
"Miss."
"Hum? Apa, Sayang?"
"Aku boleh minta sesuatu nggak?"
"Minta apa, Sayang?"
"Aku boleh minta, berhubungan badan bertiga lagi nggak? Aku pengin main dua lawan satu lagi, Miss."
Wanita cantik yang sedang menyuapi pembantunya sontak tertegun. Gerakan tangannya bahkan sempat terhenti begitu mendengar permintaan pembantu tampan yang dia cintai. Namun keterkejutan itu tak berlangsung lama, Wanita yang statusnya sebagai majikan dengan predikat janda itu lantas tersenyum.
"Kamu suka kalau main bertiga?" tanya sang majikan sembari menyuapi puding yang tinggal separuh.
"Ya suka, Miss. Seru aja gitu," jawab si pembantu bernama Yoyo dengan penuh semangat.
Sang majikan kembali tersenyum. "Aku sih mau aja, Yo. Tapi nggak tahu si A shang mau lagi apa enggak. Lagian ada Miss A win juga kan? Nggak ada Binbin di rumah, pasti dia juga akan sibuk bersama kamu nanti."
"Oh iya yah, berarti nggak bisa ya, Miss?" tanya Yoyo dengan wajah yang berubah jadi kecewa
__ADS_1
"Bukannya nggak bisa, Sayang. Kan kita belum tanya sama A shang. Kalau aku sih mau banget asal kamu bahagia, Yo."
Di saat bersamaan, dua janda lainyya datang memasuki kamar Yoyo. "Yo, bisa pindah nggak, ke ruang kerja? Ada yang ingin kami bicarakan," ucap salah satu dari mereka.
"Bicarakan? Tentang apa, Miss?" tanya Tito yang wajahnya terlihat cukup terkejut.
"Ikut saja, nanti kamu juga bakalan tahu."
"Iya, Yo. Tito juga sudah ada di sana."
Mendengar nama sahabatnya disebut. Yoyo pun segera mematuhi permintaan majikannya dengan segala rasa penasaran yang menyeruak di dalam hatinya. Dia beranjak bersama tiga majikan itu menuju ruang yang letaknya tak jauh dari kamar Yoyo.
"Apa yang kalian ingin bicarakan, Miss? Kok kita kayak disidang?" tanya Tito sesaat kemudian ketika hening melanda sejenak.
"Kalian nggak perlu takut, kami hanya akan mengajak kalian bicara dari hati ke hati saja kok," balas A win karena melihat kegelisahan dua pemuda yang ada di hadapannya.
"Dari hati ke hati? Maksudnya?" tanya Tito yang semakin tak mengerti. Sedangkan Yoyo masih diam karena segala pertanyaannya telah diwakilkan oleh Tito meski tanpa perencanaan.
"Gini ya, Yo, To. Kami tuh sungguh sangat penasaran. Apa benar? Hati kalian itu sama sekali tidak ada cinta untuk kami? Kalian tahu kan, kalau kami ini jatuh cinta pada kalian, tapi kenapa hati kalian kok susah banget loh untuk kita raih?" tanya A moy langsung ke inti pembicaraan.
__ADS_1
"Iya, apa yang dikatakan A moy benar. Kata kalian kami cantik dan baik, tapi kok kalian nggak jatuh cinta sama kami? Apa kurangnya kami di mata kalian, Tito, Yoyo?" sambung A mey.
Dua pemuda yang ada di sana tentu saja merasa terkejut. Mereka bahkan memicingkan matanya mendengar apa yang dikatakan majikannya. Keduanya tidak langsung menjawab. Dari raut wajahnya terlihat jelas kalau mereka saat ini sedang berpikir.
"Sebagai laki laki, jujur aku sangat menyukai kalian," Tito mulai membuka suaranya. "Miss A moy, Miss A zia dan Miss A ling, adalah wanita pertama yang membuat hati aku bergetar hebat dan merasakan indahnya dicintai. Jujur, selain statusku di rumah ini sebagai apa, kecantikan kalian juga membuat aku bimbang dan ragu."
"Apa yang membuat kamu bimbang?" tanya A ling.
"Aku sudah pernah bilang, aku tidak mau mengecewakan kalian. Sekarang kalian bayangkan saja jika aku menerima cinta Miss A moy, pasti Miss A zia dan Miss A ling akan merasa sakit hati, bukan? Mungkin kalian bisa berkata kalau kalian baik baik saja, tapi aku yakin hati kalian pasti akan merasa sakit banget, benar, Bukan?"
Semua janda nampak terkejut mendengar jawaban Tito. Namun mereka juga membenarkan ucapan pemuda itu.
"Terus, kamu sendiri gimana, Yo? Apa kamu juga sepemikiran dengan ucapan Tito?" tanya A shang.
Dengan santai Yoyo mengangguk. "Ya kurang lebih jawabanku sama dengan apa yang Tito katakan. Kalian pasti tahu lah, rasanya ditolak cintanya itu seperti apa. Dan kalian juga pasti tahu gimana rasanya melihat pria yang kalian cintai bermesraan dengan wanita lain."
"Ya, kami tahu rasanya. Terus keputusan apa yang akan kalian ambil untuk cinta kami pada kalian?"
Tito dan Yoyo sontak saling pandang, lalu mereka saling melempar senyum penuh arti.
__ADS_1
...@@@@@@...