
"Yo."
"Hum?"
"Apa aku masih layak untuk mencintaimu setelah peristiwa kemarin?"
Yoyo tertegun sejenak, tapi tak lama setelahnya dia menyeringai. "Bukankah Miss tidak pernah cinta sama aku. Nanti juga kalau ada yang bertanya, pasti Miss nggak bakalan ngaku."
Kini, gantian A win yang tertegun. Dia sampai mendongak menatap wajah yang tidak menunjukkan senyum sama sekali. "Sepertinya kamu salah paham, Sayang," A win berkata sembari merebahkan kembali kepalanya di dada Yoyo. "Aku tuh nggak bilang tidak suka sama kamu, aku tuh kemarin jawabnya gini, kalau aku menyukai cowok lain ya nggak salah kan? lagian aku jomblo, gitu, Yo."
Senyum Yoyo tersungging sembari mengusap kepala A win dengan lembut. "Kenapa Miss tetap cinta sama aku? Aku kan hanya pembantu yang belum bisa menjamin masa depan yang indah. Lagian kan Miss tahu, ada dua wanita lagi yang mencintaiku, dan mereka juga nggak mau ngalah, kan aku jadi bingung? Mana semuanya cantik dan baik."
"Soal masa depan, kan bisa dirancang bareng bareng, Sayang. Kalau soal A shang dan A mey yang mencintaimu, aku sendiri juga nggak tahu solusinya gimana. Kan keputusan cuma ada pada diri kamu."
Yoyo terdiam. Sembari memikirkann ucapan A win, dia juga menikmati sentuhan lembut tangan wanita itu yang sudah menjalar dan masuk ke dalam underwear yang Yoyo pakai. Selain merasa senang, Yoyo juga heran, kenapa tiga wanita yang mencintainya, suka sekali memainkan isi celananya pada saat ngobrol seperti itu. Untuk sesaat keduanya saling diam.
__ADS_1
Sama seperti Yoyo, Tito juga sedang berbicara dari hati ke hati bersama majikannya. Jika Yoyo berbicara sambil rebahan dengan tubuh saling menempel, Tito malah duduk ditepi kolam sembari memeluk A moy dari belakang. Kakinya sengaja direndam di dalam kolam. Sedangkan bocah kecil yang bersama mereka, sudah terlelap setelah merengek karena kelelahan.
"Jadi kamu tidak bisa memutuskan siapa yang kamu pilih, Sayang?" tanya A moy sembari memegangi kepala Tito yang sedang bergelayut di pundaknya.
"Aku nggak tega untuk menyakiti salah satu diantara kalian, Miss. Miss A zia dan A ling sama sama baik, mereka itu nggak pantas untuk disakiti. Aku juga nggak mau menyakiti kamu, Miss. Jujur, aku benar benar nggak sanggup untuk memilih."
A moy menghembuskan nafasnya perlahan. Meski agak kecewa dengan ucapan Tito, tapi A moy sadar, dia tidak bisa memaksakan kehendaknya pada pemuda itu. Apa lagi dia sudah pernah mengecewakan Tito karena memaksakan kehendaknya hanya karena dia majikannya. A moy tidak mau Tito kecewa lagi akan sikapnya.
"Jadi kamu menunggu salah satu dari kami menyerah gitu?"
Tito melepas pelukkannya dan dia bangkit menuju kursi yang sama seperti yang dipakai Yoyo di kamar lain dan merebahkan tubuhnya di sana. "Mungkin cuma itu satu satunya cara, Miss. Aku tidak punya pilihan lain lagi."
"Tidak ada yang ingin berbagi cinta, Miss A moy!" balas Tito dengan nada bicara yang agak meninggi. "Aku juga masih merasa mimpi dicintai tiga wanita sekaligus. Kalau wanitanya semua baik, mana tega aku menyakitinya."
Mendengar ucapan Tito yang sedikit lantang, membuat A moy terkejut dan merasa takut. Dia langsung diam dan tidak membahas soal perasaan lagi. Yang pasti A moy tidak mau momen langka seperti ini rusak hanya kerena dia ingin tahu lebih perasaan Tito.
__ADS_1
Untuk mengalihkan pembicaraan, tangan A moy mulai merayap dengan lembut dan masuk ke dalam underwear yang Tito pakai. "Bulu kamu udah sangat rimbun, Sayang, nggak pengin dirapiin?"
"Nggak suka gundul aku, Miss. Kayak aneh aja kalau di bawah perut nggak ada bulunya," jawab Tito sambari menperhatikan tangan A moy yang sedang mengeluarkan isi celananya.
"Tapi punyaku juga gundul loh, Sayang."
"Kalau punya Miss kan beda. Mau gundul atau rimbun, lubang Miss A moy tetap cantik dan aku suka."
"Bisa aja kamu, Sayang. Ya kalau kalau kamu nggak suka gundul, paling nggak ya dirapikan, Sayang."
"Ya nanti kalau pulang," balas Tito singkat.
A moy hanya tersenyum mendengar jawaban pemuda yang dia cintai. Dia bangkit dari rebahannya dan wajahnya mendekat ke arah isi celana Tito. "Nanti setelah bercinta, aku yang rapiin bulu kamu, Sayang."
"Terserah, Miss aja enaknya gimana," jawab Tito pasrah. Miss A moy kembali tersenyum. Tak lama setelahnya, lidahnya menjulur dan mulai menjilati isi celana Tito yang sudah menegang sejak beberapa menit yang lalu.
__ADS_1
"Aaakh ..."
...@@@@@@...