
"Ya sudah karena kamu sudah meminta maaf, baiklah aku maafin. Tapi dengan satu syarat."
"Syarat?" kening Tito berkerut.
A ling mengangguk cepat. "Sekarang kamu dansa lagi dengan aku, mau?"
Tito sontak membelalak mendengar syarat yang diajukan A ling. Nafasnya tiba tiba terasa sesak dan badannya merasa panas meski ruangan itu menggunakan AC. Di tengah kepanikan yang melanda jiwanya, Mata Tito membeliak melihat gerakan A ling yang tiba tiba membuka kancing bajunya secara perlahan dengan gaya sensual dan sangat mengoda, membuat Tito merasa kesulitan menelan salivanya.
Batin Tito bertarung. Di satu sisi dia ingin berpaling, tapi di sisi yang lain matanya ingin terus memandangi A ling yang sedang membuka dan melepas baju kerjanya. Tito benar benar dibuat gelisah di dalam situasi seperti ini.
Setelah baju terlepas, kini A ling berdiri dan melepas rok sepanjang lutut dengan gaya yang membuat Tito semakin kelimpungan. Nafas Tito benar benar terasa sesak karena rasa dalam dadanya bergejolak dengan dahsyat.
Kini A ling hanya memakai penutup dada dan penutup lubangnya dengan kain yang sangat tipis. A ling beranjak menuju ke hadapan Tito." Ayo kita dansa," ajaknya sambil meraih tangan Tito.
Mau tidak mau, Tito pun berdiri dan mengikuti langkah A ling dengan perasaan tak karuan. Sebelum dansa, A ling memilih lagu yang super lembut dan setelahnya, A ling meminta Tito memeluknya dari belakang. Mereka pun mulai bergerak mengikuti irama yang ada.
Hingga beberapa saat kemudian, Tito kembali dibuat terkejut saat tangan kanannya di genggam oleh A ling dan diarahkan ke bawah perut dan jarinya dimasukkan ke dalam kain yang menutupinya.
__ADS_1
"Miss, ini ..."
"Sentuh saja. Lakukan sesukamu agar kamu tidak penasaran lagi."
"Tapi, Miss? Ada cctv?" ucap Tito.
"Oh iya," A ling langsung meraih ponsel yang dia taruh di dalam tas kerjanya. A ling mematikan cctv khusus ruangan itu. "Udah aman."
"Terus kalau Zoe bangun gimana?"
Mau bagaimana lagi, Tito tidak memiliki pilihan lain selain menuruti perintahnya. Dengan bimbingan tangan A ling, kini kedua tangan Tito berada di tempat yang berbeda. Tangan kanan berada di bawah perut dan tangan kiri berada di dada A ling. Jari jari Tito juga tak diam saja. Dia mulai memainkan jari jarinya hingga wanita di hadapannya mengeluarkan rintihan.
A ling yang tubuhnya merindukan sentuhan seorang pria, tentu saja hasratnya langsung naik ke ubun ubun. Kulit kasar yang membungkus telapak tangan Tito menghadirkan sensasi berbeda yang pernah A ling rasakan dari mantan suaminya yang tangannya cenderung halus. A ling menggeliat tak beraturan.
Tangan A ling bergerak menurunkan penutup dadanya agar Tito lebih leluasa dalam memainkan benda kembar yang bergelantung indah. A ling juga menurunkan underwearnya agar permainan jari tangan Tito bisa bebas bergerak. Setelah itu A ling meraba celana Tito.
"Punya kamu sudah sangat menegang, To," ucap A ling dengan suara yang amat berat karena hasrat yang sudah meninggi. Tito hanya tersenyum sambil terus melancarkan aksinya.
__ADS_1
Tiba tiba A ling memutar badan hingga menghadap Tito kemudian mereka saling tersenyum lalu A ling menyerang bibir Tito. Awalnya Tito terdiam tapi dia ingat ciumannya dengan A moy, Tito pun langsung menggerakkan bibirnya. Tangan A ling dengan lincah membuka celana Tito. Pemuda itu hanya pasrah dengan tangan yang kini berada di dada A ling semua.
"Waw, gede banget, agak hitam dan sangat berurat," ucap A ling penuh kekaguman. Meski cahaya di sana remang remang, tapi A ling bisa melihat sembari merasakan isi celana Tito yang keluar dari dalam celana.
Lagi lagi hanya senyum yang bisa Tito tunjukan sebagai jawaban atas ucapan A ling. Wanita itu terus menggerakan tangannya di batang Tito. Tak lama kemudian A ling menurunkan tubuhnya dan dia berdiri menggunakan lutut lalu mulutnya mulai menciumi semua yang ada di bawah perut Tito. Perlahan tapi pasti A ling mulai menjilati batang Tito hingga akhirnya dia melahapnya.
"Akhh ... Sssth ... ough ..." mulut Tito mulai meracau.
Hingga beberapa menit kemudian, "Sekarang sodok lubangku dengan batangmu ya, To?"
"Nanti kalau Zoe bangun gimana?"
"Nggak bakalan, Ayo!" A ling memaksa, dia berdiri dan menarik batang Tito menuju Sofa. A ling kemudian berbaring dan langsung menelantangkan kedua kakinya. "Masukkan sekarang, Sayang. Lubangku sudah sangat merindukan batang laki laki yang asli."
"Baik, Miss," dan Tito langsung menuruti permintaan A ling.
...@@@@@...
__ADS_1