
Masih di hari yang sama, di dalam sebuah caffe, seorang pria tampan terlihat sedang duduk menyendiri di salah satu sudut yang berada di lantai atas. Tepatnya pria itu duduk di sebuh balkon berpagar rendah yang dapat memudahkan pengunjungnya melihat pemandangan kota. Pria itu sesekali menghembuskan nafasnya secara kasar dengan mata menerawang ke sembarang arah. Sepertinya ada masalah berat yang sedang dia pikirkan.
Di tempat yang sama pula, terlihat dua pria sedang menaiki anak tangga. Salah satu dari dua pria itu menenteng nampan yang berisi dua cangkir kopi dan juga makanan ringan yang mereka pesan sebelumnya di lantai bawah.
Di saat kedua pria itu sampai di lantai atas dan mencari tempat yang enak buat duduk, salah satu dari mereka melihat pria yang sedari tadi duduk menyendiri. Pria itu mengerutkan keningnya lalu tiba tiba matanya melebar. Pria itu memutuskan mendekat ke arah pria yang menyendiri dan di ikuti oleh pria yang membawa nampan dengan tatapan bingung.
"Tuan William?"
Merasa ada yang menyebut namanya, pria yang duduk menyendiri itu lantas menoleh. Awalnya kening pria yang di sapa William itu berkerut, namun setelah dia ingat siapa pria yang menyapanya, mata William juga langsung melebar.
"Tuan Darren!" seru William.
Pria bernama Darren lantas tersenyum lebar. "Anda kenapa duduk disini sendirian?"
William mengangkat kedua pundaknya. "Ingin aja, Tuan Darren. Apa anda mau bergabung menemani saya?"
__ADS_1
"Jadi benar anda sendirian?" tanya Darren menegaskan, dan William langsung mengangguk. "Baiklah, aku kira anda bersama seseorang," Darren dan Erik lantas duduk di kursi yang mengitari satu meja yang sama dengan William.
Darren dan William memang sudah saling kenal. Bukan sebagai teman bisnis, tapi mereka saling kenal karena anak anak mereka tinggal di dalam satu rumah yang sama. Dengan kekuasan yang mereka miliki, William dan Darren bisa dengan mudah menyelidiki setiap orang yang tinggal satu rumah bersama anaknya. Dari sanalah William dan Darren saling mengenal satu sama lain.
Kalau dari dunia bisnis, antara Darren dan William juga sebenarnya sudah saling mengetahui informasi masing masing. Tapi mereka hanya cukup tahu saja dan belum pernah sekalipun terlibat kerja sama di antara perusahaan mereka. Mereka juga pernah bertemu beberapa kali dalam sebuah acara bisnis. Makanya saat ini Darren dan William terlihat akrab.
"Anda sengaja datang kesini atau memang ada acara di sekitar sini?" tanya William membuka percakapan.
"Kebetulan, aku dan Erik habis fitnes di belakang gedung caffe ini sekalian bertemu seseorang tadi," jawab Darren lalu dia menyesap kopi lattenya.
"Seseorang? Apa dia kekasih anda?" tebak William.
William pun sama menampilkann senyum getirnya. Sedangkan Erik, hanya terdiam sembari menikmati kegetiran dua pria di hadapannya. Pria itu juga mempunyai seorang putri yang sangat dia sayangi, jadi dia tahu benar apa yang dirasakan Darren dan William.
"Aku juga tadi bertemu sama anakku, dan yah. Dia masih sama. selelu menatap benci saat melihat ayahnya sendiri," ucap William.
__ADS_1
Darren nampak manggut manggut. "Jadi karena itu, anda duduk disini sendirian?"
"Ya, begitulah," jawab William. "Entah harus pake cara apa lagi agar Binbin mau menatapku dengan tatapan hangat seperti dulu."
"Keinginan kita sama, Tuan. Ingin mengembalikan kondisi seperti semula. Apa lagi, betapa sakitnya hati ini saat melihat anakku bahagia dalam gendongan pria lain. Hatiku rasanya remuk. Harusnya aku yang menciptakan rasa bahagia itu."
William terkekeh hambar. "Tadi aku juga lihat Binbin bahagai bersama pria yang katanya penjaga Binbin. Nyesek banget lihatnya. Apalagi begitu aku mendekat, Binbin langsung memeluk pria itu dengan erat. Rasa kecewanya nggak bisa terbayangkan pokoknya."
"Yah, sama aku juga. Kemarin ketemu sama Zoe. Nampak senang gitu dengan penjaganya. Tapi saat Zoe melihat ayahnya, dia seperti melihat sesosok montser. Langsung ketakutan dan menggigil. Ngilu banget menyaksikan itu semua. Tapi aku nggak bisa berbuat apa apa."
"Mungkin, Zoe dan Binbin menemukan sosok seorang ayah dalam dalam diri pria pria itu," Erik yang sedari tadi terdiam, kini ikut mengeluarkan suaranya dan pastinya perkataan Erij membuat William dan Darren terkejut dan langsung menatapnya.
"Maksud kamu, Rik?" tanya Darren.
"Di dalam lubuk hati Binbin dan Zoe yang paling dalam, mereka pasti sangat sangat merindukan sosok ayahnya. Dan rindu itu mereka lampiaskan pada dua pria yang menjaganya. Bisa saja suatu saat, Binbin dan Zoe akan meminta mereka menjadi ayahnya saat mereka merasa nyaman dan bahagia."
__ADS_1
"Apa! tidak!"
...@@@@@...