DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA

DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA
Tragedi Sebelum Mandi


__ADS_3

"Zoe nunggu disini, Om mandi di sini aja. Om nggak mau ada yang nuduh Om," ucap Tito kesal. Dia langsung berjalan menuju ke kamar mandi yang ada di kamar A moy tanpa membawa handuk. Sedangkan A moy diam diam tersenyum senang dan penuh kemenangan.


Sambil menunggu Tito mandi, Zoe meminta kepada sang Mammy ke kamar sebelah untuk bermain game. A moy pun mengiyakan. Di saat Ibu dan anak pindah ke kamar sebelah, Tito berteriak memanggil Zoe dari kamar dalam kamar mandi meminta dikirimi handuk karena lupa membawanya.


"Astaga! Masa nggak ada yang dengar?" tanya Tito kepada dirinya sendiri. "Zoe! Om ambilin handuk, dong!" Tito mencoba berteriak lagi dengan membuka pintu kamar mandi sedikit. Tapi tetap saja tidak ada sahutan dari dalam kamar.


"Apa mereka keluar kamar?" Tito bertanya tanya lagi dalam hatinya. Perlahan Tito melongok dari celah pintu kamar yang terbuka sedikit dan mendapati kamar memang sepi. Karena merasa tidak ada seorangpun, Tito perlahan keluar kamar mandi untuk memastikan keadaan. Padahal saat itu, sudah tidak ada kain selehaipun yang menempel di tubuh pemuda itu.


"Bener nggak ada orang. Duh, mana nggak ada handuk lagi," gumam Tito begitu keadan kamar A moy sepi. Lalu dia berinisitiaf menuju ruang kecil tempat dimana lemari pakaian ada di sana. Dia pernah melihat A moy mengambil handuk di sana saat pertama kali Tito mandi di kamar itu.


"Handuknya sebelah mana ya?" tanya Tito sambil memandang dua lemari besar di hadapannya. Saat dia sedang bingung di depan lemari, Tito dikejutkan oleh suara yang tiba tiba datang dari arah belakangnya.


"Lagi ngapain disini?"


Tito seketika menoleh dan betapa terkejutnya dia saat melihat A moy sudah berdiri tak jauh dari keberadaaannya. Tito langsung menutup benda yang mengantung lemas di bawah perutnya dengan dua telapak tangannya.


"Cari handuk, Miss," jawab Tito agak gugup.

__ADS_1


"Ngapain ditutup pakai tangan? Udah pernah menikmatinya juga," sindir A moy sambil melangkah menuju ke salah satu lemari yang ada disana.


"Malu, Miss," jawab Tito sambil bergeser ke depan lemari yang lain.


"Sama aku malu, tapi sama A ling dan A zia mau," sindir A moy dengan nada ketus sembari membuka lemari dan membungkuk mengambil handuk.


"Astaga! Jadi Miss mau lihat? Nih!" seru Tito sambil membuka kedua tangan yang menutupi barang kesukaan wanita itu.


"Ogah," Tolak A moy. "Percuma kalau ngasih lihat tapi terpaksa."


"Nggak mau!" A moy masih menolaknya meski di dalam hatinya dia sangat merindukan benda indah milik pemuda itu.


Tito yang merasa kesal berinisiatif meraih tangan A moy yang sedang memegang handuk. Handuk itu Tito rebut dan dilempar ke sembarang arah lalu Tito dengan paksa mengarahkan tangan A moy ke bawah perutnya secara paksa. Pembantu kurang ajar bukan?


A moy yang masih dalam pengaruh rasa gengsi, mengepalkan tangannya saat benda milik Tito menempel pada kulit jari jarinya. Tapi lam kelamaan rasa gengsi itu memudar saat A moy merasakan benda milik Tito sudah mulai menegang.


"Kenapa malah tegang gitu?" tanya A moy sambil perlahan membuka kepalan tangannya dan menggennggam batang Tito.

__ADS_1


"Ya nggak tahu," jawab Tito ketus. Padahal dalam hatinya dia mengumpat saat melihat dan merasakan tangan A moy mulai menggenggam dan memainkannya pelan pelan. "Orang pengin aja pakai marah marah segala! Sok jual mahal!" umpat Tito dalam hati.


"Nggak dimasukin ke dalam lubang, Miss?" tanya Tito beberapa menit kemudian saat A moy sedang menikmati batang Tito pakai mulutnya.


"Tumben, kamu yang minta?" tanya A moy sembari mendongak sejenak menatap Tito. "Biasanya juga aku yang minta dimasukin."


"Ya kan mumpung ada kesempatan," balas Tito dusta. Padahal dia juga jadi pengin masuk ke dalam lubang gara gara ulah majikannya.


"Jangan!" tolak A moy. "Nanti malam aja sampai puas. Zoe lagi nungguin, nanti kelamaan nunggu malah dia masuk ke sini lagi."


"Ya udah," ucap Tito mengalah. Lagian ucapan A moy ada benarnya. Akhirnya Yoyo pasrah saja saat janda cantik itu menikmati batang yang sudah sangat tegang dengan lahapnya seperti menikmati makanan yang sangat enak.


Sedangkan di dalam mobil, Yoyo masih saja di diamkan oleh A win hingga saa ini. Yoyo benar benar tidak nyaman dengan sikap A win yang masih marah kepadanya. Hingga pulang jalan jalan bersama Binbin, belum ada tanda tanda kalau A win marahnya hilang.


"Apa yang harus aku lakukan agar Miss A win berhenti marah?" tanya Yoyo dalam hatinya.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2