
Sementara itu, di hari yang sama, tapi di tempat yang berbeda, Tito juga disambut baik oleh keluarga A ling. Keluarga A ling masih lengkap dengan dua adik perempuan yang tidak kalah cantiknya juga. Adik yang pertama berumur delapan belas tahun, sedangkan adik yang kedua berumur sekitar enam belas tahun. Mereka sangat antusias menyapa tamu yang katanya sangat tampan dimata dua gadis itu.
Mungkin memang sudah lazimnya bagi wanita. Akan merasa senang, atau bahkan girang jika melihat pria yang menurutnya tampan. Begitu juga dua adik A ling. Apa lagi mereka sedang masuk ke dalam tahapan usia dimana para wanita mulai tertarik dengan lawan jenis. Maka itu, begitu melihat Tito dengan segala pesona yang dia miliki, membuat dua gadis remaja itu seperti sedang berlomba mencari perhatian pemuda yang menjadi tamu mereka.
"Astaga! Kalian ini! Itu tamunya pasti capek menjawab pertanyaan kalian," seru Ibunya A ling begitu dia datang menghampiri tamunya.
"Iya nih, kayak nggak pernah lihat pria aja. Di sekolah kalian kan, banyak pria juga," protes A ling yang sedikit kesal dan merasa tidak enak akan sikap adik adiknya.
"Tapi kan tidak ada yang setampan pacar kakak," jawab Adik A ling yang pertama. "Eh kak, tapi dia pria normal kan?"
"Normal lah," jawab A ling lantang dan sedikit kesal. Tentu saja pertanyaan adiknya sontak mengingatkan A ling pada mantan suaminya yang tampan tapi tidak normal, alias belok.
"Ya syukurlah, kalau dia normal. Sayang aja kalau nggak normal. Sumpah kak, dia gantengnya bikin pengin ngajak bobo bareng," balas adik pertama asal.
"Ih!" seru A ling sambil menabok paha adik pertamanya. "Masih kecil, pikirannya udah kotor aja."
"Aduh!" pejik sang adik. "Kakak juga pasti sama dia pikirannya udah kotor, hahaha ..."
__ADS_1
A ling langsung mendelik, sedangkan Tito hanya bisa tersenyum melihat kehangatan di depan mata mereka. Berada di hadapan situiasi seperti itu, membuat Tito menjadi rindu akan rumahnya. Meski keluarga kecil, tito juga sering merasakan kehangatan keluarga seperti itu. Bercanda, cerita dari hati ke hati, sungguh membuat pemuda itu rindu suasana rumahnya.
Orang tua A ling pun banyak melempar pertanyaan kepada Tito, dan pemuda itu menjawab dengan sejujurnya. Tak ada satupun yang Tito tutupin. Kedua adik A ling juga ikut merecoki obrolan hingga suasana akrab cepat terasa diantara tamu dan tuan rumahnya.
Yang membuat Tito cukup terkejut adalah saat orang tua A ling dengan mudahnya memberi ijin untuk Tito tidur sekamar bersama anaknya. Bagi Tito tentu saja ini sangat aneh. Apakah ini suatu budaya sehingga orang tua tanpa ragu membiarkan anaknya tidur bersama laki laki yang jelas bukan suaminya.
Ingin rasanya Tito menolak, tapi mereka bilang tidak ada kamar lain dan tidak sopan jika ada tamu yang menginap tapi tidur di sofa atau di tempat lain yang bukan kamar tidur. Dengan alasan yang cukup masuk akal, mau tidak mau Tito pun menerimanya.
Rencananya kalian mau disini berapa hari, Ling?" tanya Ibunya A ling.
"Kok cepat benar? Kamu itu udah jarang pulang, eh sekalinya pulang tapi kayak nggak betah di rumah," protes Ibu sambil mendadak merasa kesal.
A ling sontak aja langsung cengengesan. "Ya gimana lagi, orang kerjaan di sana banyak. Ini aja ngajak dia ke sini karena dia ingin liburan, jadi aku bawa aja ke sini. Besok baru ngajak dia ke tempay wisata yang deket tempat ini."
"Wah! Besok piknik?" seru adik kedua. "Aku ikut kalau gitu."
"Aku juga ikut, yeeah!" seru adik pertama dengan girangnya.
__ADS_1
"Apaan, nggak boleh!" tolak A ling.
"Kenapa nggak boleh? Kan seru kalau pergi rame rame," protes adik kedua.
"Kalau Kakak bilang nggak boleh ya nggak boleh. Enak aja," A ling masih teguh sama pendirannya. Jelas saja A ling menolak karena dia sengaja ingin berduaan dengan Tito dalam misi pendekatan dan mencari tahu isi hati Tito.
Di saat Kakak beradik itu sedang berdebat, Tito menyela minta ijin ke toilet. Secara otomatis perbebatan itu terhenti sejenak. Setelah ditunjukkan dimana letak toilet berada, Tito segera saja beranjak menuju kesana.
Begitu toiletnya ketemu, Tito langsung saja masuk dan membuang apa yang sedari tadi dia tahan. Saat sudah tuntas, Tito segera saja merapikan diri dan keluar dari toilet tersebut. Betapa kagetnya Tito saat membuka pintu toilet, salah satu adik A ling berdiri sudah berdiri di sana.
"Ini anak mau ngapain?" gumam Tito dalam hati.
...@@@@@...
Hai reader, makasih ya, yang masih setia dengan kisah ini. Terima kasih atas dukungan. Sekalian aku mau promo karya baru dengan judul PERJAKA YANG TERNODA. Yuk mampir
__ADS_1