
Malam ini ada yang beda di rumah mewah yang di huni enam janda. Rumah yang biasa nampak hangat dengan keakraban para janda, malam ini rumah itu terasa begitu hening. Para janda tidak biasanya sibuk dengan urusannya sendiri sendiri. Bahkan mereka lebih banyak menghabiskan waktu mereka di dalam kamar masing masing dengan merenungi apa yang sedang terjadi di rumah itu. Akibat pertengkaran yang terjadi tadi siang, hubungan baik enam janda itu sedikit merenggang.
Hanya karena sosok pria yang ada disana, hubungan baik yang tercipta diantara para janda menjadi longgar karena masalah cinta. Mereka seakan lupa atas kesepakatan yang mereka buat sendiri agar tetap menjalin hubungan baik meski mereka menyukai pria yang sama. Pada akhirnya, kesepakatan tinggalah kesepakatan. kenyataannya mereka tisak bisa memenuhi kesepakatan itu dan dikalahkan oleh ego karena cinta masing masing.
Rasa hening yang melanda rumah itu, nampaknya tidak berpengaruh pada dua bocah yang hidup di sana. Mereka selalu nampak ceria jika sudah bersama pria pria penjaganya. Ada saja tingkah mereka yang bisa membuat suasana menjadi seru dan hangat. Namun suasana itu akan hilang jika anak anak sudah tertidur.
"Binbin udah nyenyak itu, Yo! Pindahin gih!" titah Tito pada sahabatnya saat bocah yang bersamanya sudah terlelap dalam panggkuan Yoyo.
"Nantilah, disini aja dulu. Aku malas ke kamar anak anak," jawab Yoyo sembari merebahkan tubuh Binbin di kasur yang sedang mereka duduki.
"Takut ada yang minta jatah isi celanamu apa?" tanya Tito sambil cengengesan.
__ADS_1
"Hahaha ... yang pasti alasan kita sama, kamu juga pasti takut, kan?"
"Hahaha ... takut sih enggak, Yo. Cuma lagi males aja. Nggak lucu juga kan orang lagi marah, tetap minta jatah isi celana? Mentang mentang kita pembantu gitu, terus kita harus melayani mereka dalam keadaan marah? Egois namanya itu, bukan cinta."
"Udahlah, jangan dibahas. Bikin kesel doang. Kalau mereka merasa bersalah dan memang cinta sama kita, harusnya mereka datang dan meminta maaf. Tapi lihat, mereka malah menghindar. Apa mungkin mereka yang berharap kita yang minta maaf hanya karena kita pembantu?" ucap Yoyo berapi api.
"Hahaha ... benar juga ya? Wajar sih, mereka majikan yang merasa tidak pernah punya salah. Apa lagi mereka wanita. Katanya kan wanita akan selalu benar. Jadi mereka anti minta maaf duluan."
Tito dan Yoyo akhirnya terpisah karena waktu yang sudah menunjukan malam menuju larut. Mata mereka belum terpejam. Pikiran mereka masih melayang kapada enam jandia yang sama sekali tidak menunjukkan wajahnya sejak pertengkaran siang tadi.
Malam ini, Tito dan Yoyo benar benar bisa tidur nyenyak lebih awal, tidak seperti malam malam sebelumnya. Mereka harus mandi keringat dulu bersama salah satu janda sebelum mereka tertidur.
__ADS_1
Berbeda dengan enam janda. Malam ini mereka nampak dilema di kamarnya masing masing. Dalam hati mereka ingin sekali menjenguk Tito maupun Yoyo, tapi mereka takut, dua pemuda itu malah salah mengartikan kedatangan mereka. Para janda itu tidak mau disangka datang karena ada maunya dan dianggap memanfaatkan keadaan saja.
Hingga hari berganti lagi, kini Tito dan Yoyo sedang melaksanakan tugasnya seperti biasa sebelum anak anak berangkat sekolah. Ada yang beda pagi ini, di kamar anak anak. Dua janda yang biasanya sangat girang jika ada Tito dan Yoyo di kamar anak anak, kini keduanya tidak terlihat wajahnya sama sekali. Para ibu dari anak anak memilih menyibukan diri di kamarnya masing masing. Mereka benar benar menahan rasa rindu dan juga gengsi mereka pada pria idaman masing masing.
Tito dan Yoyo baru menemui majikan mereka saat anak anak pamit hendak berangkat. Baik Tito maupun Yoyo, hanya memandang sekilas ke arah majikan mereka tanpa berniat ingin menyapa. Mereka masih terlalu kesal dengan sikap wanita yang katanya cinta pada mereka tapi tetap menjalankan kuasanya sebagai majikan.
"Apa kita tidak sebaiknya minta maaf?" ucap A win begitu mobil yang dikendarai anak anak menuju sekolah hilang dari pandangan mata mereka. "Biar bagaimanapun, kita yang salah sama mereka."
A moy yang sedari tadi terdiam menoleh ke arah A win, lalu mereka berdua berbalik badan menuju kamar mereka kembali. "Mungkin memang sebaiknya, aku harus minta maaf sama Tito dan Yoyo. Biar bagaimanapun aku yang tanpa sengaja merendahkan mereka."
"Baguslah, biar kita nanti minta maaf sama sama," balas A win, dan dua janda itu saling melempar senyum.
__ADS_1
...@@@@@...