
Dua duda tampan itu tersenyum kecut dengan nasib yang mereka alami karena ulah mereka sendiri. Hingga saat mereka sedang terdiam karena tidak ada bahan obrolan, keduanya dikejutkan dengan teriakan yang mereka dengar dari jarak yang cukup dekat.
"Daddy!"
Meski terkejut, Darren dan William tidak menoleh ke arah sumber suara tersebut. Mereka justru fokus menatap kopi dengan pemikiran mereka yang diliputi penyesalan dan rasa takut.
"Daddy!"
Lagi lagi teriakan dari suara khas itu terdengar menyerang telinga mereka. "Anak siapa itu yang berteriak?" tanya William tanpa merubah arah pandangnya.
"Yang pasti bukan anak kita!" balas Darren. "Anak kita jam segini paling masih sekolah atau sedang bermain di rumahnya."
William tertawa sumbang. "Padahal anak kita sudah bertambah usianya. Pasti makin bertambah kepintarannya. Sayang sekali, kita tidak menyaksikan perkembangan mereka."
Darren ikut tertawa getir. "Hahaha ... miris, untuk dekat dengan anak saja, kita sangat susah apa lagi ..." Darren tidak meneruskan kata katanya. Mulutnya ternganga saat matanya yang mengedar melihat sosok yang sedang menatapnya tak jauh dari tempatnya berada.
William mengernyitkan keningnya saat melihat perubahan sikap pria di hadapannya yang tiba tiba diam dengan pandangan ke arah lain. Dia lantas ikut memandang ke arah yang sama dengan yang Darren lakukan. Mata William langsung membelalak saat melihat siapa yang berdiri tak jauh dari keberadaannya
"Binbin!" pekik William.
__ADS_1
"Daddy!" ucap Binbin dan Zoe bersamaan dengan suara kencang. Darren dan William sontak ternganga. Bulu kuduk dua duda itu meremang. Matanya menatap lekat dua bocah yang memandangnya dengan rasa sedikit takut dan ragu.
Dua duda itu terpaku. Antara kaget dan juga haru, mereka segera beranjak menuju dua bocah yang berdiri tegap dan bersandar pada dua pria penjaganya. Mereka menjatuhkan tubuhnya dengan lemas di hadapan anak anak.
"Zoe ... Zoe manggil Daddy?" tanya Darren dengan rasa gugup dan mata yang berkaca kaca.
"Daddy," balas bocah kecil itu tanpa menoleh ke arah lain. Mekski ada rasa takut, tapi sepertinya Zoe melawan rasa takut itu sesuai yang diajarkan penjaganya.
Darren tak bisa berkata apa apa lagi. Dia langsung menarik bocah itu ke dalam pelukannya. Air matanya tumpah. Bukan karena rasa sedih, tapi rasa bahagia yang tak terkira karena anak yang dia rindukan kini berada dalam pelukan tanpa rasa takut.
Begitu juga dengan yang dilakukan William. Dia bahkan tidak peduli dengan pandangan orang sekitar karena menangis sembari memeluk anaknya. Yang dia tahu, dia saat ini sangat bahagia karena sang anak mau menatapnya tanpa rasa takut.
"Daddy?" panggil Binbin lirih.
"Iya, Sayang. Ini Daddy," tanya William sembari mengusap wajah bocah yang masih menatapnya canggung.
"Binbin lapar," jawab bocah itu lirih tapi membuat senyum William tersenyum lebar.
"Anak Daddy lapar?" Binbin mengangguk pelan. "Ya udah, Yok kita beli makanan yang Binbin suka," William langsung mengangkat tubuh Binbin ke dalam gendongannya.
__ADS_1
"Zoe juga lapar nggak?" tanya Darren sembari melepas pelukannya. Bocah kecil itu juga mengangguk. "Ya udah kita makan sama sama ya?" Darren pun menggendong boah itu dan juga menyuruh Tito dan Yoyo untuk bergabung.
Yoyo dan Tito memilih duduk di tempat terpisah. Mereka sengaja melakukan hal itu untuk memberi ruang kepada dua ayah yang terlihat sangat bahagia karena bisa dekat dengan anak anaknya. Mereka juga memesan makanan yang mereka inginkan.
"Apa setelah ini kita bakalan menganggur?" ucap Yoyo sembari memasukkan potongan browis ke dalam mulutnya.
"Nganggur? Kenapa nganggur?" balas Tito yang sedikit bingung dengan pertanyaan sahabatnya. Dia pun juga melahap kue coklat yang dia pesan.
"Tuh! Anak anak sudah bisa dekat dengan ayahnya. Bukankah tugas kita selesai?"
"Hahaha ... belum tentulah, Yo. Mereka kan orang sibuk. Mungkin saja, gaji kita yang akan bertambah banyak."
Yoyo sontak memandang sahabatanya dengan kening yang berkerut. "Gaji kita bertambah banyak? Maksud kamu?"
"Ya kali aja, Tuan Darren dan Tuan William juga akan memberi kita gaji karena kita menjaga anak mereka. Lumayan kan kalau kita mendapat gaji ganda."
Yoyo sontak terlihat sedang berpikir, mencerna ucapan Tito. Tak lama setelah itu, mata Yoyo langsung berbinar. "Wah! Benar juga! Hahahha ... bakalan cepat kaya kita."
"Betul!"
__ADS_1
...@@@@@...