
Begitu toiletnya ketemu, Tito langsung saja masuk dan membuang apa yang sedari tadi dia tahan. Saat sudah tuntas, Tito segera saja merapikan diri dan keluar dari toilet tersebut. Betapa kagetnya Tito saat membuka pintu toilet, salah satu adik A ling berdiri sudah berdiri di sana.
"Hy kak, udah ke toiletnya," sapa adik pertama A ling dengan gaya centil khas anak remaja.
"Udah, mau pake ya? Silakan," ucap Tito agak gugup. Saat dia hendak keluar, lagi lagi Tito dibuat terkejut dengan tangan Adiknya A ling yang menghalangi langkahnya.
"Kenalan dulu dong, Kak. Masa mau pergi begitu aja," ucap adik A ling lagi tanpa basa basi, dan masih dengan gaya genit yang menggemaskan.
"Kenalan di luar aja ya? Nggak enak disini," tolak Tito. Selain tidak enak, Tito juga takut A ling dan keluarganya berpikir yang tidak tidak jika melihat Tito dan adik pertama A ling berada di dalam satu kamar mandi.
"Kenapa? Kakak takut?" tanya adik A ling sambil senyum senyum menggemaskan. "Apa yang kakak takutkan? Nanti malam aja Kakak tidur sekamar sama kak A ling?"
Tito bingung menjawabnya. Dia benar bena sangat gugup saat ini. Tito takut ada yang memergoki mereka. "Nggak kenapa? Kita keluar dulu aja ya?" jawab Tito berusaha bersikap tenang meski rasa gugup itu sangat mengganggunya dan sangat tidak nyaman dengan tingkah adiknya A ling.
__ADS_1
"Bilang aja kakak takut," tebak adik A ling. "Kalau kakak mau tidur satu kamar sama aku juga nggak apa apa. Aku masih segel loh, masih rapat, masih hot."
Tito terkesiap seketika. Tentu saja dia sangat terkejut mendengar ucapan adik A ling yang juga tak kalah cantik dengan kakaknya. Bukannya senang mendapat penawaran seperti itu, rasa gugup Tito justru semakin menjadi. Dengan cepat dia langsung keluar meninggalkan adik A ling tanpa kata sepatahpun. Adik A ling malah tertawa cekikikan melihat wajah pucat Tito.
Begitu Tito kembali ke ruang tamu, ternyata obrolan masih berlanjut. Hingga saatnya ayah A ling pulang, mereka masih ngobrol sampai menjelang malam. Tak lupa juga Tito diajak makan malam oleh keluarga A ling. Karena ada makanan yang tidak dimakan oleh Tito, ibunya A ling menyiapkan makanan khusus untuk pemuda itu.
Begitu malam menjelang, akhirnya Tito dipersilakan untuk segera istirahat karena mereka tahu Tito akan pergi keesokan harinya. Sungguh, Tito sangat canggung saat hendak memasuki kamar A ling. Meski sudah pernah berhubungan badan dengan wanita itu, tapi baru kali ini Tito menginap di rumah wanita yang ada orang tua dari wanita itu.
"Ini aku nggak apa apa tidur di sini?" tanya Tito setelah memasuki kamar A ling sembari memperhatikan ke segala penjuru kamar.
"Bukannya gitu, kita kan belum menikah, kok orang tua kamu ngijinin gitu, pria asing tidur di kamar anaknya?"
A ling sontak tersenyum. "Mungkin karena mereka pikir, kamu pacar aku kali, To. Lagian aku juga sudah lama nggak bawa laki laki ke rumah. Bagi orang tuaku, jika anak mereka membawa lawan jenis ke rumah, itu tandanya hubungan anak anaknya sangat serius. Makanya kita dibolehin satu kamar."
__ADS_1
Setelah memilih lingeri lama yang tergantung di kamarnya, A ling mulai melepaskan pakaiannya satu persatu. Namun saat tersisa kain kecil penutup bukit kembar dan segitiga bermuda yang menempel di bawah perutnya, A ling malah beranjak dan mendudukan tubuhnya di atas pangkuan Tito.
Tito sontak saja terhenyak. Meski dia sudah memperkirakan hal ini akan terjadi, tetap saja rasa grogi dan canggung masih ada dengan keadaan yang sedang dia alami saat ini. Apalagi posisi dada A ling yang menghadap wajahnya, benar benar posisi yang sangat menantang dan juga meresahkan.
"Besok, adik adik kamu, ikut kita piknik?" tanya Tito untuk mengurangi rasa gugupnya.
"Nggak lah, enak aja. Besok itu acara kita berdua. Ngapain ngajak orang lain?" ucap A ling agak lantang sembari meraih kedua tangan Tito dan meletakannya di kedua bukit kembarnya. Tato tahu apa yang harus dia lakukan saat itu. Jari jari Tito langsung bekerja, memijat pelan pelan bukit kembar yang sangat indah dan kenyal.
"Tapi perasaan, tadi mereka maksa untuk ikut?" tanya Tito setelah tangannya. bergerak aktif memainkan bukit kembar wanita yang duduk di pangkuannya.
"Nggak bakalan aku ijinin. Enak saja. Lagiankan besok itu acara kencan kita, To. Apa kamu nggak suka kencan sama aku?"
Deg!
__ADS_1
...@@@@@...