
"Bagaimana?"
"Darren sedang menuju ke sini."
"Baguslah, sekarang kita harus bagaimana? Apa kita mencari mereka juga, Moy?"
"Iyalah, aku takut mereka kenapa kenapa."
"Ya udah, Ayo."
Dua janda cantik itu lantas meraih pakaian tipis yang tergeletak di sisinya untuk menutupi tubuh mereka karena mereka saat ini sedang memakai pakaian renanng yang super seksi. Keduanya beranjak menuju ke arah yang tadi dilwewati Yoyo dengan perasaan yang tak tidak karuan. Rasa panik yang teramat sangat jelas tergambar di wajah dua ibu itu. Sedangkan bocah kecil yang ada dalam gendongan ibunya, hanya terdiam seakan mengerti dengan keadaan yang sedang terjadi.
Mendengar kabar tak sedap dari mantan istrinya, tentu saja Darren naik pitam. Dia langsung bergerak cepat bersama anak buahnya menuju lokasi yang jaraknya lumayan jauh. Tak lupa dia juga menghubungi William karena Darren tahu anak dan mantan istri William juga sedang berada di tempat yang sama.
"Siapa lagi yang membuat masalah denganmu, Ren?" tanya William yang sekarang sudah satu mobil pribadi milik Darren.
"Tidak tahu, Will. Aku merasa, aku tidak punya musuh," jawab Darren dengan perasaan yang sangat cemas.
"Apa ini ada hubungannya dengan Samanta?" terka William yang juga merasa cemas karena anak dan mantan istrinya juga berada di tempat yang sama.
"Aku tidak yakin, karena dia saat ini ada dipenjara. Dia pasti tidak bisa berulah lagi."
__ADS_1
William tertawa sinis. "Jangan remehkan orang yang ada di penjara, Ren. Bisa jadi ini ada sangkut pautnya dengan wanita itu."
"Jika benar ini adalah kerjaan wanita sialan itu. Aku rasa jalan yang tepat untuk Samanta adalah dengan menghentikan nafas hidupnya," jawab Darren dengan tangan yang terkepal kuat.
"Harus itu!"
Rasa panik juga tergambar jelas di wajah Tito karena keselamatan dirinya dan bocah dalam pangkuannya saat ini jelas terancam. Sebuah todongan senjata api yang ditutupi sapu tangan membuat pemuda dua puluh empat tahun itu harus berpikir cepat agar dia dan Zoe bisa selamat.
"Bagaimana? Apa yang anda pilih? Nyawa atau serahkan gantungan kunci itu?" pria bernama David itu menyeringai dengan penuh kemenangan.
"Sudah saya bilang benda itu tidak ada pada diri saya. Tanyakan saja sama orang yang memberi informasi. Sudah benar atau belum dengan informasi yang dia berikan?" balas Tito dengan sikap yang dibuat setenang mungkin.
David yang mendengar jawaban Tito tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan tentu saja naik pitam. Senyum liciknya langsung terkembang sembari menatap rekannya yang memegang senjata api. "Sepertinya anda tidak sayang dengan nyawa anda dan anak itu."
Namun sayang senyuman licik David langsung menghilang begitu dia dikejutkan dengan apa yang terjadi pada rekannya.
Brak!
"Akhh!"
Pria pemegang senjata api itu meringis kesakitan karena kepalanya dihandam memakai kursi taman dari belakang. Bukan hanya itu, tangan yang memegang senjata juga dihantam dengan sangat keras hingga senjata api yang dia pegang terlepas dan jatuh ke dalam tanah.
__ADS_1
"Sialan!" pria itu langsung menoleh kebelakang. Begitu dia melihat wajah yang menyerangnya, dia hendak memberi perlawanan. Namun orang yang menyerangnya bertindak lebih cepat, dia mendapat serangan kembali.
Tentu saja semua itu terjadi karena ulah sahabat Tito. Yoyo yang sedari tadi diam sembari menyaksikan gerak gerik Tito dan dua orang itu, langsung ambil tindakan begitu keadaan terlihat sangat genting.
David ternganga melihat kejadian yang menimpa anak buahnya. Melihat ada kesempatan bagus. Tito langung memanfaatkan keadaan dengan mengepalkan tangannya dan melayangkannya ke rahang David yang setengah membungkuk karena hendak merebut Zoe.
Bugh!
"Akh! Sialan!" murka David. Tapi dia tidak bisa melawan karena Tito bukan hanya sekali menghantamnya, tapi beberapa kali.
Setelah memberi beberapa kali hantaman pada rahang dan perut David, Tito bergeser menjauh dan bangkit dengan memeluk tubuh Zoe dengan sangat cepat. Tito berpikir keras untuk menyelamatkan Zoe terlebih dahulu. Sedangkan Yoyo sedang sibuk duel dengan anak buah David yang ternyata cukup kuat dan bisa mengimbangi serangan Yoyo meski kepalanya terluka.
David hendak mengejar Tito, tapi matanya menangkap senjata yang tergeletak. David tidak menyia nyiakan kesempatan itu. Denggan gerakan cepat dia meraih senjata api dan mengarahkannya ke arah Tito.
"Mati kau!" teriak David.
Mata Yoyo langsung membelalak. "Tito, Awas!"
Tito berbalik badan, matanya membelalak melihat David mengacungkan senjata ke arahnya.
Dor!
__ADS_1
...@@@@@@@...