
"Loh kok tidak tahu? Binbin Juga harus bisa memaafkan Daddy dong?"
"Apa itu harus?"
"iya dong. Binbin kan anak yang hebat kayak Om Yoyo."
"Kalau begitu, kenapa Om Yoyo tidak menjadi Daddy Binbin aja?"
Deg!
Kedua orang yang berada di sisi kiri dan sisi kanan Binbin begitu terkejut mendengar ucapan bocah itu. Keduanya juga saling lirik satu sama lain. Yang satu merasa senang dengan ucapan si anak, sedangkan yang satu lagi merasa bingung karena ucapan tersebut.
Menjadi Daddy? Apakah Yoyo siap? Bisa saja Yoyo sudah siap jika jalannya mudah. Tapi dari pandangan pemuda itu, sepertinya akan sulit jika dia menjadi ayahnya Binbin. Selain saingannya pria kaya dan dirinya hanya pembantu biasa, Yoyo yakin orang tuanya juga akan melarangnya.
"Emang Binbin sudah pengin dapat Daddy yang baru?" tanya Pak Li lagi seakan dia tidak peduli dengan kecanggungan yang ada di jok belakang.
Bocah itu malah mendadak murung. "Belum," jawab Binbin pelan tapi kembali membuat dua orang disebelahnya merasa terkejut.
"Kenapa?" tanya Pak Li yang secara tak langsung mewakili rasa penasaran Yoyo dan A win.
__ADS_1
"Binbin takut Mommy nanti masuk rumah sakit lagi," jawaban Binbin membuat semua yang ada di dalam mobil terhenyak. Ternyata anak itu masih trauma dengan apa yang terjadi pada ibunya.
"Udah, jangan terlalu dipikirkan," Yoyo akhirnya mengeluarkan suaranya. "Kan Om sudah pernah bilang, kalau Daddy itu bukan orang jahat, hanya ..."
"Hanya orang yang dipengaruhi orang jahat," sambung Binbin antusias, memotong ucapan Yoyo sembari mendongak, menatap wajah penjaganya.
"Nah! Itu Binbin masih ingat. Jadi Binbin jangan hanya mengingat kesalahan Daddy aja, tapi Binbin juga harus bisa mengingat kebaikan Daddy selama ini. Bukankah Daddy sangat baik sama Binbin?"
Bocah itu manggut manggut menggemaskan. "Iya, Daddy orangnya baik. Binbin selalu diajak jalan jalan, beli jajan yang banyak, mainan yang banyak. Pokoknya Daddy tidak pernah marah sama Binbin."
"Nah, yang harus diingat itu kebaikan Daddy kepada Binbin. Kan karena Daddy juga Binbin ada disini menjadi anak yang lucu dan penyemangat Mommy. Jadi Binbin tidak boleh selalu marah sama Daddy. Apa lagi membencinya, itu tidak baik. Binbin harus jadi anak yang baik," ucap Yoyo penuh kelembutan.
A win hanya terdiam menyaksikan kedekatan dua pria beda usia yang sedang berbicara dari hati ke hati. Jujur, A win takjub dengan cara Yoyo memberi nasehat pada anaknya. Selama ini tidak ada yang berkata selembut dan sebijak itu kepada Binbin. Bahkan seorang psikolog malah memberi saran agar Binbin menjauh terlebih dahulu dari ayahnya.
Dengan sikap yang ditunjukkan Yoyo terhadap Binbin saat ini, menambah rasa kagum si janda cantik pada pemuda yang telah mencuri hatinya. Bayangan kalau Yoyo menjadi Daddy baru bagi Binbin, membuat A win ingin tersenyum tapi dia tahan karena takut kepergok Yoyo. Yang pasti karena kejadian ini, rasa cinta dalam hati A win pun semakin nampak nyata.
Seperti yang sudah direncanakan, begitu sampai rumah, Tito dan Yoyo istirahat di kamar majikannya masing masing. Dengan alasan anak anak, semua orang rumah percaya dengan alasan yang dibuat A win dan A moy. Nyatanya kedua janda cantik itu memang memanfaatkan kedekatan anak anak mereka untuk membuat Yoyo dan Tito jatuh cinta pada majikannya.
Tentu saja cara yang digunakan A moy dan A win membuat janda yang lain merasa resah. Empat janda itu juga ingin merawat Yoyo dan Tito. Tapi sepertinya peluang mereka sangat tipis. Bukannya mereka tidak suka dengan cara yang dilakukan A win dan A moy, mereka hanya cemburu karena hanya dua janda beranak saja yang merawat pria incaran mereka.
__ADS_1
"Sepertinya peluang aku untuk mendapatkkan cinta Tito semakin menipis deh," keluh A zia. Saat ini ke empat janda sedang ada di ruang karaoke.
"Sama. Aku juga merasa, bakalan sulit membuat Yoyo jatuh cinta sama aku," A shang pun ikut mengeluh.
"Ya jangan nyerah gitu, dong. Cinta itu harus diperjuangkan," ucap A mey sok bijak. Padahal hatinya sama, ketar ketir.
"Percuma berjuang kalau yang diperjuangkan sepertinya jauh dari jangkauan," ucap A zia nampak tak bersemangat.
"Apa kalian mau nyerah sebelum perang?" tanya A ling. "Kalau mau menyerah ya malah kebetulan sih, sainganku jadi berkurang."
"Gimana mau berjuang kalau di depan mata kita aja udah jelas kalau kita bakalan kalah," ucap A shang.
"Kita belum kalah, mereka kan belum resmi pacaran," balas A ling.
"Apa aku memilih jalan pintas aja ya? Misalnya aku hamil anak Yoyo gitu?"
"Waduh!"
...@@@@@@@...
__ADS_1