
"Om Yoyo."
"Apa jagoan?"
"Om Yoyo mau nggak jadi pelindungnya Mommy?"
Sontak A win dan Yoyo tertegun mendengar pertanyaan dari bocah laki laki yang duduk di kursi belakang. Bahkan kedua orang dewasa itu sempat saling lirik dan mendadak menjadi canggung hanya karena sebuah pertanyaan sederhana dengan jawaban yang sederhana juga. Tinggal jawab mau atau tidak udah beres. Tapi bagi orang dewasa, pertanyaan seperti itu memiliki arti yang luas. Tidak sesederhana seperti pikiran bocah.
"Loh? Om Yoyo kan kerja di rumah kita memang untuk melindungi Mommy juga, Sayang. Melindungi Mommy A moy, Melindungi Mommy A ling dan Mommy Mommy semuanya," jawaban A win cukup masuk akal dan itu menjadi penyelamat bagi Yoyo karena dia memang tidak memiliki ide untuk menjawab pertanyaan anak itu.
"Oh ... gitu ya, Mom?"
"Iya, Sayang."
"Binbin kira, Om Yoyo mau jadi pelindungnya Binbin aja?"
"Ya tidak, Om Yoyo dan Om Tito menjadi pelindunginya Mommy Mommy juga. Tapi kalau semua Mommy lagi pada kerja, Om Yoyo dan Om Tito yang akan menjaga Binbin tiap hari."
"Nggak lah, Mom, Binbin maunya sama Om Yoyo aja."
"Loh, kenapa?"
__ADS_1
"Kata Zoe, Om Tito sudah menjadi miliknya Zoe, jadi Om Yoyo juga miliknya aku."
"Hahaha ... yayaya terserah kamu saja, Sayang. Kalau kamu maunya sama Om Yoyo terus juga nggak apa apa. Tapi Om Yoyonya mau enggak?"
"Mau ya, Om?"
"Tentu mau dong, Jagoan, Om akan selalu jagain Binbin," jawab Yoyo, dan seketika Binbin bersorak kegirangan. Sementara Yoyo dan A win hanya saling senyum melihat betapa senangnya anak kecil itu hanya karena suatu hal yang sangat sederhana. Tanpa terasa, mobil yang dikendarai Yoyo sudah sampai di tempat tujuan. Setelah mobil terparkir mereka segera saja masuk mencari barang yang A win inginkan.
Sementara itu di rumah, Tito sedang bermain bersama Zoe di taman belakang. Dari berlatih bela diri, main bola, berenang, dan sebagainya. Disana, Tito memang harus bisa menyesuaikan diri dengan pekerjaannya. Dia kadang harus bertingkah seperti anak kecil agar bisa mengimbangi Zoe.
Kadang Tito berpikir, anak seusia Zoe, seharusnya main bersama anak anak juga, sama seperti anak anak kecil yang ada di kampungnya. Namun Tito juga sadar, kehidupan orang kaya yang tinggal di perumahan elit memang beda jauh dengan kehidupan di kampung.
Sementara itu, di sebuh ruangan, A moy nampak sedang memeriksa berkas dari beberapa klien yang akan memakai jasa Wedding organizernya. Sesekali kepalanya menoleh dan melihat keadaan anaknya yang sedang bermain dengan Tito. Sesekali juga senyum A Moy terkembang saat menatap kearaban anak dan penjaganya.
"Sibuk, Kak?" suara seseorang sejenak mengalihkan perhatian A moy pada kertas kertas dihadapannya.
"Yah, nggak juga, Ling. Baru bangun?" ucap A moy sejenak memandang seseorang yang datang lalu kembali menunduk melihat kertas kertas di atas meja.
"Iya nih, Kak. Kepalanya berat banget," jawab A ling sambil mengetuk kepalanya beberapa kali.
"Pasti semalam kalian mabuk berat ya?"
__ADS_1
"Hehehe ... ya gitulah, Kak. Namanya juga pesta."
A moy nampak manggut manggut. Dia juga kalau sedang di dalam pesta atau acara ngumpul ngumpul bersama teman dan yang lainnya, selalu berakhir dengan mabuk berat. Jadi dia juga mengerti jika A ling juga melakukan hal yang sama.
"Tapi kok semalam kayaknya, Tito sama Yoyo, masih segar aja, bau alkoholnya juga nggak mencolok sama sekali?"
"Hahaha ..." tawa A ling tiba tiba meledak membuat kening A moy berkerut dan menatapnya. "Mereka sama sekali nggak minum minuman yang beralkohol, Kak. Mereka juga sering bengong gitu. Mereka baru mengalami pesta semacam itu katanya."
Sontak senyum A moy terkembang. "Wajarlah, jangankan pesta seperti itu. Pacaran aja mereka belum pernah."
"Hah! Belum pernah pacaran? Cowo setampan Yoyo dan Tito?" tanya A ling terkejut.
"Belum, mereka yang cerita sendiri."
"Pantas saja, saat kami ngajak joget sambil berperlukan, mereka diam gitu. Sakalinya mau joget, gerakannya kaku banget. Ternyata mereka polos banget."
"Ya seperti itu lah mereka."
"Hmmm, berarti aku harus sering sering ngajak mereka ikutan pesta ya, Kak?"
...@@@@@...
__ADS_1