DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA

DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA
Berbicara Dengan Anak Kecil


__ADS_3

Akhirinya Tito dan Yoyo kini sedang dalam perjalanan pulang walau telat dari rencana awal. Niat hati begitu acara selesai mereka akan langsung pulang, tapi karena godaan nikmat dari majikan cantiknya, mereka menunda waktu kepulangan mereka hingga hampir dua jam lamanya.


Bagaimana mungkin mereka bisa menolak. Selain karena status Tito dan Yoyo yang hanya seorang pekerja, kedua pria itu juga tentunya tak mau menyia nyiakan tubuh seksi milik majikannya yang cantik cantik itu. Entah itu musibah atau anugerah, yang pasti mereka hanya mampu menjalaninya saja.


Meski hanya bermain satu Ronde, wajah mereka malah terlihat sangat lelah. Kalau bukan memikirkan anak anak, mungkin Tito dan Yoyo akan memilih menginap di hotel kembali meski harus berhubungan badan dengan majikannya beberapa ronde.


Beruntung, begitu sampai rumah, anak anak sudah terlelap, jadi Tito dan Yoyo memilih langsung menuju kamar mereka. Keduanya langsung saja menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang masing masing tanpa berganti pakaian terlebih dahulu. Karena rasa lelah yang sudah sangat mendera, akhirnya rasa kantuk cepat menghampiri mereka dan tak butuh waktu lama mata mereka akhirnya terpejam.


Waktu teus merangkak maju dan kini pagi telah menjelang.


"Om, bangun! Om!" suara rengekan anak kecil terdengar nyaring dan sangat berisik di telinga pemilik mata yang masih terlelap. Mau tidak mau, mata yang masih terpejam itu harus membuka matanya karena suara rengekan bocah yang terus menerus mengganggunya.


"Iya, Sayang," ucap orang itu kepada anak majikannya yang sudah duduk di samping tubuh yang sedang terbaring. "Ada apa? Hum?"


"Bangun, udah siang. Binbin pengin bela diri," cicit bocah lima tahun sambil terus menatap wajah pria yang menjadi penjaganya.


Pria itu meraih tubuh si bocah dan memeluknya serta merebahkan tubuh bocah itu di sebelahnya. "Emangnya Binbin nggak sekolah?"


"Inikan hari sabtu, Om," jawab bocah itu yang matanya terus menatap pria yang matanya masih terpejam meski sudah terbangun.

__ADS_1


"Oh iya! Kok Om bisa lupa ya?" ucap Yoyo dengan mata terbuka. "Ya udah nanti kita latihan bela diri, tapi setelah ngantuk Om hilang ya?"


"Oke!" jawab si bocah membuat pengasuhnya mengembangkan senyumnya dan langsung mencium pipi bocah itu dalam dalam.


Sejenak suasana menjadi hening. Yoyo menoleh sejenak ke arah ranjang sebelah dan ternyata Tito sudah tidak ada disana. Lalu dia kembali memejamkan matanya sambil mengusap bocah yang terdiam tenang di sisinya.


Di saat itu juga, Yoyo tiba tiba teringat pertemuannya bersama ayah si bocah. Dia pun masih ingat permintaan ayahnya Binbin yang memohon bantuan. Seketika Yoyo berpikir ini kesempatan untuk membujuk Binbin secara perlahan.


"Binbin," ucap Yoyo lembut.


"Hum? Apa, Om?" balas bocah itu sambil mendongak menatap wajah Yoyo.


"Binbin lagi mikirin apa? Kok diem?" tanya Yoyo yang memang merasa aneh melihat bocah itu terdiam dalam dekapannya.


"Astaga! Kamu pengertian sekali, Sayang," Yoyo lalu mencium pucuk kepala bocah itu. "Om pikir Binbin lagi mikirin Daddy."


"Tidak," jawab si bocah.


"Emang Binbin nggak kangen sama Daddy?" tanya Yoyo pelan, tapi mampu merubah raut wajah bocah lima tahun itu. Bahkkan pandangan mata Binbin langsung berubah arah. "Apa Binbin sangat membenci Daddy?"

__ADS_1


Binbin mengangguk. "Daddy sudah jahat sama Mommy."


"Kata siapa Daddy jahat sama Mommy?"


"Binbin melihat Daddy memukuli Mommy, Om. Bukanlah orang yang suka memukul itu jahat. Bahkan Mommy sampai masuk rumah sakit."


Yoyo mengusap kepala bocah itu. "Sebenarnya Daddy itu nggak jahat, Sayang. Dia pasti memukuli Mommy karena ada orang jahat yang pengin membuat Mommy dan Daddy berpisah."


Binbin kembali mendongak menatap wajah Yoyo. "Kata siapa, Om?"


"Ya kata Mommy. Daddy mukuli Mommy karena ada orang jahat yang sebenarnya. Orang itu tidak suka sama Mommy, jadi dia jahatin Mommy lewat Dady."


Binbin terdiam. Entah dia mengerti ucapan Yoyo atau tidak, tapi dillihat dari raut wajahnya sepertinya Binbin sedang berpikir. Yoyo lantas tersenyum dan kembali mencium pucuk rambut bocah itu.


"Anak yang baik itu anak yang mau memaafkan kesalahan orang tuanya, Sayang. Apa lagi berkat Mommy dan Daddy, Binbin ada di dunia ini. Binbin juga pasti ingat kan kalau Daddy itu sayang sama Binbin?"


Bocah itu mengangguk pelan. "Terus Binbin harus gimana, Om?"


Yoyo seketika tersenyum. "Kalau Om ngajak Binbin ketemu Daddy, Binbin mau nggak?"

__ADS_1


Kening bocah itu sontak berkerut dan wajahnya sedikit menunjukan rasa takut. "Bertemu?"


...@@@@@@...


__ADS_2