
"Beneran, Mom? Binbin boleh main ke kamar Om Yoyo?"
"Boleh, Sayang."
"Horre! Makasih Mom!"
Cup!
Dengan wajah yang kembali ceria, bocah itu langsung saja lari ke luar kamar menuju kamar pria penjaganya. A win melepas kepergian anaknya dengan senyum yang terkembang serta rasa bersalah yang masih tersisa dalam dadanya.
"Senang yah, melihat anak kembali tersenyum," sebuah suara datang menghampiri A win yang sedang diam terpaku di atas ranjang anaknya. Wanita itu menoleh dan tersenyum kepada si pemilik suara.
"Zoe mana? Apa dia ke kamar Tito juga?" tanya A min pada wanita yang kini duduk di ranjang anak yang lainnya.
"Sejak tadi dia merengek terus minta sama Omnya. Sebesar itu sayang Zoe sama Tito," ucap A moy yang merasa gemas membayangkan sikap anaknya.
A win lantas tersenyum. "Kebahagiaan anak anak memang sangat sederhana. Tapi orang dewasalah yang membuat kebahagiaan itu menjadi rumit, kayak kita."
A moy pun ikut tersenyum. "Yah, kamu benar. Hanya karena kita ingin bahagia, kita malah menyakiti orang yang kita cintai. Akibatnya mereka jadi ragu sama kita."
"Yah salah kita juga sih terlalu gegabah menuruti amarah. Akhirnya jadi berantakan begini. Ditambah lagi mereka ketemu sama ayahnya anak anak, makin kacau jadinya."
__ADS_1
"Hahaha ... benar. Sekarang, aku nggak tahu lagi Win, cara mendekati Tito kayak gimana. Dia pasti udah sangat ragu dengan cintaku."
A win sontak tersenyum kecut. Apa yang A moy rasakan, sudah pasti kalau dia merasakann kegalauan yang sama juga. Untuk saat ini, kedua janda itu memang tidak bisa melakukan apa apa. Rasa bersalah yang amat besar, membuat mereka tidak memiliki ide untuk meluluhkan hati dua pemuda itu.
Di saat dua janda itu sedang dilanda dilema yang mendalam karena dua pria, Justru dua pria yang membuat mereka dilema sedang tertawa riang bersama anak anak di kamarnya. Kehadiran Zoe dan Binbin, nyatanya cukup menghibur hati Yoyo dan Tito yang sedari tadi dibuat kalut karena keadaan.
"Itu koper siapa, Om?" tanya Zoe di sela sela suara tawanya.
"Koper Om, Sayang."
"Om mau pergi?" tanya anak itu langsung menatap tajam ke arah Tito.
"Kalau kopernya ada dua, satunya milik Om Yoyo?" Yoyo pun mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Binbin. "Om Yoyo jangan pergi," rengek Binbin yang langsung melingkarkan tangannya di leher pemuda itu.
"Terus itu koper buat apa? Kan kalau ada koper berarti mau pergi, Om?"
"Siapa bilang? Om cuma lagi bersih besih tadi. Mumpung Zoe lagi tidur jadi Om Tito sama Om Yoyo bersih bersih kamar."
"Beneran?" tanya Zoe sembari menatap lekat mata Tito. Dengan senyum terkembang, Tito pun menangangguk. Zoe langsung tersenyum dan kembali memeluk penjaganya.
"Apa Zoe sayang sama Om?"
__ADS_1
"Sayang banget," jawab Zoe lantang dan antusias.
Hati dua pemuda itu menghangat. Entah keputusan apa yang akan mereka ambil, yang pasti mereka tidak ingin egois juga. Melihat bocah kecil yang nampak tulus menyayangi mereka, tentu saja membuat Yoyo dan Tito tidak ingin meninggalkannya. Akhirnya mereka pun bingung sendiri untuk mengambil keputusan yang terbaik untuk mereka dan semuanya.
Keempat pria beda usia itu kembali melanjutkan permainan. Bahkan Bibi Nur dan Bibi Sri juga ikut bergabung, menambah keseruan permainan mereka. Hingga malam yang terus menuju larut, akhirnya rasa kantuk menyerang kdua bocah yang ada disana. Mungkin karena masih anak anak, baru pukul sembilan kurang sedikit, keduanya sudah terlelap di ranjang milik penjaganya.
"To,"
"Hum? Apa?"
"Rasanya aku nggak tega meninggalkan Binbin. Dia kayak takut banget waktu lihat koper," ucap Yoyo sembari mengusap kening bocah yang terlelap di dekatnya.
"Ya sama," Tito menimpali. "Nggak kebayang deh sedihnya mereka kayak apa kalau kita nekat pergi. Orang ditinggal pergi sehari aja, nangisnya kejer, berkali kali telfon. Apa lagi kalau kita pergi dan nggak kembali lagi kesini, bakalan jadi anak pendiam lagi mungkin."
"Jadi, kita harus bagaimana? Apa kita bertahann di rumah ini?"
Tito mengangkat kedua bahunya. "Aku sendiri nggak tahu, keputusan apa yang harus aku ambil. Mending kita antar anak anak ke kamar mereka, yuk."
Yoyo mengiyakan. Anak anak digendong untuk pindah kamar. Mereka hanya memindahkan tanpa ada niat untuk tidur di kamar anak anak. Dengan segenap rasa canggung, mereka memasuki kamar anak anak dan meletakan kedua bocah di atas ranjanganya masing masing lalu mereka langsung keluar.
Begitu Tito dan Yoyo keluar dari kamar anak anak, mereka dikejutkan dengan suara, "Yoyo, Tito, ikut kami!"
__ADS_1
Deg!
...@@@@@@@...