedang di usap usap dengan jempol tangan milik A zia.
"Pasti sakit banget saat dipukul," tebak A zia, lalu kepalanya maju dan A zia menempelkan bibirnya pada bibir Tito yang terluka.
Tito sontak saja mematung. Dia tidak bisa menghindar saat bibir milik majikannya menempel pada bibirnya dalam waktu yang cukup lama. Untuk sesaat, suasana mendadak menjadi hening. Hanya ada dua manusia yang sedang larut saling menikmati bibir masing masing.
__ADS_1
Berbeda dengan Tito, Yoyo justru masih merasakan aura kemarahan saat memasuki kamar A win. Terlihat disana, A win sedang rebahan di atas sofa sambil melihat acara televisi tanpa memandang ke arah Tito yang baru masuk. Hanya Binbin yang menunjukkan wajah cerianya saat melihat orang yang dia cari datang.
"Yeeah! Jagoan udah bangun?" seru Yoyo meski perasaannya tidak enak karena A win tetap diam.
"Kirain Om Yoyo menemani Binbin tidur, malah Binbin bangun, Om Yoyo tidak ada," anak itu merajuk sambil duduk meringsek kepada pangkuan penjaganya.
"Maaf, Sayang. Tadi Om kan harus mandi dulu. Binbin mau mandi atau mau ngapain dulu?"
Bukannya menjawab pertanyaan Yoyo, Binbin malah melempar permintaan pada sang Mommy. "Mom, jalan jalan yuk sama Om Yoyo. Binbin pengin main."
"Tanya aja sama Om Yoyo mau apa nggak? Kalau Mommy yang ngajakin, Om Yoyo bakalan langsung nolak dengan banyak alasan."
Yoyo terkejut mendengar jawaban A win yang sama sekali tak menoleh sedikitpun. Dia tersindir dengan ucapan sang majikan. Yoyo tidak menyangka kalau kemarahan A win bisa selama itu.
"Gimana, Om, mau ya?" tanya Binbin memastikan, dan Yoyo langsung mengiyakan. Hore! Jalan jalan!" sorak Binbin kegigarangan. Bocah lima tahun itu tidak mengerti kalau dua orang dewasa yang saat ini bersamanya sedang dalam suasana tidak bersahabat.
...@@@@@@...
__ADS_1