DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA

DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA
Di Tuntut Bertanggung Jawab


__ADS_3

"To, sini!" panggil A zia.


Merasa dipanggil dan disuruh mendekat. Tito segera saja bangkit dan mendekat ke arah A zia yang duduk sendirian.


"Iya, Miss. Ada apa?"


"Nanti, saat kita nginep, kamu tidurnya satu kamar sama aku, oke?"


Seketika Tito langsung mematung dengan kening yang berkerut. Lalu Tito perlahan duduk dengan perasaan yang sudah berkelana kemana mana. Mendengar ucapan A zia tentu saja membuat otak Tito memikirkan hal yang tidak tidak.


Sedangkan di ruangan yang sama tapi di meja yang lain, A shang memilih duduk satu meja dengan Yoyo. A shang yang baru saja sempat makan siang, tentu saja langsung menikmati hidangan yang dia bawa. A shang terlihat acuh dan tidak gengsi makan satu meja dengan pembantunya.


"Tito mana? Apa dia udah makan?" tanya A shang sambil menikmati makanannya.


"Tuh, bareng Miss A zia," tunjuk Yoyo. A shang menoleh sejenak. Setelah melihat Tito sedang bersama A zia, A shang kembali melanjutkan makannya.


"Kamu sudah dikasih tahu belum kalau kamu jadinya nginep disini?" tanya A shang lagi.

__ADS_1


"Sudah. Tadi Tito yang bilang.Tapi anak anak gimana ya?" balas Yoyo yang telah selesai menikmati hidangannya.


"Jangan khawatir, Kak A win pasti bisa menanganginya," balas A shang. "Nanti kamu tidurnya satu kamar sama aku."


"Uhuk!" Yoyo yang sedang menyesap air minum sontak terbatuk mendengar ucapan A shang. Dia mengusap bibirnya yang basah dengan tisu. "Kenapa sekamar?" tanya Yoyo agak gugup. Pikirannya langsung berkelana kemana mana sembari melontar pertanyaan itu.


A shang sontak menatap Yoyo dengan tatapan sedikit tajam. "Kenapa? Nggak berani?"


"Bu-bukan begitu, Miss. Kita kan pria dan wanita yang belum menikah. Masa tidur dalam satu kamar, nanti ..." Yoyo membalas dengan agak terbata. Dia saat ini bertindak munafik. Padahal dia juga sudah pernah melakukannya dengan dua majikan lainnya tanpa adanya pernikahan.


"Hahaha ..." A shang tergelak. Dia merasa lucu dengan jawaban pemuda di hadapannya. "Di sini tuh, tidur satu kamar nggak harus menikah, To. Banyak yang berstatus pacaran, memilih tinggal bareng. Karena disini anak anak yang menginjak dewasa sudah pada berpikir mandiri dan bebas. Terus disini kalau mau menikah tuh mudah. Tinggal ke kantor urusan pernikahan, daftar terus langsung bikin buku nikah."


"Ya ada hubungannya lah. Mereka pada sewa tempat tinggal bareng untuk meringankan biaya sewa tempat tinggal mereka. Lagian juga malu, masa udah gede masih tinggal bersama orang tua."


Yoyo terbungkam sejenak. Ucapan Miss A shang nampak sedang menyindir dirinya. "Tapi kan ..."


"Nggak ada tapi tapian, lagian, kamu kan harus mempertanggung jawabkan perbuatan kamu."

__ADS_1


Deg!


Lagi lagi A shang mengatakan hal yang sama, dan perkataanya sukses membuat Yoyo merasa resah dan dilema.


Masih di waktu dan tempat yang sama, Tito masih belum mengeluarkan kata katanya. Dia hanya sibuk menghabiskan makanannnya dengan pikiran yang berkelana kemana mana. Tentu saja, mendengar akan tidur satu kamar, pikiran Tito langsung tertuju pada kejadian bersama A moy dan A ling.


"Emang kita harus tidur satu kamar ya, Miss?" akhirnya, setelah terdiam beberapa saat, Tito mengeluarkan suaranya juga.


"Kenapa? Kamu nggak suka?" tanya A zia tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya. Dia malah asyik menikmati segelas eskrim sebagai hidangan penutup.


"Bukan begitu. Kan ada Miss A shang. Bukankah lebih baik Miss A zia tidur sekamar bareng Miss A shang?" Tito mencoba memberi saran untuk menghindari segala hal kotor yang terlintas dalam pikirannya.


Kali ini sambil menikmati es krim, A zia menatap pria yang duduk di sampingnya. "Kalau kita dapat jatah kamar di satu lantai, bisa saja aku dan A shang tidur bareng. Tapi keadaannya, kita di lantai berbeda. Aku di lantai Tujuh dan A shang di lantai lima. Barang barang kita juga udah ada di kamar masing masing. Lagian, memang kamu nyaman tidur dengan karyawanku? Mereka aja sudah tidur berkelompok bersama dengan teman mereka. Kalau kamu mau ya silakan. Tanyakan juga, mereka nyaman nggak tidur bareng kamu."


Ucapan A zia yang terdengar kesal semakin membuat Tito merasa dilema. Apa yang dikatkan A zia memang benar, pasti anak buah A zia tidak akan nyaman kalau tidur bareng orang yang tidak dia kenal. Apa lagi mereka saling berkelompok. Meskipun ada yang kelompok laki laki, belum tentu juga mereka mau. Kalaupun mau juga pasti karena terpaksa dan bisa saja akan menjadi bahan omomgan di belakang.


"Udah, nggak usah banyak mikir," ucap A zia lagi. "Lagian kan, kamu utang penjelasan tentang perbuatan kamu ke aku,To."

__ADS_1


Deg!


...@@@@@...


__ADS_2