DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA

DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA
Rasa Takut Dua Ayah


__ADS_3

"Gimana? Apa kamu setuju dengan usulan William dan Darren?" tanya A win setelah semua pekerjaan beres dan kini waktunya makan siang. Wanita itu kembali menuju ruangan sahabatnya yang juga menjadi rekan keja A win juga.


A moy sedikit mendongak ke arah sumber suara sembari menutup laptopnya. "Kalau di pikir dengan baik sih aku setuju aja, Win. Tapi semua itu kan tergantung Tito dan Yoyo. Aku tidak boleh gegabah mengambil keputusan.


A win nampak manggut manggut sembari duduk di kursi yang ada di hadapan meja kerja A moy. "Tapi kenapa aku merasa mereka hanya akan memanfaatkan keadaan ya?"


Kening A moy sontak berkerut. "Keadaan? Keadaan yang bagaimana?"


A win mengangkat kedua pundaknya sejenak. "Entah ini perasaanku saja atau memang benar adanya. Aku merasa Darren dan William tahu kalau kita menyukai pembantu kita."


A moy semakin menatap lekat sahabatnya dengan pikiran yang sedang mencerna ucapan janda cantik itu. Dari gerak gerik mantan suaminya memang A moy merasa kalau Darren mengetahui tentang dirinya yang menyukai pembantunya sendiri. Apa lagi Darren dan William sempat menyinggung status Tito serta Yoyo di hadapannya yang terkesan mencibirnya makanya A moy menyangkal kalau dia ada hati pada Tito tadi saat Darren bertanya. Mungkin jika Tito mendengar hal itu, rasa kecewa Tito akan bertambah kepadanya.


Sementara orang yang sedang A moy pikirkan, kini sedang menuju ke tempat bermain bersama sahabatnya serta dua bocah yang dia jaga. Tito dan Yoyo pergi ke pusat permainan setelah dua bocah itu pulang sekolah. Harusnya sih mereka langsung pulang ke rumah, tapi karena rasa jenuh dan juga ingin melupakan sejenak beban pikiran, dua pemuda itu ingin menghibur diri sekaligus memenuhi rengekan Binbin dan Zoe yang merengek minta pergi ke pusat permainan.

__ADS_1


"Apa mungkin, uang tabungan kita berasal dari majikan kita?" tanya Yoyo saat dia dan sahabatnya sedang istirahat sembari mengawasi dua bocah yang sedang asyik main di wahana mandi bola.


"Kalau memang iya uang itu dari majikan kita, terus tujuan mereka apa memberi uang sebanyak itu? Untuk membayar atas penghinaan yang mereka lakukan atau karena kita bisa memuaskan hasrat mereka?" tanya Tito yang nampak masih kesal dengan sikap majikannya.


"Ya bisa saja kan? Mungkin menurut mereka, semua masalah bisa selesai dengan uang. Tahu sendirilah ya, mereka siapa dan kita siapa. Bisa saja mereka berpikir kalau kita akan luluh dengan mudah jika uang sudah berbicara," terang Yoyo sembari memaikan es kopi yang dia pegang lalau menyeruputnya.


"Hahaah ... sempit banget pikiran mereka," balas Tito tertawa getir. Terlihat sekali ada rasa kecewa pada diri pemuda itu. Cinta yang dalam pikirannya indah ternyata tidak seindah yang dia bayangkan. Bahkan Tito meragukan kata cinta yang keluar dari mulut para majikannya. Begitu juga dengan Yoyo. Entah karena nasib atau apa, dia selalu tak sengaja satu pemikiran dengan sahabatnya.


Belum lagi masalah yang baru saja menimpa mereka atas ulah dua wanita tak tahu diri yang menyerang anak anak, membuat beban pikiran mereka bertambah banyak dan cukup menyesakkan. Jelas sekali Darren dan William takut kalau anak anak mereka akan semakin membenci ayahnya karena kelakuan dua wanita tak tahu diri.


"Apa yang akan kamu lakukan pada Eva, Will? Apa kamu akan memberikan hukuman yang berat?" tanya Darren sembari menikmati secangkir americano yang baru saja tersaji di meja tempat dirinya berada.


"Tentu!" jawab William lantang. "Dia sudah terlalu jauh bertindak. Entah apa yang dia ingnkan, sampai selalu mengusik keamanan anakku," sambungnya sembari menikmati latte kesukaannya.

__ADS_1


"Yang pasti mereka tidak terima hancur sendirian. Mereka ingin kita juga hancur. Kalau bukan melalui anak, melalui siapa lagi?" balas Darren.


"Benar juga. padahal itu semua murni salah mereka yang memanfaatkan kita. Obsesi yang mengerika," ujar William sambil bergidig.


"Aku semakin takut, Will. Zoe itu mengenal Samanta, aku takut Zoe akan semakin membenciku karena wanita itu."


William tersenyum getir sembari menyesap kopi lattenya sejenak. "Ketakutan kita sama, Ren. Hidupku akan semakin hancur jika Binbin membenciku. Nggak kebayang jika sampai dewasa dia tetap membenci ayahnya, sangat mengerikan."


Dua duda tampan itu tersenyum kecut dengan nasib yang mereka alami karena ulah mereka sendiri. Hingga saat mereka sedang terdiam karena tidak ada bahan obrolan, keduanya dikejutkan dengan teriakan yang mereka dengar dari jarak yang cukup dekat.


"Daddy!"


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2