DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA

DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA
Celoteh Anak Anak


__ADS_3

"Mom," Zoe kembali bersuara.


"Hum? Apa, Sayang?"


"Apa Mommy mau menikah dengan Om Tito?"


Tiga orang dewasa yang ada di dalam mobil sontak saja terkejut dengan pertanyaan yang baru saja Zoe lontarkan. Tito dan A moy yang memang duduk bersebelahan dengan Zoe sebagai pembatas, langsung saling pandang satu sama lain. Sedangkan Pak Yoko yang bertindak sebagai supir senyum senyum sambil matanya fokus menatap ke arah depan.


"Kok Zoe bertanya seperti itu? Emang Zoe tahu, menikah itu apa?" tanya Pak Yoko yang sukses membuat pria dan wanita yang saling pandang tersadar dari rasa terkejutnya dan langsung saling memutuskan pandangan mereka dengan rasa canggung.


Perasaan keduanya langsung campur aduk saat ini. Jika A moy terbesit ada rasa bahagia, Tito justu malah bingung dan gelisah. Pikirannya langsung kemana mana hingga sampai mengarah kepada orang tuanya.


"Tahu dong," jawab Zoe sembari berdiri di belakang kursi yang diduduki Pak Yoko.


"apa itu? tanya Pak Yoko antara gemas dan penasaran.


"Menikah itu yang seperti ... emm ..." Zoe mendongakkan kepalanya sembari berpikir. Sejenak kemudian matanya langsung bersinar. "Tidak tahu."


"Hahaha ... masa tidak tahu? Katanya tadi tahu?" tanya Pak Yoko.


"Zoe kan sering diajak menikah sama Nei lam, Pak Ko."


"Nei Lam itu siapa, sayang?" tanya A moy gemas dengan tingkah anaknya.

__ADS_1


Zoe menoleh. "Teman sekolah Zoe, Mom. Kata Nei Lam, Zoe harus menikah dengan Nei Lam. Ya Zoe mau aja, terus Zoe di kasih permen."


Mendengar penuturan Zoe, senyum ketiga orang dewasa yang ada disana langsung melebar. Zoe benar benar menggemaskan.


Di dalam mobil lain yang juga berisi tiga orang dewasa dan satu bocah laki laki, juga terjadi obrolan yang cukup seru. Sama hal nya dengan Tito, Yoyo juga diminta istirahat di kamar A win. Awalnya Yoyo menolak, tapi kuasa A win dan rengekan dari Binbin membuat pemuda itu tidak bisa melakukan penolakan lagi. Bahkan Binbin dengan antusias berkata, akan ikut merawat Yoyo sampai sembuh.


"Tapi tadi Om Yoyo hebat, berkelahinya keren, Hiyaat! Ciiiyaaat!" seru Binbin dengan penuh semangat menirukan gerakan Yoyo saat berkelahi. Tentu saja, tingkah bocah itu, membuat orang orang disekitarya tersenyum lebar.


"Bukan berkelahi, Sayang, tapi membela diri dan melindungi Binbin," ucap Yoyo meralat perkataan anak kecil itu.


"Tapi kan sama saja berkelahi, Om," protes Binbin.


"Ya beda dong. Kalau berkelahi itu yang menyerang duluan. Kayak orang orang tadi, Bukankah tadi Binbin lihat, orang orang itu menyerang Om Tito duluan?"


Tiga orang dewasa yang ada disana langsung terksiap mendengar perkataan bocah yang masih teringat kejadian yang menimpa A win yang dihajar oleh William. Mereka jelas saja bingung mau menjawab apa atas pertanyaan Binbin. Terutama A moy dan Yoyo.


"Ya bukan begitu, Sayang," bantah Yoyo yang langsung berpikir cepat agar sang anak tidak larut dalam ingatan buruk yang dia alami. "Kalau Daddy kan minta maaf. Berbeda dengan orang orang tadi. Mereka langsung kabur, tidak mau meminta maaf. Sedangkan mereka salah. Binbin tahu kan, kalau salah itu harus minta maaf?"


Binbin kembali menganguk beberapa kali. "Tapi kok Daddy tidak minta maaf sama Mommy?"


"Kata siapa?" A win yang menjawab. "Daddy sudah minta maaf sama Mommy."


Bocah itu langsung menoleh, menatap ke arah sang Mommy. "Kok Binbin nggak lihat?"

__ADS_1


A win sontak tersenyum sembari mengusap kepala anaknya. "Kan Binbin tidak mau melihat Daddy, jadi Daddy minta maaf pada saat Binbin nggak ada," terang A win.


"Oh ... begitu? Tapi benar Daddy sudah minta maaf sama Mommy?" tanya Binbin menegaskan.


"Iya, Sayang. Daddy udah sering minta maaf sama Mommy dan Mommy udah mau maafin Daddy."


Binbin kembali manggut manggut. Mungkin karena tidak ada lagi yang ingin ditanyakan, Binbin pun memilih diam. Sedangkan dua orang dewasa di sisi kanan dan kiri Binbin hanya tersnyum memandangi Binbin, dan tak lama setelahnnya mereka juga ikut terdiam.


"Binbin sendiri bagaimana? Sudah memaaafkan Daddy belum?" kini Pak Li yang bertanya. Yoyo dan A win awalnya sempat terkejut, tapi mereka juga penasaran dengan jawaban dari bocah kecil yang duduk diantara mereka.


Binbin langsung mendongak. "Tidak tahu, Pak Li."


"Loh kok tidak tahu? Binbin Juga harus bisa memaafkan Daddy dong?"


"Apa itu harus?"


"iya dong. Binbin kan anak yang hebat kayak Om Yoyo."


"Kalau begitu, kenapa Om Yoyo tidak menjadi Daddy Binbin aja."


Deg!


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2