
"Miss, nggak jijik gitu? Jilatin isi celanaku?"
"Enggak, Sayang. Ini tuh enak tahu, To."
"Astaga! Aku tuh sampe sekarang masih heran loh, Miss. Miss A moy itu cantik banget, anggun dan berkelas. Tapi kok doyan makan isi celanaku. Aku pikir wanita cantik itu bakalan jijik memainkan punya pria dengan mulutnya."
A moy sontak tersenyum dan berhenti sejenak memainkan batang Tito dengan mulutnya. ,"Belum tentu kali, To. Aku sih yakin banyak wanita yang seperti aku. Masa barang enak begini pada nggak doyan?" ucap A moy lalu dia kembali menjilati pucuk isi celana Tito layaknya makan eskrim.
Tito malah tersenyum lebar dengan mata yang terus manatap wanita yang sedang lahap menikmati isi celananya. "Kalau dibandingkan dengan milik Tuan Darren, lebih gede mana, Miss?"
"Lebih gede punya kamu lah," jawab A moy kembali menghentikan kegiaatannya. "Kalau punya Darren itu, masuk semua ke dalam mulutku tapi nggak sampai tenggorokan. Punya kamu udah sampai tenggorokan saja, masih ada sisa."
"Beneran, Miss?"
"Benar, Sayang. makanya aku sangat senang bisa dimasuki punya kamu, gede, kayak full gitu di dalam lubangku."
"Ya udah, masukin aja, Miss. Takutnya kalau kelamaan nanti Zoe bangun gimana?"
"Oke, Sayang!" dengan semangat A moy melepas baju renang yang melekat pada tubuhnya. Setelah semunya terlepas, A moy membentangkan kakinya diantara tubuh Tito dan perlahan menurunkan badannya. Tangan kanannya memegang batang pemuda dibawahnya dan membimbing batang itu masuk ke dalam lubangnya pelan pelan.
"Aaaakhh ..."
rintihan nikmat yang panjang keluar dari mulut A moy saat batang milik Tito mulai memasuki lubangnya hingga benat benar mentok. Setelah batang Tito masuk semua ke dalam lubang nikmat, tubuh A moy terdiam sejenak. Dia mencondongkan tubuhnya di atas tubuh Tito. Keduanya saling melempar senyum. Tangan Tito bergerak, menyingkirkan rambut A moy yang menutupi sebagian wajahnya.
__ADS_1
"Miss A moy memang selalu cantik," puji Tito sambil mengusap lembut pipi wanita yang ada diatas tubuhnya. A moy sontak tersenyum dan mendekatkan bibirnya pada bibir Tito. Sambil melakukan perang bibir, pinggang A moy mulai bergoyang secara pelan dan bertahap.
Di saat Tito baru saja memulai bercintanya, di kamar lain, Yoyo malah sudah setengah jalan. Bahkan sekarang Yoyo dan A win sudah pindah tempat. Yoyo duduk dengan santai di atas sofa menikmati tubuh A win yang tubuh seksinya sedang bergerak naik turun di atas pangkuan Yoyo.
"Lubang Miss A win memang mantap, menjepit banget," racau Yoyo sembari sesekali melahap bukit kembar A win dengan rakus.
Senyum janda satu anak itu sontak saja terkembang mendengar pujian dari pria yang dicintainya. Apalagi A win tahu, Yoyo sangat suka dengan posisi seperti ini. Makin semangatlah janda itu melakukannya agar Yoyo merasa senang.
"Miss, sepertinya aku mau keluar."
"Keluarkan aja, Sayang."
Yoyo meriah tubuh A win ke dalam pelukanya. Dia mengambil alih gerakan yang dilakukan A win. Yoyo menyodok lubang A win dari bawah karena posisinya A win masih ada dipangkuannya. Dengan gerakan yang semakin cepat, Yoyo terus menyodok hingga tak lama setelahnya, kakinya menegang dan sedikit bergetar.
Crut!
Cairan putih nan kental memenuhi lubang nikmat milik wanita yang ada dipangkuannnya. Dengan nafas yang tersengal sengal, wajah yang sekarang berhadapan itu saling melempar senyum kemudia bibir mereka menempel dan saling memagut.
"Kamu hebat, Sayang. Kamu selalu bikin aku puas. Aku kekuar tiga kali tapi kamu selalu sekali doang."
Yoyo pun tersenyum lebar. "Miss juga hebat. Padahal Miss tahu, aku belum bisa menerima cinta Miss A moy, tapi Miss masih aja memberikan tubuh Miss untuk aku nikmati."
"Itu karena aku sangat sayang sama kamu, Yo. Kamu bisa memintanya kapan saja selama kamu ingin."
__ADS_1
"Makasih ya, Miss."
"Iya, Sayang."
Bibir keduanya kembali saling beradu.
Sementara itu di tempat lain. Tepatnya dari sebuah penjara, seorang wanita terlihat sedang berbicara dengan seorang pria paruh baya. Terlihat dari gerakan wajahnya kalau pembicaraan yang sedang terjadi itu sangat serius.
"Informasi apa yang akan kamu berikan? Sampai kamu berani memintaku datang kemari."
"Yang pasti informasi yang akan aku berikan sangat berguna untuk kejayaan perusahaanmu, David."
"Ayolah, Samanta, katakan saja. Nggak usah bertele tele kayak gitu. Aku nggak ada waktu."
"Asal kamu berjanji akan membebaskan aku dari penjara."
"Cih! memuakkan! Udahlah, mending aku pergi. Ngapain aku disini."
Pria bernama David itu segera saja bangkit dari duduknya. Tapi gerakan tubuhnya terhenti saat Samanta kembali bersuara.
"Aku tahu dimana kunci rahasia perusahaan Darren berada, David."
@@@@@@
__ADS_1