DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA

DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA
Kebahagiaan Pagi


__ADS_3

"Hahaha haha ... geli Om. Ampun geli, hahaha ..." suara tawa bocah yang sedang bermain dengan penjaganya menggema hingga keluar kamar. Bahkan suara bocah yang terdengar sangat bahagia itu turut menghadirkan senyum senang bagi siapapun yang ikut mendengarnya.


Terutama bagi Ibu dan keluarga bocah berusia lima tahun itu, suara tawa anak yang akrab di panggil Binbin sudah lama hilang sejak orang tua Binbin bercerai. Binbin sudah lama tidak mengeluarkan suara tawa seceria itu setelah berpisah dari ayahnya. Kini suara tawa Binbin yang sangat lepas, hadir kembali setiap bermain bersama penjaganya.


"Apa tiap pagi, Binbin sesenang itu, Win?" tanya Ibunya A win saat mereka sedang menyiapkan sarapan.


"Yah, seperti itu, Bu. Sejak dekat dengan Yoyo," jawab A win.


"Ya syukurlah, Ibu senang mendengarnya. Biar anak itu tidak terlihat seperti anak yang tertekan," A win hanya tersenyum mendengar ucapan Ibunya. Dalam hati dia setuju dan sependapat dengan ucapan wanita yang telah melahirkannya.


"Kenapa dari dulu nggak kepikiran sewa pengasuh, Win?" tanya Kakak A win.


"Dulu pernah coba sekali, tapi ya kaku gitu orangnya. Nggak lemas sama anak anak. Nggak sampai satu bulan malah," jawab A win.


"Oh ... dulu orang mana?"


"Negara kita saja. Padahal nyari yang profesional, eh malah kaku sama anak anak."


"Oh, nah terus gimana ceritanya? Kok bisa dapat orang indonesia?"


"A moy yang nyari. Dia juga dapat rekomendasi dari temannya yang punya pengasuh anak juga. Dapat tuh dua orang," semua yang mendengar cerita A win nampak manggut manggut.


"Tapi tampan juga ya, Kak? Baru lihat orang Indonesia setampan itu," puji adik A win.


"Huss! Di larang naksir," ucap Kakak A win.

__ADS_1


"Apa salahnya? Dia pasti jomblo?"


"Iya dia jomblo, tapi dia calon ayahnya Binbin."


"Yaaaah!" semua hanya tertawa melihat raut kecewa adiknya A win meski hanya dibuat buat. "Emang Kak win siap nikah lagi?"


"Belum, ngarang aja tuh kakakmu," ucap A win dan dia berlalu menuju kamarnya memanggil yoyo untuk sarapan.


"Wah! Ada kesempatan nih?" seru adik A win dengan mata yang berbinar.


Di pagi yang sama, Tito juga sedang bermain game bersama Zoe di kamar anak anak. Zoe terpaksa tidak sekolah lagi hari ini. Dia merengek nunggu Binbin pulang saja. Mau tidak mau A moy pun pasrah.


"Zoe nggak sekolah?" tanya A ling tiba tiba begitu dia masuk ke dalam kamar anak anak. Matanya melirik Tito sambil senyum senyum. Tito yang tahu sedang diperhatikan A ling, menbalas senyuman itu dengan canggung.


"Enggak, Mom. Nunggu Binbin pulang aja," jawab Zoe tanpa menoleh dari layar tv.


"Terserah Mommy aja deh. Yang penting Zoe suka."


"Oke deh," jawab A ling dan dia mengecup pipi bocah itu. Setelahnya dia mendekatkan kepalanya ke arah Tito berbisik, "Nanti siang tunggu aku di ruang karaoke lagi ya?"


Tito mendadak menjadi gugup, tapi dia tidak mungkin berani menolak. Dia tahu apa yang diinginkan majikannya. "Ba-baik, Miss."


A ling tersenyum senang dan diam diam mengecup pipi Tito, lalu dia bangkit dan pamit berangkat kerja kepada dua pria beda usia yang ada di sana. Bersamaan dengan A ling pergi, A moy datang dengan memegangi perutnya.


"Miss A moy kenapa? Sakit?" tanya Tito saat melihat A moy meringis sambil memegangi perutnya.

__ADS_1


"Biasa, To, mau datang bulan. Nyeri gini," jawab A moy dan Tito nampak manggut manggut. "Nanti malam kamu libur, nggak menikmati hadiah kamu ya?"


Tito sontak tersenyum. "Nggak apa apa, Miss."


"Ya udah, aku mau berangkat dulu. Tolong jaga Zoe ya, To?"


"Siap, Miss," jawab Tito antusias.


A moy pun mencium pipi anaknya dan tak lupa juga dia mencium pipi Tito juga. Setelah itu dia beranjak keluar kamar.


"Dua wanita cantik,menciumku? Astaga!" gumam Tito sambil cengengesan.


Di pagi yang sama tapi di tempat yang berbeda, seorang wanita terlihat kesal di kamarnya. Sejak usaha untuk mendapatkan pria yang dicintainya gagal bahkan berakhir dengan ancaman, wanita itu selalu nampak uring uringan. Dia tidak menyangka, acara pernikahan impiannya dengan pria pujaan, hancur lebur karena ulah si pria yang membongkar kejahataannya pada mantan istri si pria itu.


Di saat bersamaan, telfon wanita itu berdering. Dia meraih telfon itu dan tersenyum jahat saat melihat nama yang nampak di layar telfonnya. Wanita itu segera menggeser tombol hijau dan mendekatkan telfon itu ke telinganya.


"Hallo!"


"Ya, lakukan saja."


"Oke."


"Kalau perlu habisi nyawa anak itu."


"Baik, oke!"

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2