
Senyum bahagia tak lekas surut dari bibir dua pria yang seakan sedang berlomba untuk menyenangkan dua bocah kecil yang sedang duduk bersama mereka. Kedua pengusaha muda itu, bahkan dengan sangat semangat menyuapi bocah yang mereka rindukan dan mengabulkan segala permintaan dari sang bocah.
Di dilihat dari wajah dua bocah yang ada disana, bocah itu juga nampaknya sangat senang menikmati momen yang pastinya sangat mereka rindukan. Bahkan wajah takut yang sering mereka tunjukkan terhadap ayah mereka, berangsur menghilang dan berubah menjadi rasa bahagia karena bisa kembali dekat dengan ayah kandung mereka.
Kedua bocah itu juga tak henti hentinya berceloteh sembari menikmati hidangannya. Binbin dan Zoe sangat bersemangat membagikan cerita kepada ayah mereka, segala kegiatan yang dilakukan dua bocah itu, termasuk rasa bangganya bocah saat mengalahkan Samanta dan Eva.
"Binbin hebat kan, Dad? Bisa mengalahkan tante Eva," ucap Binbin dengan jumawanya meski mulutnya penuh dengan eskrim coklat.
"Zoe juga hebat, Zoe bisa melawan tante Samanta sampai jatuh," sahut Zoe tak kalah sombongnya.
"Tante Samanta sampai tersungkur, hidungnya keluar darah, hahaha ..." Binbin menimpali dan kedua bocah itu seketika terbahak bersama.
Dua ayah yang duduk disana juga ikut tertawa. Meski tidak sampai terbahak, tapi mereka senang menyaksikan apapun yang anak mereka lakukan.
"Benar, anak Daddy memang hebat," puji Darren kepada anaknya. "Sekarang mau makan apa lagi?"
"Udah kenyang, Dad, perut Zoe udah besar," jawab bocah itu sembari mengelus perutnya membuat sang ayah kembali tersenyum.
"Binbin mau nambah lagi nggak makanannya?" tawar William.
__ADS_1
"Binbin sudah kenyang, Dad. Binbin pengin main lagi," jawabnya, terus dia melongok ke arah meja dimana Tito dan Yoyo berada. "Om, Binbin main lagi boleh? Binbin pengin main sama Daddy?"
Seketika Tito dan Yoyo saling tatap. Mereka jelas saja bingung mau menjawab apa karena ini sudah sangat siang dan anak anak harus sudah ada di rumah. Takutnya kedua anak itu malah tidak tidur siang.
"Jangan khawatir, nanti aku yang bilang sama Mommy mereka," ucap Darren yang seakan mengerti kekhawatiran Tito dan Yoyo.
"Baik, Tuan," balas Yoyo canggung. Dia dan sahabatnya tentu tak punya pilihan lain selain menuruti permintaan ayah dari bocah yang mereka jaga.
Setelah selesai makan, mereka langsung kembali ke pusat permainan yang ada di sana. Kedua ayah itu seperti kembali ke masa kecil saat mengimbangi permainan bersama anak mereka. Bahkan tak jarang juga William dan Darren bertanding sebuah permainan, untuk menunjukkan kalau anak anak memiliki ayah yang sangat hebat.
"Horre! Daddy Zoe menang!" seru Zoe melompat kegirangan.
"Daddy hebat, kan?" ucap Darren dengan bangganya. Zoe langsung mengacungkan dua jempolnya.
"Tenang aja, Sayang. Kali ini Daddy pasti menang!" balas William dengan sangat yakin hingga sang anak kembali besemangat mendukung dirinya.
Pertandingan pun dilanjutkan. Hingga beberapa menit kemudian akhirnya anak anak kembali menikmati mandi bola. Entah kenapa, wahana mandi bola adalah wahana yang tepat untuk merehatkan para orang tua yang menemani anak anaknya bermain. Begitu juga yang dilakukan empat pria dewasa. Mereka memilih duduk di tempat yang sama, sembari mengawasi dua bocah yang sedang bermain perosotan di wahana mandi bola.
"Terima kasih, kalian telah membantu kami meluluhkan hati anak anak," ucap Darren tulus. "Tanpa bantuan kalian, mungkin anak anak selamanya akan terus membenci ayahnya."
__ADS_1
"Sama sama, Tuan," balas Tito. "Maaf, kami melakukannya dengan cara yang cukup lama."
"Tidak apa apa, kami mengerti. Justru kami sangat bersyukur. Berkat usaha kalian, anak anak menjadi tidak takut lagi pada kami," ucap Darren.
"Ngomong ngomong, bagaimana caranya tadi kalian bisa membujuk anak anak saat tahu kita ada disini?" tanya William.
Yoyo dan Tito sejenak saling pandang, lalu kembali menatap dua pria yang sedang ngobrol sama mereka. Dua pemuda itu lantas menceritakannya semuanya dari awal sampai saat mereka membujuk anak anak untuk memanggil ayahnya.
"Kami pikir kami tidak berhasil, tapi setelah terus terusan dibujuk, eh anak anak mau," terang Yoyo.
"Benar. Malah, Binbin duluan yang berteriak memanggil Tuan. Baru Zoe mengikutinya," sambung Tito.
"Kami telat menyadarinya. Kami pikir yang teriak itu anak orang lain jadi kami tidak menengoknya eh tahunya malah kejutan," jawab Darren sembari menatap ke arah anaknya yang sedang tertawa riang.
"Aku juga nggak nyangka. Nggak sia sia aku bolos kerja hari ini," William pun ikut bersuara. "Oh iya, uang transeran kami sudah masuk, kan?"
"Uang transfer? Maksud Tuan?"
"Ya ... aku dan Darren mentransfer uang sebagai tanda terima kasih karena kalian berkali kali menyelamatkan Zoe dan Binbin."
__ADS_1
Deg!
...@@@@@...