
Malam kini kian larut. Jam di ponsel telah menunjukan pukul dua puluh lebih tiga puluh menit. Di sana, di dalam salah satu kamar rumah yang sangat mewah, terlihat tiga orang berada di atas ranjang yang sama, sedang bercakap cakap layaknya keluarga.
Tiga orang yang terdiri dari majikan perempuan, anak majikan dan pembantu laki lakinya nampak sedang membahas sesuatu hal yang ringan sampai kadang suara tawa menyertai mereka. Majikan wanita dan pembantu pria berbaring miring dan berhadapan serta seorang bocah laki laki yang duduk di antara dua orang sembari menyandarkan tubuhnya pada tubuh pembantu pria.
Dari pandangan pembantu pria, dia tidak pernah menyangka, akan dihadapkan pada peristiwa seperti ini. Dia yang sama sekali belum pernah kepikiran untuk berumah tangga, tiba tiba merasa kalau dirinya sedang bersama istri dan anaknya. Sungguh khayalan pria itu semakin melambung tinggi dengan peristiwa itu, yang pastinya khayalannya adalah memiliki istri yang cantik seperti majikannya dan anak yang tampan seperti anak majikannya.
Bagi majikan wanita, dia juga tidak pernah menyangka akan menghadapi keadaan seperti ini dengan penjaga anaknya. Tapi berada dalam satu ranjang seperti ini membuat sang majikan cukup senang. Sang majikan merasa lebih nyaman bila berada di dekat penjaga anaknya sejak beberapa malam yang lalu.
"Jadi besok Om Tito pergi jauh?" pertanyaan itu terlontar dari anak kecil kepada sang Mommy.
"Iya, Sayang, cuma satu hari aja, nggak apa apa kan?" jawab A moy lembut.
"Terus Zoe main sama siapa?"
"Kan ada Pak li, Pak Yoko dan dua bapak satpam. Dulu sebelum ada Om tito, Zoe juga suka main sama mereka, kan?"
"Tapi kan mereka tidak bisa bela diri," rajuk Zoe sembari merebahkan tubuhnya menghadap Tito dan mengusap dagu pria itu.
__ADS_1
"Ya kan cuma sehari doang, Sayang. Kasihan Mommy A shang dan Mommy Zia nanti nggak ada yang bantuin. Kalau terjadi apa apa sama mereka gimana?" A moy masih berusaha membujuk anaknya. Tito sendiri hanya bisa diam sembari menepuk pelan tubuh bocah kecil itu beberapa kali.
"Tapi nanti om cepet pulang kalau sudah selesai ya," pinta anak itu dengan mata yang sudah terlihat mengantuk.
"Iya, Sayang. Begitu selesai, Om pasti pulang, sekarang Zoe tidur ya?" Tito kini yang bersuara. Tanpa memberi jawaban, Zoe langsung memejamkan matanya.
Hingga beberapa saat kemudain Zoe sudah terlelap. kini tinggal dua orang dewasa yang belum bisa memejamkan mata mereka karena belum ada rasa ngantuk. Bagi Tito, keadaan seperti itu justru membuatnya merasa canggung. Sedangkan bagi A moy, berdua bersama pria dihadapannya adalah hal yang cukup menyenangkan.
"To, kita rebahan di sofa aja yuk?" ajak A moy beberapa menit kemudian.
"Tapi nanti Zoe."
Mereka berdua segera bangkit dan beranjak ke atas sofa lalu Tito dan A moy merebahkan tubuhnya di atas sofa yang lumayan lebar. Sekarang A moy merebahkan kepalanya di dada bidang Tito dengan tangan melingkar di perut rata pemuda itu.
"Dada kamu memang tempat paling nyaman buat bersandar, To. Menenangkan," ucap A moy terlihat sumringah. "Kamu suka nggak? Dada kamu buat rebahan wanita?"
"Ya terganung, Miss," jawab Tito seakan sengaja mengundang rasa penasaran.
__ADS_1
"Kok tergantung?" tanya A moy sambil mendongak.
"Ya kalau yang rebahan wanita secantik Miss A moy, mana bisa aku nolak sih?" jawaban Tito tentu saja membuat A moy tersenyum lehar.
"Bisa aja kamu, To," ucap A moy. Karena merasa gemas, dia melayangkan cubitan pada pinggang samping pemuda itu.
"Aw!" pekik Tito kaget. "Sakit. Miss."
"Habis kamu sangat menggemaskan," balas A moy lalu dia melayangkan kecupan di pipi Tito dengan penuh perasaan. Hati Tito sendiri menghangat dan melambung tinggi di perlakukan seperti itu oleh seorang wanita. Kini mata mereka saling pandang. Bahkan tangan A Win ngusap usap pipi Tito dengan lembut.
"Nggak kerasa ya, To. Tiga hari lagi kamu gajian, berarti kamu sudah sebulan kerja disini. Gimana rasanya, To?"
"Rasanya ya seneng aja, Miss. Aku merasa beruntung kerja disini. Orang orangnya baik. Tidak membeda bedakan mana majikan mana pembantu. Itu sih yang buat aku betah, dan yang makin aku merasa beruntung, aku bisa memeluk dan bercinta dengan Miss A moy."
"Hahaha ... bisa aja kamu, To. menggemaskan." Tito hanya tersenyum lebar dan mata mereka masih saling memandang.
"Terus, To, sebagai laki laki, kamu pengin nggak memiliki aku atau Miss yang lainnya menjadi wanita yang spesial buat kamu?"
__ADS_1
Deg!
...@@@@@...