
"Erik, bagaimana dengan gantungan kunci itu? Apa kamu belum bertindak juga?"
"Ah iya, maaf, Tuan. Karena terlalu padatnya jadwal Tuan Darren dan juga keluarga saya, saya sampai lupa soal itu."
"Astaga! Kamu ini! Kamu tahu, kan? Betapa pentingnya isi gantungan kunci itu?"
"Hehehe ... maaf, Tuan. Saya tahu. Baiklah, saya akan mencoba secepatnya untuk menemui pengawal Tuan muda Zoe dan meminta gantungan kunci itu kembali."
Darren pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Tanpa dia sadari ada seseorang yang tak sengaja menguping pembicaraan Darren dan asistennya.
"Gantunagn kunci yang berada di tangan pengawal Zoe? Wah!" Orang itu langsung menyeringai dan berbalik badan hendak meninggalkan tempat itu. Namun saat orang itu baru saja memutar badan, mata orang itu seketika membelalak melihat kedatangan seseorang yang dia kenal.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya orang itu dengan sinisnya.
"Bukan urusan kamu!" jawab orang yang baru datang dengan wajah terlihat penuh amarah.
"Eh sudah pasti ini urusanku! Ini wilayah kerja aku!" sergah orang itu. "Mau apa kamu kesini!?"
"Oh jadi Darren masih mempertahankan kamu menjadi sekretarisnya? Dasar munafik!" maki orang itu lalu dia berteriak. "Darren! Keluar kamu!"
Dari dalam kantor, Darren dan Erik dibuat terkejut saat mendengar suara teriakan dari luar kantor.
"Tuan, sepertinya ada Miss A moy, diluar?"
"Iya, Rik. Aku juga mendengarnya. Coba kamu cek keluar," balas Darren.
"Baik, Tuan!" Erik pun segera saja berdiri. Namun sebelum dia melangkah, A moy sudah berhasil menerobos masuk dan langsung mendekat ke arah Darren yang berdiri dengan tatapan terkejut.
__ADS_1
"A moy? Ada ap ..."
Plak!"
Tangan A moy langsung mendarat di pipi Darren hingga semuanya dibuat terkejut.
"A moy!" pekik Darren dengan wajah kebingungan.
"Apa! Hah!" bentak A moy penuh dengan amarah. "Apa kamu belum puas membuat Zoe ketakutan? Apa kamu belum puas membuat Zoe trauma sampai kamu menyuruh orang untuk menculik Zoe? Hah! Belum puas kamu!"
"Apa! Menculik Zoe? Siapa ..."
"Nggak usah pura pura tidak tahu kamu, Darren! Sekarang Zoe sedang ketakutan dikantor polisi gara gara anak buah kamu, sialan!"
"Moy! Aku tidak pernah nyuruh orang manapun," Darren berusaha membela diri.
"Serius, Moy! Aku tidak melakukan apapun!"
"Kamu pikir aku percaya! Bahkan kamu berjanji akan memecat Samanta tapi mana buktinya? Dia masih kamu pertahankan menjadi sekretaris kamu bukan?"
Darren terperangah. Dia sampai tidak bisa berkata apa apa untuk menyangkalnya. Meskipun keadaannnya tidak seperti yang A moy lihat, tapi Darren kali ini tidak bisa membela diri karena A moy pasti sudah sangat tidak percaya.
"Jika sampai terjadi apa apa pada Zoe, kamu orang pertama yang akan aku habisi, Darren!"ancam A moy penuh penekanan, lalu dia pergi dengan segenap amarah yang ada.
"Brengsek! Siapa yang bisa memfitnahku seperti ini!" ucap Darren penuh emosi. "Erik! Cari tahu orang itu dan beri mereka pelajaran yang setimpal!"
"Baik, Tuan!" balas Erik. "Tapi, Tuan. Apa boleh saya mengatakan sesuatu?"
__ADS_1
"Apa?"
"Saya sudah bilang, pecat Samanta secepatnya, tapi anda malah tetap diam. Sekarang anda lihat sendiri, Nyonya A moy semakin tidak mempercayai anda karena masih mengijinkan Samanta kerja disini. Apa anda juga akan membiarkan anak anda terus terusan membenci anda karena masih menyimpan wanita itu?"
Deg!
Lagi lagi Darren dibuat terpengarah mendengar penuturan Erik. Dia benar, harusnya sedari dulu dia menyuruh Samanta pergi. Darren berpikir dengan tetap membiarkan Samanta kerja bersamanya, tidak akan menimbulkan masalah. Tapi nyatanya langkah Darren salah. Wajar saja jika A moy sangat tidak percaya.
"Baiklah, Rik. Urus segera pemecatan Samanta. Biarkan dia mencari pekerjaaan di tempat lain."
"Siap, Tuan!"
Sementara itu di meja sekretaris, Samanta justru sedang dibuat panik. Bukan karena dia mendengar percakapan pemecatannya, tapi dia mendengar kemarahan Darren yang akan memberi pelajaran pada orang yang telah berusaha menculik Zoe. Wajar jika samanta sangat panik, karena Samantalah otak dibalik penculikan tersebut. Samanta benar benar panuk sampai berguman sendiri.
"Sepertinya aku harus kabur secapatnya. Bisa gawat kalau aku tetap berada disini."
"Samanta? Kamu kenapa?" tanya Erik begitu keluar dari kantor dan melihat Samanta seperti orang panik dan berbicara sendiri.
"Eh, em ... nggak kenapa kenapa kok, Rik," kenapa emangnya?" jawab Samanta dengan suara agak terbata.
"Oh kirian kamu kenapa," balas Erik, lalu dia meneruskan langkahnya. Namun langkah kaki Erik dan dia kembali melangkah mundur ke hadapan Samanta.
"Apa kamu sedang ingin kabur karena telah gagal menculik Tuan muda Zoe?"
Deg!
...@@@@@@...
__ADS_1