
"Ya ampun!" pekik Yoyo. "Berarti kalau begitu, kita ada kemungkinan akan menjadi pria pemuas enam majikan kita, To?"
Tito nampak mengangguk. "Bisa saja hal itu terjadi. Bagaimana? Apa kamu siap?"
"Gila!" seru Yoyo. "Apa aku mampu? Gimana cara bagi waktunya?"
"Hahaha ... udahlah. Bisa gila kita kalau mikirin hubungan ranjang majikan kita."
Kedua sahabat itu saling tertawa sebelum kembali melanjutkan ke cerita dan hal yang lainnya. Hingga beberapa saat kemudian, setelah lelah berbicara, dua pemuda itu lantas masuk ke hotel guna mengecek acara yang sedang ditangani majikan mereka.
Sementara itu di tempat yang sama, William dan Darren juga berada di antara tamu undangan pada acara pernikahan yang ditangani oleh A shang dan A zia. Mereka berdua menjadi tamu karena ini adalah acara pernikahan rekan bisnis mereka, baik dari pihak laki laki dan juga pihak perempuan.
William dan Darren pun tidak datang bersama. Mereka bertemu dan saling sapa saat mereka sudah berada di hotel tempat acara pernikahan itu berlangsung. William yang datang sedikit terlambat dari Darren, langsung menyapa tuan rumah dan rekan bisnis juga teman temannya. Melihat Darren yang ada disana, tentu saja William langsung menyapanya juga, dan sekarang mereka sedang terlibat pembicaraaan yang cukup pribadi di salah satu sudut meja yang ada di sana.
"Bagaimana perkembangan hubungan anda dan anak anda, Tuan Darren? Apa sudah ada perubahan yang lebih baikk?" tanya William disela sela obrolan bisnis mereka.
__ADS_1
Darren sontak tersenyum kecut. "Tidak ada yang dapat aku banggakan, Tuan William. Semua masih sama. Aku benar benar kehilangan sosok anakku," balas Darren dengan raut terlihat sedikit kecewa.
Mendengar pengakuan yang tidak mengenakan dari lawan bicaranya, William juga merasakan kegetiran yang sama. "Aku sendiri juga bingung, bagaimana cara mengembalikan perasaan mereka seperti dulu."
"Hahaha ..." Darren tertawa sumbang. "Banyak yang berpikir kalau kita pria pria yang hebat hanya karena bisnis kita yang maju pesat. Tapi nyatanya, kita gagal karena sebuah kesalahan yang seharusnya bisa dihindari."
William kembali tersenyum masam, lalu dia menyesap minuman berwarna ungu dari gelas kristal yang dia ambil saat dia hendak duduk bersama Darren. "Ya, ya, posisi CEO, ternyata tidak menjamin kalau kita itu orang yang sempurna. Buktinya, hanya gara gara seorang wanita, kita malah membuang sesuatu yang sebenarnya sangat berharga untuk kita, tapi kita Abai. Dan pada akhirnya kita terlihat bodoh karena hasutan wanita yang kita percayai dan prioritaskan."
Lagi lagi Darren tersenyum kecut. "Itu fakta kalau kita juga manusia yang tidak sempurna, Tuan William. Kita mungkin memang dituntut membuat kesalahan sebagai bahan pelajaran dalam perjalanan hidup kita. Tapi sungguh kehilangan anak karena kesalahan kita, benar benar pelajaran yang sangat berharga dalam hidup. Aku menyesal."
William terus memperhatikan orang itu, hingga dia menyimpulkan kalau orang itu tidak sedang bersama anaknya. "Tuan Darren, apa kamu mau ikut saya?"
Darren yang sedang melamun tentu sedikit kaget. "Ikut anda? Kemana?"
"Anda lihat di sana!" tunjuk William dengan matanya.
__ADS_1
Darren pun mengikuti arah pandang William. "Bukankah itu orang orang yang menjaga anak kita? Ngapain mereka disini?" tanya Darren agak terkejut.
"Sepertinya WO yang dipakai acara pernikahan ini, milik mantan istri kita. Tuh! Disana ada Nona A shang dan A zia."
"Ah iya, benar. Tapi sepertinya anak anak nggak ikut. Kalau ikut, mereka berdua nggak bakalan berada di sana. Apa mereka juga membantu mempersiapkan acara ini?"
"Sepertinya begitu," jawab William. "Apa anda tidak ingin ikut dengan saya?"
"Ikut kemana?" Darren masih nampak bingung. Pikirannya benar benar sedang kosong.
"Menemui mereka, Mungkin kita bisa minta bantuan dua orang itu untuk mendekatkan kita dengan anak anak. Bukankah mereka sangat dekat dengan Zoe dan Binbin?"
Kening Darren kembali berkerut. Namun tak lama setelah itu matanya sedikit melebar. "Benar juga ide kamu Tuan William. Baiklah, mari kita ajak bicara dua pria itu."
Sembari tersenyum, William pun mengangguk. Tak butuh waktu lama, bahkan di saat itu juga, keduanya langsung bangkit dari kursinya dan beranjak menuju ke arah Tito dan Yoyo.
__ADS_1
...@@@@@...