DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA

DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA
Sebuah Misi


__ADS_3

Grep!


A win terkejut saat merasakan ada tangan yang memeluk perutnya dari belakang.


"Apa yang kamu lakukan, Yoyo?" tanya A win dengan suara pelan.


"Maunya Miss A win, apa yang harus aku lakukan agar Miss tidak marah lagi?"


"Nggak tahu," jawab A win ketus, padahal hatinya senang sekali saat ini.


Berbeda dengan Yoyo, meski dia senang tapi ada misi yang harus dia temukan jawabannya. Dia ingin membukikan kalau para janda disini memang hanya menginginkan isi celananya saja tanpa ada rasa cinta.


"Masa Miss nggak tahu?" tanya Yoyo yang tangannya mulai bergerak perlahan ke bawah dan berhenti tepat pada tempat nikmat yang ada di bawah perut A win dan mengusapnya.


"Orang nggak tahu," jawab A win dengan pasrah saat tangan Yoyo mulai meraba daerah bawah perutnya. Kini A win juga merasakan tangan Yoyo perlahan menarik baju yang dia kenakan ke atas hingga tangan Yoyo berhasil menyetuh kulit lubang nikmat A win tanpa halangan.


"Yakin nggak tahu?" Yoyo masih terus menekan A win. hingga wanita itu merubah posisi tidurnya menjadi telantang menghadap wajah Yoyo yang miring. Kedua kaki A win sedikit membentang agar memudahkan tangan Yoyo bermain di dalam lubang nikmat miliknya.

__ADS_1


"Lagian kalau aku ngomong juga pasti kamu akan menolak," balas A win. Meski ucupannya sudah agak tidak ketus tapi cukup membuat Yoyo merasa tersindir.


Yoyo pun tersenyum. Tangan Yoyo yang sedang bermain di bawah perut A win bergerak menyusuri tubuh wanita yang ada di hadapannya hingga sampai pada tali baju yang ada di pundak A win. Yoyo menurunkan tali baju itu dari pundak A win hingga baju A win bagian atas kini sudah turun dan berada di bawah perut. Setelah itu tangan Yoyo meraih satu persatu bukit kembar A win dan memainkannya.


"Tumben kamu inisatif lebih dahulu melakukannya, Yo. Tadi aja aku ngajak main kamu tolak mentah mentah," dumel A win sambil menikmati sentuhan tangan pemuda itu di dadanya.


"Ya demi memuluhkan hati Miss A win agar nggak marah lagi," balas Yoyo sambil cengengesan, lalu kepalanya bergerak ke arah dada A win dan mulai memainkn bukit kembar dengan muiutnya.


Diam diam A win tersenyum senang penuh kemenangan. Setidaknya marahnya kali ini berguna dan bisa membuat Yoyo kewalahan dan merasa bersalah. A win pun tak bisa berkata kata lagi, hasratnya sudah terlanjur naik oleh apa yang dilalukan Yoyo.


Puas memainkan tubuh majikannya, kini giliran A win mengajak Yoyo pindah ke sofa dan dia mulai beraksi memanjakan Yoyo dengan sentuhannya. Pakaian Yoyo dilucuti satu persatu. Setelah semuanya terlepas, dengan rakusnya A win menikmati batang Yoyo yang sudah sangat menegang. Sementara Yoyo duduk santai bagai seorang raja di atas sofa.


"Akhhh ..." rintihan A win menggema ke segala penjuru kamar, karena rasa nikmat yang mulai dia rasakan di dalam lubang miliknya. Setelah yakin semua batang Yoyo masuk tanpa sisa, Perlahan tapi pasti, A win mulai menggerakan badan langsingnya naik turun di atas pangkuan pemuda yang sangat menyukai posisi ini sejak mengenal berhubungan badan.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di sebuah club malam, terlihat seorang wanita bergaun merah nan seksi nampak sedang menikmati minuman beralkohol. Wajahnya terlihat frustasi saat itu. Mungkin wanita itu sedang dilanda masalah yang cukup berat.


Tak jauh dari sana, di tempat yang sama juga, seorang wanita juga terlihat tampak sedikit kacau. Wanita itu sedari tadi memperhatikan wanita bergaun merah yang sedang duduk menyendiri di pojokan. Wanita itu merasa kenal dengan wanita bergaun merah yang ada disana. Dia berinisiatif mendekat dan ingin menyapanya.

__ADS_1


"Hai nona, bukankah anda yang bernama Eva?" sapa wanita itu kepada wanita bergaun merah yang belum terlihat mabuk.


Wanita itu mendongak dan keningnya mengernyit. " Apakah Anda Nona Samanta?"


Wanita itu tersenyum. "Wah! Ternyata anda masih mengenali saya. Boleh saya duduk disini?"


"Tentu saja boleh," balas Eva mempersilakan. "Kenapa anda sendirian? Mana Tuan Darren?"


Wanita bernama Samanta itu tersenyum kecut. "Kita sudah tidak bersama," ucap Samanta. "Lalu kenapa anda tidak bersama Tuan Willliam?"


Eva pun juga tersenyum. "Kita satu nasib. Aku sudah tidak bersama William lagi."


"Loh, kenapa? Bukankah kalian akan menikah?" tanya Samanta terkejut.


"Gagal, semua berantakan karena anak dan mantan istrinya."


Kening Samanta berkerut lalu dia tersenyum. "Sepertinya nasib kita sama. Bagaimana kalau kita bekerja sama mengancurkan mereka semua?"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2