
"Ini Tuan gantungan kunci anda," Tito menyerahkan benda kecil yang dia simpan di dalam tas miliknya.
Darren pun menerimanya dengan sangat senang. Ternyata gantungan kunci itu adalah sebuah flashdisk berisi rancangan produk produk perusahaan William di masa depan. Ada juga beberapa data yang memang kalau disalah gunakan bisa berakibat fatal.
"Terima kasih, To. Hanya demi melindungi benda ini, kamu hampir saja kehilangan nyawa kamu," balas Darren merasa tak enak hati.
"Bagaimana? Apa kalian sudah memikirkan penawaran kami?" Kini William yang bertanya. Ke empat pria dewasa itu memang sedang berada di dalam satu kamar yang sama, dimana kamar itu adalah kamar baru yang akan di huni Tito. Kedua pemuda itu mulai resmi pindah kamar dan tidur terpisah.
"Maaf, Tuan. Saya pribadi memilih pekerjaan di rumah ini saja. Saya sudah nyaman dengan anak anak," Yoyo yang menjawab.
"Kamu sendiri, To?"
"Sama, Tuan. Saya mending tetap menjaga Zoe. Biar bagaimanapun, saya kurang siap bertarung dengan segala tuntutan pekerjaan kantoran."
Darren tersenyum tipis. "Baiklah, jika itu sudah keputusan kalian. Tenang saja, kami akan ikut menggaji kalian, biarkan kalian semakin betah dalam bekerja."
Di saat mereka sedang asyik berbincang, dua bocah yang ada di rumah itu datang sambil berlarian diikuti dua janda yang sedang menenteng tas.
"Binbin mau kemana? Kok udah rapi dan wangi?" tanya Yoyo saat bocah itu meringsek ke dalam pangkuannnya.
"Binbin mau ke rumah Daddy, mau ketemu Oma dan Opa," jawab bocah itu nampak antusias dan semangat.
"Wah! Om Yoyo ditinggal dong?" Yoyo pura pura sedih.
"Kan biar Om Yoyo bisa istirahat. Kata Mommy, Zoe sama Binbin sementara jangan gangguin Om dulu. Biar Om Tito cepat sehat, gitu."
__ADS_1
"Zoe juga ikut sama Daddy?" kini Tito bertanya dengan wajah terlihat terkejut.
Bocah yang duduk di samping Tito itu mengangguk cepat. "Iya, Om. Tapi besok Zoe pulang kok, Om. Zoe nggak akan lama perginya."
"Baiklah, Zoe jaga diri baik baik ya?"
"Oke, Om."
Setelah basa basi sejenak usai, akhirnya William dan Darren pun pamit. Semua keluar kamar, meninggalkan Tito dan Yoyo.
"Akhirnya, ada waktu juga bisa lepas dari anak anak," ucap Yoyo merasa lega. "Sepertinya malam ini, aku akan tidur sangat nenyak."
"Hahaha ..." Tito malah tergelak. "Mana mungkin bisa tidur nyenyak."
"Lah kenapa?"
Yoyo langsung menepuk keningnya sendiri. "Mereka pasti bakalan berebut lagi nih. Haduhh! Bakalan lembur lagi malam ini."
"Hahaha kalau aku kayaknya enggak deh, aku kan ada alasan sedang terluka."
"Ah iya! Harusnya aku juga terluka ya, To. Menolak kerja kantoran karena nggak mau lembur eh disini malah lemburnya berhubungan badan dengan para janda. Sialan! Untung mereka cantik cantik."
"Hahhaa ... Tapi aku pikir, kita harus membuat keputusan sih, Yo. Kita harus tegas sama janda janda itu."
"Tegas gimana?"
__ADS_1
"Begini ..." Tito pun menceritakan apa yang ingin dia lakukan pada tiga janda mencintainya.
"Wah! Benar juga, ide bagus itu, To."
"Makanya, kita harus tegas, Yo."
"Baiklah, aku juga akan mengambil cara yang sama juga, demi kebaikan bersama."
Setelah ngobrol cukup lama, Yoyo lantas pamit ingin istirahat di kamarnya. Yoyo turun dari ranjang dan beranjak meninggalkan sahabatnya menuju kamar sebelah.
Sedangkan di ruang lain, para janda terlihat sedang berkumpul karena memang ada pembahasan tentang pekerjaan. Tentu saja mereka semua sudah menjenguk keadaan Tito. A moy dan A win juga terlihat sudah berada di sana setelah mengantar anak anaknya pergi.
"Aku tuh masih merasa heran, kok bisa gitu, musuhnya Darren sampai menyerang kesana," ucap A ling. "Bikin kesel aja."
"Yah, aku juga nggak tahu, bakalan kayak gini. Coba kalau kita tidak piknik, Tito pasti baik baik saja," balas A moy penuh rasa sesal.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan, kak. Semuanya juga sudah terjadi. Yang penting orang yang kita cintai saat ini baik baik saja," A zia ikut bersuara.
"Ngomong ngmong soal orang yang kita cintai, apa kita akan selamanya begini terus?" A mey bertanya dengan tatapan yang terlihat sangat serius.
"Begini bagaimana maksudmu, Mey?" tanya A win.
"Ya kita akan terus bersaing memperebutkan cinta Tito dan Yoyo. Apa selamanya akan begitu?"
"Yah, kita memang butuh kepastian," ucap A shang. "Bagaimana kalau kita sidang mereka bersamaan? Tiga orang menginterogasi satu pria yang dicintai bersama, gimana?"
__ADS_1
...@@@@@@...