DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA

DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA
Kegusaran Enam Janda


__ADS_3

Kemarin, aku dan A zia telah jujur mengenai perasaan kita kepada Tito dan Yoyo."


"Apa! Jujur?" pekik A moy dengan wajah terlihat sangat terkejut. A shang pun menganguk beberapa kali. "Gimana ceritanya kalian bisa jujur?"


"Iya, kenapa kalian melanggar kesepakatan kita?" tanya A ling. Dari raut wajahnya terlihat kalau dia tidak menyukai cara yang dilakukan A shang dan A zia.


"Justru kalau kita nggak jujur sama perasaan kita, Yoyo dan Tito nggak bakalan tahu dan nggak pernah akan tahu kalau semua majikannya jatuh cinta pada mereka," sungut A zia yang merasa tidak terima dengan tuduhan A ling.


"Bagaimana mungkin mereka nggak tahu perasaan kita?" A mey membantah ucapan A zia. "Saat aku dengan Yoyo piknik bareng, aku yakin kalau dia tahu perasaan kita."


"Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa tanya lagsung sama Yoyo. Mereka itu malah berpikir kalau kita hanya menyukai isi celana mereka saja," A shang membantah ucapan A mey dengan fakta yang dia dapat. Tentu saja apa yang dikatakan A shang membuat empat janda terkejut.


"Bagaimana mungkin?" A mey masih berusaha membantah. "Aku bahkan bilang pada Yoyo kalau ada majikannya yang jatuh cinta sama mereka."


"Tapi kenyataannya, Yoyo dan Tito tidak merasakan cinta kita. Karena apa? Karena mereka selalu diajak berhubungan badan. Sedangkan yang mereka tahu, jatuh cinta itu tidak harus berhubungan badan. Tapi yang mereka alami sama kita, selalu ujung ujungnya berhubungan badan. Apa lagi posisi mereka itu pekerja, jadi mereka hanya berpikir harus menuruti perintah majikannya," ucap A zia dengan suara yang lantang karena emosi dengan ucapan A mey. Perkataan A zia tentu saja semakin mengejukan empat janda yang ada disana.


"Yoyo juga cerita, katanya Kak A win pernah diemin dia berjam jam?" ucap A shang, dan A win mengiyakan. "Nah dari kejadian itu Yoyo semakin yakin kalau kita hanya menginginkan isi celana mereka saja."

__ADS_1


"Astaga!" pekik A win. "Pantes, Yoyo tumben inisiatif ngajak berhubungan badan terlebih dahulu. Jadi waktu itu dia berpikir aku marah karena nggak dijatah dapat isi celananya?"


"Ya seperti itu. Makanya mereka kaget saat aku dan A zia bilang yang sejujurnya."


"Aku sih percaya kalau mereka berpikiran seperti itu," ucap A moy. "Salah kita juga dari awalnya. Mereka kan dua pria yang polos. Tapi kita mengenalkan mereka pada kehidupan kita yang bebas."


Kelima janda yang ada di sana serentak terdiam. Apa yang dikatakan A moy memang benar adanya. Semua berawal dari mereka yang merindukan sentuhan laki laki dan mereka lampiaskan pada Tito dan Yoyo.


"Setelah pengakuan kalian, apa Yoyo dan Tito menerima cinta kalian?" tanya A ling.


"Nggak! Mereka malah terlihat syok dan bingung," jawab A zia.


"Ya mereka nggak nyangka aja bisa membuat kita jatuh cinta. Selama ini mereka tidak tahu perasaan cewek yang jatuh cinta sama mereka itu seperti apa. Kita tahu lah ya, alasannya apa. Maka itu mereka cukup terkejut dengan pengakuan kita," jelas A zia.


"Ya ampun! Hahaha ... menggemaskan sekali mereka itu," seru A mey, dan semuanya juga ikut tersenyum membenarkan ungkapan wanita itu. Tito dan Yoyo memang sangat menggemaskan.


"Terus? Gimana kelanjutannya? Apa mereka menolak kalian?" tanya A ling.

__ADS_1


"Bukan menolak sih, mereka hanya bingung saja. Kata Tito sih, dia nggak mau menyakiti aku, kamu dan kak A mey. Nggak tahu deh kalau Yoyo alasannya apa ke A shang. Soalnya kita berbicara di tempat terpisah," balas A zia.


"Ya sama jawabannya," ucap A shang. "Jika memilih salah satu, Yoyo nggak mau membuat yang lain kecewa. Tapi dia juga nggak mungkin memilih ketiganya. Makanya dia belum menentukan pilihan."


"Wahh! Berarti mereka memang belum ada rasa sama salah satu diantara kita ya?" terka A mey.


"Ya belum. Mereka masih memikirkan hal yang lainnya," ucap A zia.


"Hmm, cukup sulit juga ya, menaklukan hati pria yang tidak pernah pacaran," ucap A win.


"Ya mungkin mereka merasa nggak percaya diri aja, Win," ucap A moy. "Pasti mereka juga mempertimbangkan perbedaan antara majikan dan pembantu gitu."


"Ah, iya," seru A mey. "Mungkin itu sebabnya kali yah, mereka nggak peka sama perasaan kita?"


"Oh ya satu lagi," ucap A zia. "Yoyo dan Tito juga pernah cerita, kalau mereka juga ingin bersama seorang wanita yang mau menerima apa adanya mereka dan juga keluarga mereka."


"Hah!"

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2