
"Mom."
"Hum? Apa, Sayangku?"
"Tadi Zoe main sama Daddy?"
"Apa!"
Kening A moy langsung berkerut dan menatap tajam ke arah anaknya. Lalu A moy mendongak menatap A win yang juga sama terkejutnya saat itu. Tatapan penuh tanya itu kembali dilayangkan ke arah bacah yang saat ini duduk dipangkuan A moy.
"Main sama Daddy? Zoe mimpi main sama Daddy?" tanya A moy memastikan. Mungkin karena Zoe baru bangun tidur jadi A moy menganggap kalau anaknya habis bermimpi main sama ayahnya. Tapi melihat Zoe menggeleng, membuat A moy kembali terkejut. "Main gimana maksudnya, Sayang?" tanya A moy lagi semakin penasaran.
"Iya, tadi Zoe main sama Daddy, makan bareng, seru pokoknya," jawab Zoe tapi masih membuat bingung dua wanita yang ada di sana.
"Dia mimpi kali, Moy," bisik A win, karena takut Zoe tersinggung dan membantah.
__ADS_1
"Oh gitu. Wah! Pasti seru?" tanya A moy pura pura percaya dengan cerita anaknya. Di saat Zoe sedang menjawab pertanyaan A moy, Binbin malah membuka matanya dan memanggil sang mommy.
"Eh anak Mommy udah bangun juga!" seru A win sembari menghampiri Binbin di atas ranjangnya. "Anak Mommy pada tidur jam berapa sih? Kok sore banget bangunnya? Biasanya Mommy pulang kerja, kalian sudah pada mandi, udah bersih dan wangi."
Bocah kecil itu pun tersenyum sembari menaruh kepalanya dipangkuan sang Ibu. "Binbin capek, tadi Binbin main sama Daddy, seru banget!"
A win sontak terkesiap. Begitu juga dengan A moy. Dua Ibu itu kembali saling pandang sejenak karena sama sama terkejut. "Kok Bisa, sayang? Binbin ketemu Daddy dimana?" tanya A win sembari menatap anaknya.
"Di Mall. Tadi pulang sekolah, Binbin maen di Mall terus ketemu Daddy," jawab Binbin apa adanya.
Mendengar jawaban dari Binbin, A win malah sedikit emosi, karena tidak biasanya anak anak pulang sekolah langsung main. Begitu juga dengan A moy. Apa lagi sampai anak anak kelelahan.
"Kalian kenapa nggak bilang ngajak anak anak main setelah pulang sekolah?" tanya A win langsung ke intinya, begitu dia sudah berada di kamar Yoyo dan Tito. Tentu saja kedua pemuda itu terkejut mendengar pertanyaan dari majikannya. "Apa kalian sudah janjian sama Darren dan William? Iya?"
"Apa! Janjian?" pekik Yoyo yang saat itu baru saja selesai memakai baju setelah mandi.
__ADS_1
"Nggak usah mengelak!" bentak A win dengan segala amarah yang membuncah. "Aku tahu kalian pasti sudah janjian sama mereka, bukan? Dibayar berapa kalian oleh mereka?"
"Apa! Dibayar?" Yoyo dan Tito semakin terkejut mendengar tuduhan dari majikannya.
"Ya! Kalian dibayar berapa sampai kalian mengajak anak anak main setelah pulang sekolah untuk ketemu sama ayahnya? Apa kalian nggak mikir, kalau anak anak sakit karena kelelahan gimana? Apa kalian mau tanggung jawab? Hah!" A win semakin lantang meluapkan amarahnya.
Yoyo dan Tito benar benar dibuat bungkam. Mereka seperti tidak diberi kesempatan untuk membela diri.
"Kalian kenapa sih bisa ceroboh seperti itu?" A moy ikut memberi tuduhan dengan ucapan yang lebih pelan. "Kalian kan bisa memberi kabar kepada kami? Apa karena masalah kemarin, sampai kalian merencanakan pertemuan Zoe dan ayahnya diam diam? Aku nggak nyangka kalian bisa berpikir seperti itu. Coba kalau anak anak nggak bilang, apa kalian akan cerita kalau anak anak ketemu sama ayah mereka? Tidak kan? Kalian kalau marah sama kami karena masalah kemarin, ngomong! Bukan malah merencanakan sesuatu yang mengecewakan."
"Udah, Moy, kembalikan saja mereka ke agen. Nggak perlu mereka kerja disini lagi. Di kasih kepercayaan malah menyalahgunakan kepercayaan kita!" hardik A win dengan tatapan tajam penuh amarah.
Deg!
Rasa terkejut dua pemuda itu, semakin bertambah besar. Tanpa mau mendengar penjelasan dari mereka, A win langsung mengambil keputusan yang tidak terduga. A win bahkan langsung pergi begitu saja. Sedangkan A moy masih menatap keduanya dengan tatapan penuh amarah dan kecewa. Tapi tak lama setelahnya dia pun pergi meninggalkan Yoyo dan Tito yang masih terbungkam karena syok mendengar pemecatan yang baru saja terjadi kepada mereka.
__ADS_1
"Baiklah, pada akhirnya kita yarus tetap sadar diri posisi kita sebagai apa disini," ucap Tito penuh dengan rasa kecewa.
...@@@@@...