
"Loh, kalian disini?"
Yoyo dan Tito sontak saja menoleh ke arah sumber suara. "Iya, Miss," jawab Tito.
"Kalian kan lagi sakit, harusnya ada yang ngerawat kalian, kamu ikut aku ke kamar aja ya, To. Biar aku rawat kamu."
"Waduh! Bakalan makin runyam nih," gumam Tito dalam hati. Dia mendadak merasa dilema. Jika menolak nanti wanita ini berpikir yang tidak tidak, tapi jika menurutinya, Tito takut A moy tahu dan semakin salah paham.
"Ayo! Kamu pindah ke kamarku aja, To. Biar aku yang merawatmu," ucap Miss A zia sedikit memaksa.
"Nggak usah, Miss. Nanti Zoe bangun terus mencariku gimana?" tolak Tito dengan alasan yang cukup masuk akal.
"Yakin, takut Zoe nyariin?" tanya A zia dengan raut wajah yang berubah. Terlihat kesal dengan tatapan mata yang cukup tajam.
"I-iya," jawab Tito mendadak gugup karena tatapan tajam dari majikannya itu.
"Bukan karena kak A moy?" pertanyaan A moy semakin menyudutkan, membuat Tito terkejut. Begitu juga dengan Yoyo.
__ADS_1
"Bukan, Miss. Miss kan tahu anak anak bagaimana?" mendengar jawaban Tito, raut wajah A zia langsung berubah. Meski terlihat kecewa tapi A zia memakluminya. Namun beberapa kemudian A zia malah melempar pertanyaan pad dua pemuda itu.
"Jika kalian dicintai banyak janda, kalian lebih memilih janda yang punya anak atau janda yang tidak punya anak?" pertanyaan A zia kembali mengejutkan dua pemuda yang kini sudah terduduk di ranjang.
Tito dan Yoyo tahu maksud dari pertanyaan A zia itu apa. Pasti ada hubunganya dengan enam janda yang ada di rumah ini. Biar bagaimanapun mereka sudah dapat informasi kalau enam janda di rumah ini ada yang jatuh cinta sama mereka.
"Aku nggak tahu, Miss," jawab Yoyo, dan Tito juga memberi jawaban yang hampir sama.
"Masa nggak tahu?" tanya wanita satu satunya yang ada di kamar itu. A zia sebenarnya awalnya tidak tahu kalau Yoyo dan Tito ada di kamarnya. A zia baru tahu saat dia ke dapur dan mendengar obrolan Bibi Nur dan Bibi Sri yang menyebutkan nama dua pemuda itu ada di kamarnya.
"Ya gimana ya, Miss, kalau aku pribadi memang nggak tahu tanda orang mencintaiku itu seperti apa," jawab Yoyo jujur.
Awalnya kening A zia berkerut, tapi tak lama setelahnya, senyum A zia melebar. "Kalian kan tiggal pilih. Lebih suka janda yang meliki anak atau tidak?"
"Ya bukan masalah janda yang memiliki anak atau tidak, Miss, tapi yang bisa membuat aku nyaman. Mungkin itu yang akan aku pilih," jawab Tito.
"Aku juga sama kayak Tito. Yang penting nyaman dan tenang," Yoyo menimpali.
__ADS_1
"Oh ... gitu?" ucap A zia, dan dibalas anggukan oleh Tito dan Yoyo. "Kalau semua janda bikin kalian nyaman dan tenang, berarti kalian akan memilih semuanya?"
Kedua pemuda itu saling tatap. Sepertinya mereka sangat terkejut dengan pertanyaan A zia dan mereka bingung untuk menjawabnnya. Mereka tentunya sangat senang jika dicintai banyak janda, tapi mereka meras akan sulit memilih janda yang mana.
"Ya pasti bingung aku, Miss. Apa lagi jika janda janda itu baik hati. Aku nggak mungkin bakalan sanggup untuk memilih," balas Tito.
"Kalau aku sih yang mau menerima kekuranganku, Miss. Bagi aku hubungan cinta itu hubungan serius. Apa lagi dengan janda, wanita yang pernah berumah tangga. Berarti cintanya nggak main main. Selain itu, yang direstui orang tuaku juga," jawab Yoyo.
"Ah iya bener!" seru Tito. "Restu orang tua itu penting. Apa lagi bagi keluargaku. Semua itu akan menenangkan kalau dapat restu orang tua. Begitu juga saat aku memutuskan kerja di luar negeri, ini semua kan berkat restu orang tua Miss."
"Berarti kalau ingin menjalankan hubungan serius dengan kalian, harus meminta ijin dulu sama orang tua kalian gitu?"
"Ya bukan gitu, Miss," bantah Tito. "Misalnya nih ya aku pacaran sama Miss A zia dulu, setelah itu baru minta restu. Kalau misalnya nggak dapat restu kan kita harus berjuang agar hubungan kita direstui."
A zia nampak manggut manggut. "Aku tahu. Tapi yang sekarang aku mau tahu adalah perasan kalian. Jika semua janda mencintai kalian dan nggak ada yang ingin mundur atau mengalah salah satunya, apa yang akan kalian lakukan? Apa kalian akan tetap memilih salah satu? Atau memilih semuanya?"
"Waduh!"
__ADS_1
...@@@@@@@...